September 30, 2026
JL. SULTAN ALAUDDIN NO. 259, Kec. Rappocini, Gunung Sari, Kota Makassar, 90221
Berita Utama

Unismuh Jadi Lokasi Pendampingan InCAMP Kemendiktisaintek, Dosen Dikawal hingga Artikel Internasional Terbit

UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Publikasi ilmiah internasional tidak cukup dikejar melalui pelatihan singkat. Dosen membutuhkan pendampingan sejak menulis artikel, memilih jurnal, melakukan submission, hingga menghadapi proses telaah sejawat atau reviewer.

Pendekatan itulah yang diterapkan dalam Inclusive Publication Camp (InCAMP) 2026. Setelah menjalani pendampingan selama lebih kurang empat bulan, peserta Batch 1 kini memasuki tahap monitoring dan evaluasi yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, pada Rabu hingga Kamis, 30 September – 1 Oktober 2026.

Ketua Tim Artikel Ilmiah Direktorat Bina Talenta Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Muhammad Husni Tamrin, mengatakan, InCAMP 2026 merupakan pengembangan dari proyek percontohan yang dilaksanakan pada 2025.

Pada tahun lalu, program tersebut masih difokuskan untuk peserta dari Indonesia Timur dengan satu batch yang terdiri atas 40 peserta. Dari program percontohan itu, sejumlah peserta kemudian berhasil menerbitkan artikel ilmiah di jurnal internasional.

Tahun ini, pendampingan dilakukan lebih intensif. Per 25 September 2026, dari peserta Batch 1 tercatat 33 orang masih berada dalam proses penulisan artikel. Sebanyak sembilan peserta telah melakukan submit, empat artikel berada pada tahap under review, dua telah dinyatakan accepted, dan dua artikel sudah terbit.

Menurut Husni, capaian tersebut menjadi bagian dari proses panjang yang harus dilalui peserta. Selama pendampingan, dosen tidak hanya dituntut menghasilkan naskah, tetapi juga menghadapi dinamika akademik mulai dari menjaga konsistensi menulis hingga merespons komentar reviewer.

“Harapannya tetap teman-teman bisa semangat sampai terus ke puncak publish, mulai dari Q1 sampai dengan Q4. Harapannya bisa di Q1,” ujar Husni.

Ia mengatakan, dinamika pendampingan selama empat bulan cukup beragam. Ada peserta yang harus membagi waktu dengan tugas-tugas tridarma perguruan tinggi. Sebagian lainnya mengalami penurunan semangat atau sulit dihubungi selama proses pendampingan. Karena itu, monitoring tidak semata-mata diarahkan untuk mengevaluasi hasil akhir, tetapi juga memastikan proses penulisan terus berjalan.

Target akhir program tersebut adalah seluruh peserta mampu melakukan submit artikel pada jurnal internasional Q1 hingga Q4. Bukti submission juga menjadi salah satu persyaratan peserta untuk memperoleh sertifikat program.

Bukan Sekadar Workshop

Wakil Rektor I Unismuh Makassar Prof Dr H Andi Sukri Syamsuri, MHum menilai model pendampingan seperti InCAMP penting karena persoalan publikasi tidak selesai hanya dengan memberikan materi penulisan kepada dosen.

Ia mengenang pengalamannya ketika pendampingan publikasi belum tersedia secara luas. Saat itu, dosen kerap harus mencari sendiri arah publikasi, termasuk menentukan jurnal yang sesuai dengan artikel yang telah ditulis.

Menurut Prof Andis, sapaan akrab Warek I, proses tersebut kerap terasa seperti “meraba dalam hutan yang sangat gelap”. Melalui pendampingan, dosen dapat memperoleh arahan mengenai kualitas naskah sekaligus jurnal yang tepat untuk menjadi tujuan publikasi.

Pendampingan publikasi, lanjutnya, tidak hanya berdampak kepada individu dosen. Peningkatan jumlah dan kualitas publikasi juga berpengaruh terhadap pengembangan sumber daya manusia, akreditasi, hingga pemeringkatan perguruan tinggi.

“Selain berdampak bagi mereka, bagi dosen juga sangat berdampak bagi institusi, universitas, baik itu dalam akreditasi, pemeringkatan, dan banyak hal,” kata Prof Andis.

Pandangan serupa disampaikan Ketua Tim Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Inovasi Perguruan Tinggi LLDIKTI Wilayah IX Dr Mustakim, SSos, MSi.

Ia menilai pola peningkatan kemampuan publikasi yang hanya mengandalkan workshop satu atau dua hari memiliki keterbatasan. Setelah melihat pola InCAMP, LLDIKTI Wilayah IX berencana meningkatkan sistem pendampingan publikasi yang selama ini dijalankan.

Mustakim mengatakan, manfaat pendampingan tidak boleh hanya diukur dari satu artikel yang berhasil diterbitkan. Pengalaman menulis, menentukan jurnal, melakukan submit, hingga merespons hasil telaah dapat menjadi bekal yang digunakan kembali pada publikasi berikutnya.

Desain monitoring InCAMP di Unismuh Makassar pun diarahkan pada kebutuhan praktis tersebut. Peserta mendapatkan materi persiapan submit ke jurnal, monitoring perkembangan artikel, pendampingan kelompok, serta pembahasan studi kasus cara merespons reviewer dari perspektif bidang teknik dan ilmu sosial.

Dengan pola tersebut, publikasi internasional tidak lagi ditempatkan sebagai hasil dari sebuah workshop sesaat. Prosesnya dikawal hingga artikel benar-benar bergerak dari meja penulis menuju meja editor jurnal, memasuki proses telaah, dan pada akhirnya terbit.