UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Bahasa Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh Makassar) menggelar program Safari Budaya Toraja pada Jumat–Sabtu, 27–28 Juni 2026. Kegiatan yang diinisiasi Divisi Daerah UKM Bahasa itu bertujuan memperkenalkan nilai budaya, sejarah, adat istiadat, dan kekayaan bahasa Toraja kepada mahasiswa melalui pengalaman belajar langsung di Kabupaten Toraja.
Program bertajuk “Safari Budaya Toraja: Menyapa Tradisi, Menginspirasi Generasi” tersebut melibatkan puluhan peserta. Selain memperkuat wawasan kebudayaan, kegiatan itu juga dirancang untuk mempererat hubungan antaranggota UKM Bahasa melalui interaksi langsung dengan masyarakat setempat.
Koordinator Divisi Daerah UKM Bahasa, Syahrani Enre, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi agenda wisata, tetapi menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami makna budaya yang masih hidup di tengah masyarakat Toraja.
“Tujuan utama kegiatan ini bukan hanya berkunjung ke tempat wisata, melainkan memahami makna budaya yang terkandung di setiap peninggalan sejarah,” ujar Syahrani Enre.
Ia menambahkan, mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk menjaga sekaligus memperkenalkan budaya daerah kepada masyarakat yang lebih luas.
“Mahasiswa harus mampu menjadi generasi yang tidak hanya bangga terhadap budaya daerahnya, tetapi juga mampu memperkenalkannya kepada masyarakat luas melalui media sosial, karya tulis, maupun berbagai kegiatan organisasi,” kata Syahrani.
Kegiatan diawali dengan apel singkat di Kampus Universitas Muhammadiyah Makassar sebelum rombongan bertolak menuju Toraja. Selama perjalanan, panitia mengajak peserta berdiskusi mengenai budaya Sulawesi Selatan serta mengikuti berbagai permainan edukatif untuk membangun keakraban antarpeserta.
Setibanya di Toraja, rombongan mengunjungi kawasan wisata budaya Ke’te Kesu, yang dikenal sebagai pusat konservasi rumah adat Tongkonan dan lumbung padi tradisional. Di lokasi itu, peserta memperoleh penjelasan mengenai sejarah masyarakat Toraja, filosofi pembangunan Tongkonan, makna ukiran tradisional, serta nilai kebersamaan yang diwariskan secara turun-temurun.
Syahrani menjelaskan bahwa pemilihan Toraja sebagai lokasi kegiatan didasarkan pada kekayaan budaya yang masih terpelihara dengan baik. Menurutnya, rumah adat Tongkonan, tradisi masyarakat, hingga filosofi kehidupan orang Toraja menjadi sumber pembelajaran yang penting bagi mahasiswa.
Selama pelaksanaan kegiatan, Dayat berperan mengoordinasikan peserta agar seluruh rangkaian acara berlangsung sesuai jadwal. Ia juga memastikan komunikasi antara panitia dan peserta berjalan lancar sehingga seluruh agenda dapat terlaksana dengan tertib.
Selain mengamati langsung rumah adat Tongkonan, peserta berdialog dengan masyarakat setempat mengenai tantangan pelestarian budaya di tengah perkembangan zaman. Diskusi tersebut memberikan pemahaman bahwa pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda sebagai agen perubahan.
Pada malam hari, peserta mengikuti sesi refleksi dan evaluasi untuk berbagi pengalaman selama mengikuti Safari Budaya. Banyak peserta mengaku memperoleh perspektif baru mengenai pentingnya menghargai keberagaman budaya Indonesia serta peran mahasiswa dalam menjaga warisan budaya bangsa.
Memasuki hari kedua, Minggu, 28 Juni 2026, rombongan melanjutkan kunjungan ke sejumlah destinasi budaya lainnya di Toraja. Peserta mempelajari berbagai peninggalan budaya, menikmati lanskap alam, serta mendokumentasikan kegiatan sebagai bahan publikasi organisasi dan media promosi budaya Toraja.
“Safari Budaya Toraja bukan sekadar perjalanan wisata, tetapi menjadi ruang belajar yang mempertemukan mahasiswa dengan nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat,” ujar Syahrani menegaskan makna kegiatan tersebut.
Melalui Safari Budaya Toraja, UKM Bahasa Unismuh Makassar berharap mahasiswa semakin memahami, menghargai, dan berperan aktif dalam pelestarian budaya lokal. Program ini juga diharapkan menjadi agenda berkelanjutan yang memperkuat kompetensi mahasiswa di bidang kebahasaan, kepemimpinan, serta kepedulian terhadap kekayaan budaya Indonesia.

