UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menjadi tuan rumah Pelatihan Instruktur Nasional (PINAS) Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) Wilayah Sulawesi Selatan dan Regional Indonesia Timur. Pembukaan kegiatan dijadwalkan berlangsung Jumat, 25 September 2026, di Kampus Unismuh Makassar. PINAS dijadwalkan berlangsung hingga Ahad, 27 September 2026.
Menjelang pembukaan, panitia mematangkan seluruh persiapan melalui rapat yang digelar di Ruang Rapat Senat, Lantai 17 Gedung Iqra, Kampus Unismuh Makassar, Kamis, 24 September 2026.
Wakil Rektor III Unismuh Makassar Dr KH Mawardi Pewangi, yang memimpin rapat persiapan, mengatakan bahwa kepercayaan menempatkan Unismuh sebagai tuan rumah PINAS merupakan bagian dari komitmen kampus dalam mendukung penguatan perkaderan Muhammadiyah, khususnya di kawasan Indonesia Timur.
“Bagi Unismuh, ini bukan sekadar menjadi tuan rumah. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kampus ikut mengambil peran dalam menyiapkan instruktur-instruktur Muhammadiyah yang kuat secara ideologi, terampil mengelola perkaderan, dan mampu menjawab kebutuhan Persyarikatan ke depan,” ujar Mawardi.
PINAS diselenggarakan Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kegiatan mengusung tema “Instruktur Hebat Berdampak, Kader Unggul Berkemajuan.” Dalam dokumen penyelenggaraan, PINAS diarahkan untuk memperbanyak sekaligus meningkatkan kualitas instruktur Muhammadiyah, termasuk instruktur yang mampu mendesain, mengembangkan, dan melaksanakan perkaderan sesuai dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan Persyarikatan.
Mawardi menilai posisi instruktur sangat strategis karena kualitas perkaderan tidak hanya ditentukan oleh materi, tetapi juga kemampuan instruktur menghidupkan proses pembelajaran dan menerjemahkan nilai-nilai Muhammadiyah ke dalam konteks yang dihadapi kader.
“Instruktur itu bukan hanya orang yang berdiri menyampaikan materi. Ia harus mampu mengelola forum, memahami peserta, membangun suasana belajar, dan yang paling penting menanamkan nilai-nilai Islam Berkemajuan dengan cara yang relevan. Karena itu, kualitas instruktur akan sangat menentukan kualitas kader yang kita lahirkan,” katanya.
Pelatihan ini melibatkan 77 peserta dari berbagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Mereka berasal antara lain dari Universitas Muhammadiyah Makassar, Universitas Muhammadiyah Palopo, Universitas Muhammadiyah Enrekang, Universitas Muhammadiyah Sinjai, Universitas Muhammadiyah Bone, Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang, Universitas Muhammadiyah Bulukumba, Universitas Muhammadiyah Luwuk, serta sejumlah institut dan politeknik Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.
Para peserta bukan instruktur pemula. Persyaratan kegiatan antara lain pernah mengikuti Pelatihan Instruktur Tingkat Wilayah, minimal tiga kali bertugas sebagai instruktur tingkat wilayah, serta menyiapkan modul perencanaan pelatihan atau teaching plan.
Secara substantif, PINAS bertujuan menyegarkan wawasan dan memperkaya pemahaman ideologi kader Muhammadiyah di lingkungan PTMA. Peserta juga dibekali kompetensi keinstrukturan agar mampu mengelola dan melaksanakan perkaderan sesuai dengan Sistem Perkaderan Muhammadiyah.
Berbagai materi disiapkan dalam pelatihan, mulai dari Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, Risalah Islam Berkemajuan, Sistem Perkaderan Muhammadiyah, kurikulum dan materi perkaderan, profil instruktur, manajemen perkaderan, metode pembelajaran, hingga teori dan konsep evaluasi. Peserta juga mendapat porsi praktik melalui desain kegiatan perkaderan, praktik pembelajaran, praktik evaluasi, microteaching, hingga penyusunan rencana tindak lanjut.
Metode pelatihan menggunakan pendekatan pembelajaran orang dewasa serta model partisipatoris-dialogis melalui diskusi kelompok, penugasan, seminar, lokakarya, simulasi, dan praktik.
Mawardi berharap peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan selama PINAS, tetapi juga pulang membawa kemampuan praktis untuk memperkuat perkaderan di kampus dan wilayah masing-masing.
“Harapan kita sederhana, tetapi sangat penting. Setelah kembali ke daerah dan kampus masing-masing, para peserta harus bisa menjadi penggerak. Ilmu yang diperoleh di sini jangan berhenti di ruang pelatihan, tetapi diterjemahkan menjadi perkaderan yang lebih hidup, sistematis, dan berdampak,” tegasnya.
Menurut Mawardi, kehadiran peserta dari berbagai PTMA juga menjadi ruang untuk memperkuat jejaring instruktur Muhammadiyah di Sulawesi Selatan dan kawasan Indonesia Timur.
“Kita ingin setelah kegiatan ini lahir jaringan instruktur yang saling menguatkan. Tantangan Muhammadiyah ke depan semakin kompleks. Karena itu, kaderisasi juga harus semakin kuat, terstruktur, dan adaptif,” ujarnya.

