UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Tim pakar Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar yang diketuai Dr Amrullah Mansida, S.T., M.T., ASEAN Eng. meraih pendanaan Skema Dorongan Teknologi: Tim Pakar/Pengkaji Tahun 2026 dari Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Pendanaan tersebut diperoleh untuk pengembangan “Peralatan Monitoring Pembangkit Listrik Hibrid Surya-Angin”, sebuah sistem yang diarahkan untuk mendukung pemantauan kinerja pembangkit energi terbarukan berbasis tenaga surya dan angin secara akurat, aman, berkelanjutan, dan berbasis data.
Tim tersebut melibatkan pakar dari berbagai disiplin. Selain Amrullah Mansida sebagai ketua, tim terdiri atas Ir Andi Abd. Halik Lateko, S.T., M.T., Ph.D., IPM., Dr Asriyanti Syarif, S.P., M.Si., Dr Idrawahyuni, S.Pd., M.Si., serta Dr Auliah Andika Rukman, S.H., M.H.
Amrullah mengatakan kepada media, Rabu, 23 September 2026, pengembangan teknologi tersebut tidak hanya diarahkan pada aspek teknis perangkat. Tim juga menyiapkan kajian pasar, kelayakan finansial, manajemen risiko, hingga aspek hukum agar produk memiliki peluang lebih besar untuk diimplementasikan dan dihilirkan.
“Peralatan monitoring ini kami arahkan bukan hanya menjadi produk teknologi yang berfungsi secara teknis, tetapi juga memiliki kesiapan untuk digunakan, dikembangkan, dan dikomersialisasikan. Karena itu, tim dibangun secara multidisipliner, mulai dari aspek teknis, pasar, keuangan, risiko, hingga regulasi,” ujar Amrullah.
Pantau Pembangkit Berbasis Data
Dalam tim tersebut, Andi Abd. Halik Lateko bertanggung jawab pada aspek teknis sistem.
Ia memberikan dukungan keahlian mulai dari perencanaan, pemilihan perangkat, instalasi, pengujian, pengoperasian, pemeliharaan, hingga evaluasi sistem monitoring.
Pendampingan teknis tersebut diarahkan agar kinerja pembangkit listrik hibrid tenaga surya dan angin dapat dipantau secara akurat dan berkelanjutan.
Amrullah menjelaskan, keberadaan sistem monitoring menjadi bagian penting dalam pengelolaan pembangkit energi hibrid karena data yang dihasilkan dapat digunakan untuk membaca kondisi dan performa pembangkit.
“Sistem monitoring menjadi sangat penting karena pengelola membutuhkan data yang akurat untuk mengetahui performa pembangkit. Dari data itulah dapat dilakukan evaluasi, perawatan, hingga pengambilan keputusan agar sistem surya dan angin dapat bekerja secara lebih efektif dan berkelanjutan,” kata Amrullah, Rabu, 23 September 2026.
Petakan Pasar dan Model Bisnis
Aspek pasar dan model bisnis ditangani Asriyanti Syarif.
Kajian yang dilakukan meliputi identifikasi calon pengguna, analisis kebutuhan dan fitur prioritas, segmentasi pasar, kemampuan membayar, serta tingkat penerimaan terhadap produk.
Tim juga melakukan benchmarking dan analisis kompetitor untuk memperoleh gambaran posisi produk di pasar.
Kajian tersebut diarahkan untuk menghasilkan pemetaan pasar sekaligus memastikan adanya product-market fit, yakni kesesuaian antara teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan calon pengguna.
Dengan pendekatan tersebut, pengembangan perangkat tidak hanya berangkat dari kemampuan teknologi, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan nyata pengguna dan peluang pemanfaatannya.
Kaji Kelayakan Keuangan dan Risiko
Sementara itu, Idrawahyuni bertugas sebagai pakar keuangan dan risiko.
Kajian dilakukan terhadap kelayakan finansial pengembangan, produksi, implementasi hingga komersialisasi produk.
Analisis juga mencakup struktur biaya, potensi pendapatan, tingkat pengembalian investasi, serta berbagai risiko yang dapat muncul dalam proses pengembangan dan hilirisasi.
Hasil kajian akan menjadi dasar penyusunan rekomendasi agar teknologi yang dikembangkan memiliki struktur pembiayaan yang efisien serta prospek keberlanjutan yang memadai.
Amrullah mengatakan kajian ekonomi dan risiko menjadi bagian penting agar inovasi yang dikembangkan tidak berhenti pada tahap prototipe.
“Kami ingin sejak awal teknologi ini juga diuji dari sisi keberlanjutan bisnisnya. Produk yang baik secara teknis tentu perlu didukung struktur biaya, potensi pasar, serta mitigasi risiko yang baik agar memiliki peluang untuk masuk pada tahap hilirisasi,” ujar Amrullah, Rabu, 23 September 2026.
Siapkan Regulasi hingga Kekayaan Intelektual
Aspek regulasi dan hukum dikaji Auliah Andika Rukman.
Kajian tersebut meliputi aspek hukum, regulasi, standar, dan ketentuan yang berkaitan dengan pengembangan, pengujian, penerapan hingga komersialisasi produk.
Tim juga mengidentifikasi kebutuhan perizinan, sertifikasi, standardisasi, keselamatan kelistrikan, serta berbagai persyaratan teknis yang harus dipenuhi.
Selain itu, aspek Kekayaan Intelektual (KI) menjadi perhatian, termasuk kemungkinan perlindungan melalui paten, hak cipta perangkat lunak, desain industri, maupun merek.
Menurut Amrullah, pemenuhan aspek regulasi dan perlindungan kekayaan intelektual merupakan bagian dari kesiapan produk sebelum memasuki implementasi dan komersialisasi secara lebih luas.
Dorong Hilirisasi Teknologi Unismuh
Keterlibatan pakar dari berbagai bidang tersebut diharapkan memperkuat pengembangan peralatan monitoring, mulai aspek teknologi hingga kesiapan hilirisasi.
Model kerja multidisipliner memungkinkan setiap aspek produk dikaji secara bersamaan sehingga inovasi tidak hanya dinilai berdasarkan kemampuan teknis, tetapi juga kesiapan pasar, keuangan, risiko, dan regulasinya.
Amrullah berharap pendanaan Skema Dorongan Teknologi 2026 menjadi momentum untuk membawa hasil riset dan inovasi perguruan tinggi semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat dan dunia industri.
“Harapannya, teknologi yang dikembangkan benar-benar dapat menjawab kebutuhan pengguna. Perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan riset, tetapi juga harus mampu membawa inovasi menuju pemanfaatan yang lebih luas dan memberikan dampak nyata,” kata Amrullah, Rabu, 23 September 2026.
Pengembangan Peralatan Monitoring Pembangkit Listrik Hibrid Surya-Angin tersebut juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 7: Energi Bersih dan Terjangkau melalui penguatan teknologi pendukung energi terbarukan, SDG 9: Industri, Inovasi dan Infrastruktur melalui pengembangan dan hilirisasi perangkat monitoring berbasis teknologi, serta SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim melalui dukungan terhadap pemanfaatan energi surya dan angin sebagai sumber energi rendah karbon.

