UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Rektor Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Dr. Ir. H. Abd Rakhim Nanda, ST., MT., IPU., mendorong Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) membangun model gerakan yang cerdas, terukur, dan sesuai perkembangan zaman. Aspirasi mahasiswa, menurut dia, harus tetap sampai kepada pengambil kebijakan tanpa menimbulkan kerugian bagi masyarakat.
Pesan itu disampaikan Rakhim Nanda saat melantik pengurus BEM Unismuh Makassar periode 2025–2026 di Ruang I-GIFt Theater, Lantai 2 Hall Teater I-GIFt Unismuh, Kamis, 16 Juli 2026.
Kepengurusan baru dipimpin Andi Rama Ramadhan sebagai Presiden Mahasiswa, didampingi Muhammad Maulana sebagai Wakil Presiden Mahasiswa. Pelantikan turut dihadiri Ketua DPRD Sulawesi Selatan drg. Andi Rachmatika Dewi, Badan Pembina Harian (BPH) Unismuh Dr. Ir Muhammad Syaiful Saleh, M.Si., jajaran pimpinan universitas, pimpinan fakultas, serta pengurus lembaga kemahasiswaan.
Aspirasi Tetap Menjadi Identitas Mahasiswa
Dalam sambutannya, Rektor menegaskan bahwa peran mahasiswa sebagai agent of change dan kekuatan kontrol sosial tidak boleh hilang. Kampus, kata dia, akan tetap memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan kritik, gagasan, dan aspirasi.
Namun, cara menyampaikan aspirasi harus terus diperbarui. Gerakan mahasiswa tidak semestinya justru menimbulkan kemacetan, mengganggu aktivitas warga, atau membuat masyarakat berbalik menentang perjuangan mahasiswa.

“Yang boleh tetap sama adalah pesannya harus sampai kepada pengambil kebijakan. Namun, caranya tentu harus cara kekinian,” ujar Rakhim Nanda.
Ia mengingatkan bahwa ruas jalan di depan Unismuh merupakan salah satu titik kepadatan lalu lintas di Kota Makassar. Penutupan jalan, meskipun dilakukan atas nama perjuangan rakyat, dapat memicu kemacetan luas dan menghadirkan penilaian negatif terhadap kampus.
“Begitu jalan ditutup, satu Kota Makassar bisa macet dan Unismuh mendapat hujatan dari masyarakat melalui media sosial. Padahal, masyarakat itulah yang disebut sedang diperjuangkan,” katanya.
Karena itu, Unismuh telah menyediakan panggung orasi di depan kampus. Pimpinan universitas juga membuka ruang dialog agar persoalan mahasiswa dapat dibicarakan secara langsung.
“Rektor itu didemo kalau rektornya tidak membuka ruang. Namun, di sini mahasiswa bisa datang dan berdiskusi. Masalah sekecil apa pun, institusi wajib hadir,” tegasnya.
Rektor juga meminta BEM mengambil bagian dalam peningkatan prestasi mahasiswa dan menjaga reputasi universitas. Unismuh, lanjutnya, telah meraih Akreditasi Institusi Unggul serta masuk dalam sejumlah pemeringkatan internasional. Capaian tersebut harus tercermin pula dalam kualitas gerakan mahasiswanya.
“BEM-nya juga harus bergaya seperti universitas yang memiliki reputasi. Aspirasi tetap disampaikan, tetapi dilakukan dengan cerdas, terukur, dan berprestasi,” ujarnya.
BEM Mengusung Gerakan Berdampak
Presiden Mahasiswa Unismuh, Andi Rama Ramadhan, menyatakan kepengurusan yang dipimpinnya mengusung tagline “BEM Berdampak”. Ia ingin program BEM tidak berhenti pada seremoni dan publikasi media sosial, tetapi memberi manfaat nyata bagi mahasiswa dan masyarakat.
“Yang harus kita lihat bukan seberapa banyak kegiatan, melainkan dampaknya kepada seluruh mahasiswa, masyarakat, dan bangsa,” kata Andi Rama.
Menurut dia, sebuah program dapat dianggap gagal apabila hanya dilaksanakan untuk membangun citra pengurus dan menghasilkan unggahan di media sosial.

“Ketika program hanya sekadar mencari muka atau untuk diposting di media, program yang kita lakukan adalah program yang gagal. Inti hidup kita adalah memberi manfaat kepada orang lain,” ujarnya.
Andi Rama juga menyatakan kesiapan BEM membangun sinergi dengan pimpinan universitas dan fakultas. Kolaborasi itu diharapkan melahirkan gagasan dan gerakan yang relevan dengan kebutuhan mahasiswa.
Ia sekaligus menyampaikan aspirasi mengenai mahasiswa yang menghadapi hambatan melanjutkan pendidikan karena persoalan berkurangnya kuota beasiswa KIP. Aspirasi tersebut dititipkan kepada Ketua DPRD Sulsel agar dapat diperjuangkan melalui kebijakan pemerintah.
“Ini bukan semata-mata persoalan kampus negeri atau swasta, melainkan persoalan anak-anak bangsa,” katanya.
DPRD Buka Pintu bagi Aspirasi Mahasiswa
Ketua DPRD Sulsel, Andi Rachmatika Dewi, menyambut gagasan gerakan mahasiswa yang lebih dialogis. Ia menyebut mahasiswa sebagai mitra DPRD dalam menjalankan fungsi pengawasan terhadap kebijakan pemerintah daerah.
“Mahasiswa adalah bagian dari mitra kami untuk bersama-sama melakukan fungsi pengawasan terhadap kebijakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pintu DPRD terbuka bagi kritik, saran, dan aspirasi mahasiswa. Kehadirannya dalam pelantikan BEM disebut sebagai wujud dukungan sekaligus komitmen membangun komunikasi dengan mahasiswa.
“Kalau ada aspirasi yang ingin disampaikan, adik-adik sudah tahu bahwa saya tidak sulit dihubungi. Kehadiran saya di sini merupakan komitmen untuk bersama-sama mengawal kebijakan pemerintah daerah maupun pemerintah pusat,” katanya.
Rachmatika juga mengingatkan agar jabatan dalam organisasi kemahasiswaan tidak digunakan untuk kepentingan pribadi. Masa kepengurusan harus dimanfaatkan untuk membuka jejaring, peluang, dan memberi manfaat bagi universitas.
“Pelantikan ini jangan hanya menjadi seremoni. Manfaatkan masa jabatan untuk melakukan hal-hal positif, membuka networking dan opportunity, bukan hanya untuk kepentingan pribadi,” pesannya.
Ia turut mengajak mahasiswa menjaga suasana kondusif di Makassar dan Sulawesi Selatan. Gerakan mahasiswa diharapkan tetap kritis, tetapi tidak memperkuat stigma Makassar sebagai kota yang identik dengan demonstrasi dan kurang ramah terhadap investasi.
“Mari kita ubah mindset yang selama ini muncul di tingkat nasional bahwa Makassar adalah kota demo. Mahasiswa memiliki peran besar dalam membangun citra yang baik bagi Sulawesi Selatan dan Kota Makassar,” ucapnya.
Tiga Pilar Gerakan BEM
Ketua BPH Unismuh, Dr. Syaiful Saleh, M.Si., mengingatkan bahwa BEM harus menjalankan tiga pilar utama, yakni memperjuangkan kesejahteraan mahasiswa, menjadi agen perubahan, dan menjalankan fungsi kontrol sosial.
“BEM itu memiliki tiga pilar. Pertama, student welfare atau kesejahteraan mahasiswa. Kedua, agent of change. Ketiga, kontrol sosial. Kalau ketiganya dijalankan, insya Allah kepengurusan ini akan berjalan baik,” katanya.
Pesan serupa disampaikan Presiden Mahasiswa periode sebelumnya, Muhammad Hasbi Asyidik. Ia mengingatkan bahwa BEM bukan milik pengurus, kelompok, ataupun individu tertentu, melainkan milik seluruh mahasiswa Unismuh Makassar.
“Badan Eksekutif Mahasiswa bukan milik pribadi. BEM adalah milik seluruh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar,” ujar Hasbi.
Karena itu, pengurus baru diminta mendengar aspirasi seluruh mahasiswa, termasuk mereka yang tidak bergabung dalam BEM, unit kegiatan mahasiswa, maupun organisasi kampus lainnya.
“Mahasiswa yang tidak bergabung dalam organisasi bukan berarti boleh diabaikan. Permasalahan mereka tidak boleh dipandang sebelah mata,” katanya.
Hasbi juga mengingatkan bahwa memimpin organisasi mahasiswa membutuhkan kemampuan menyatukan gagasan dan kepentingan yang beragam.
“Selama satu periode, kami menghadapi berbagai dinamika dari tingkat himpunan, BEM fakultas, hingga universitas. Dibutuhkan kemampuan menyatukan pendapat, aspirasi, dan gagasan,” ujarnya.
Pelantikan ditandai dengan pembacaan janji pengurus, penandatanganan berita acara, dan serah terima jabatan. Dalam janji tersebut, pengurus menyatakan kesiapan menjaga nama baik lembaga, almamater, dan Persyarikatan Muhammadiyah serta menjalankan kepemimpinan dengan jujur dan adil.

