UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Program Studi S1 dan S2 Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh) menggelar Kuliah Tamu 2 bersama akademisi Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), Malaysia, Prof. Madya Dr. Siti Rahaimah binti Ali, di Mini Hall Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unismuh Makassar, Selasa, 7 Juli 2026.
Kegiatan ini diikuti dosen serta mahasiswa S1 dan S2 Pendidikan Matematika untuk memperkuat pemahaman tentang numerasi, pembelajaran matematika yang menyenangkan, serta pengembangan media ajar berbasis cerita, permainan, dan teknologi.
Kuliah tamu tersebut merupakan bagian dari rangkaian kunjungan delegasi UPSI ke Unismuh Makassar pada 6–9 Juli 2026. Agenda ini juga menjadi sesi akademik pendahulu sebelum pelaksanaan International Joint Seminar bertema “Transformasi Masa Depan Pendidikan: Integrasi Eksakta, Sosial dan Kurikulum” di Hall I-GIFt Unismuh Makassar.
Berdasarkan dokumen itinerary kunjungan, delegasi UPSI tiba di Makassar pada Senin, 6 Juli 2026, melalui Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Pada Selasa, 7 Juli 2026, Unismuh Makassar menggelar tiga kuliah tamu secara paralel pada pukul 10.00–11.45 Wita untuk bidang pendidikan kurikulum dan sains, pendidikan matematika, serta pendidikan sosiologi.
Dalam rangkaian itu, Prof. Siti Rahaimah mengisi Kuliah Tamu yang diselenggarakan oleh Program Studi S1 dan S2 Pendidikan Matematika Unismuh Makassar. Dua kuliah tamu lainnya menghadirkan Prof. Madya Dr. Norazilawati binti Abdullah untuk bidang pendidikan kurikulum dan sains, serta Prof. Madya Dr. Norwaliza binti Abdul Wahab untuk bidang pendidikan sosiologi.
Prof. Siti menekankan bahwa numerasi tidak boleh dipahami secara sempit sebagai kemampuan berhitung. Menurut dia, numerasi merupakan kemampuan menggunakan pengetahuan matematika dalam kehidupan sehari-hari, sehingga pembelajarannya perlu dikaitkan dengan pengalaman konkret peserta didik.
“Numerasi ini kita guna maklumat-maklumat matematik ini dalam kehidupan seharian,” kata Prof. Siti dalam kuliah tamu tersebut. Ia menjelaskan bahwa matematika formal memang mencakup pengenalan angka, operasi hitung, pecahan, uang, objek, dan statistik, tetapi anak-anak perlu diperkenalkan melalui cara yang dekat dengan dunia mereka.
Prof. Siti mengatakan, pembelajaran matematika dapat dimulai dari hal sederhana seperti pengenalan bentuk, benda sekitar, permainan, dan cerita. Ia mencontohkan bentuk dasar seperti segi empat, segitiga, dan lingkaran dapat dikenalkan melalui aktivitas bermain sebelum guru menyimpulkan konsep matematikanya.
Dalam bahan ajar yang dikembangkannya, Prof. Siti memasukkan unsur matematika ke dalam buku cerita. Ia tidak selalu menyebut bahan itu sebagai buku matematika agar anak tidak lebih dulu merasa terbebani oleh istilah matematika.
“Elemen-elemen numerasi itu kita terapkan secara tak langsung, bukan kata directly,” ujarnya. Menurut Prof. Siti, pendekatan tidak langsung membuat anak lebih mudah menerima konsep matematika karena pembelajaran berlangsung melalui aktivitas yang menyenangkan.
Ia juga mencontohkan penggunaan bahan bermain seperti adonan atau plastisin untuk membentuk objek. Dari bentuk dasar itu, anak dapat diajak menggabungkan bentuk menjadi meja, sawah, pesawat, atau benda lain yang mereka kenal.
Prof. Siti menjelaskan, guru atau calon guru kemudian dapat mengajak peserta didik menyebutkan kembali bentuk apa saja yang digunakan. Dengan cara itu, anak belajar konsep geometri tanpa merasa sedang berhadapan dengan pelajaran yang kaku.
Dalam sesi tanya jawab, salah seorang peserta bertanya bagaimana membuat siswa mencintai matematika. Prof. Siti menjawab bahwa rasa suka terhadap matematika tidak dapat dipaksakan sejak awal, tetapi perlu dibangun melalui proses pengenalan yang menyenangkan.
“Love itu datang kemudian. Kita lihat dulu, kita kenal dulu, baru timbul perasaan love,” kata Prof. Siti. Ia menambahkan, anak tidak akan menyukai matematika jika sejak awal tidak diberi kesempatan mengenalnya dengan cara yang ramah dan menarik.
Prof. Siti mengatakan, pengalamannya selama 10 tahun menjadi guru sekolah dasar membantunya memahami kesulitan anak dalam mempelajari matematika. Ia menyebut beberapa topik, terutama pecahan dan operasi dasar, kerap menjadi hambatan bagi peserta didik.
Untuk pembelajaran pecahan, Prof. Siti menjelaskan bahwa salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah model bar. Ia menyebut pendekatan itu dapat membantu anak memahami pecahan secara lebih konkret sebelum masuk ke simbol dan operasi formal.
Prof. Siti juga menyinggung perubahan karakter belajar generasi saat ini yang sangat dekat dengan telepon genggam, YouTube, dan gim. Menurut dia, guru tidak cukup hanya melarang penggunaan teknologi, tetapi perlu memahami kebiasaan digital peserta didik dan menjadikannya pintu masuk pembelajaran.
“Kalau kamu bakal guru, guna itu sebagai set emosi, sebagai permulaan kelas,” kata Prof. Siti. Ia mengingatkan bahwa konten digital dapat digunakan sebagai pembuka pembelajaran untuk menarik perhatian murid, sepanjang dipilih sesuai tujuan, topik, dan usia peserta didik.
Ia menilai calon guru matematika perlu kreatif memilih media belajar. Menurut Prof. Siti, video, gim, aplikasi, dan cerita dapat menjadi alat bantu, tetapi guru tetap harus memastikan bahwa media tersebut mendukung pencapaian kompetensi matematika.
Dalam diskusi, peserta juga menanyakan proses pengembangan aplikasi pembelajaran yang dikerjakan Prof. Siti. Ia menjelaskan bahwa pengembangan buku, modul, gim, dan aplikasi pembelajaran umumnya lahir dari hibah penelitian atau grant.
Prof. Siti mengatakan, ia menyusun ide, konten, dan storyboard pembelajaran, lalu bekerja sama dengan asisten peneliti atau mahasiswa yang memiliki keahlian multimedia dan gamifikasi. Dengan demikian, inovasi pembelajaran tidak dikerjakan secara individual, tetapi melalui kolaborasi lintas bidang.
“Content daripada saya. Dari segi storyboard daripada saya. Yang develop itu saya cari pelajar multimedia,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa pengembangan aplikasi membutuhkan kerja sama antara ahli konten pendidikan dan pengembang teknologi.
Prof. Siti juga menjelaskan bahwa asisten peneliti yang terlibat dalam pengembangan aplikasi biasanya memiliki keterampilan teknis, termasuk dalam pengembangan gim berbasis APK. Menurut dia, dosen dapat berperan sebagai perancang isi dan alur pedagogis, sedangkan pengembang multimedia membantu mewujudkan gagasan menjadi media digital.
Penjelasan itu memberi pesan bagi mahasiswa Pendidikan Matematika Unismuh Makassar bahwa inovasi pembelajaran dapat dikembangkan melalui kerja kolaboratif. Mahasiswa dapat merancang konten numerasi, sementara pengembangan teknis dapat dilakukan bersama pihak yang menguasai teknologi pendidikan, multimedia, atau gamifikasi.
Kuliah tamu ini juga membuka peluang kerja sama lanjutan antara Unismuh Makassar dan akademisi UPSI. Dalam sesi diskusi, peserta menyinggung kemungkinan menghadirkan Prof. Siti dalam kegiatan bersama dinas pendidikan, pelatihan guru, pengabdian masyarakat, atau riset kolaboratif di Makassar dan Sulawesi Selatan.
Prof. Siti menyambut peluang tersebut dan menyatakan terbuka untuk kerja sama lebih lanjut. Ia menyebut pelatihan guru, cooperative learning, pedagogi, dan pengembangan bahan ajar numerasi sebagai beberapa bidang yang dapat dikembangkan bersama.
Keterkaitan kuliah tamu ini dengan International Joint Seminar terlihat dari substansi yang dibahas. Prof. Siti tidak hanya memaparkan matematika sebagai disiplin eksakta, tetapi juga mengaitkannya dengan kurikulum, pedagogi, budaya belajar anak, pemanfaatan teknologi, dan kebutuhan sosial peserta didik.
Melalui kegiatan ini, Program Studi S1 dan S2 Pendidikan Matematika Unismuh Makassar memperkuat ruang akademik internasional sekaligus mendorong pembelajaran matematika yang lebih kontekstual. Rangkaian kerja sama dengan UPSI diharapkan berlanjut dalam bentuk pelatihan guru, pengembangan media numerasi, riset bersama, dan program akademik yang memberi dampak langsung bagi pendidikan dasar dan pendidikan matematika di Indonesia dan Malaysia.

