UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR– Dosen Program Studi Magister Biomedis Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, dr. Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D., dijadwalkan menjadi pembicara dalam Raboan Discussion Forum yang diselenggarakan Center for Bioethics and Medical Humanities (CBMH) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) bersama UNESCO Chair on Bioethics UGM.
Forum yang digelar secara virtual pada Rabu 8 Juli 2026 pukul 13.00–14.30 WIB itu mengangkat tema “The Art of Bioethics 7.0: Who Owns Your DNA in the Metaverse? Bioethics, Omics, AI, and Personalized Medicine in the Age of Digital Humans”.
Dalam forum tersebut, Dito akan mengulas perkembangan bioetika di tengah pesatnya kemajuan teknologi kesehatan, mulai dari genomik, multiomik, kecerdasan buatan (AI), metaverse medis, digital twin, teknologi wearable, hingga kedokteran presisi. Pembahasan difokuskan pada isu kepemilikan DNA, privasi data genetik, otonomi pasien, keadilan akses, serta tata kelola teknologi kesehatan digital.
Berdasarkan ringkasan materi yang akan dipaparkan, DNA pada era Bioethics 7.0 tidak lagi dipandang semata sebagai materi biologis atau data pribadi. DNA juga dipahami sebagai “biografi molekuler” yang merekam keterkaitan seseorang dengan keluarga, leluhur, kerentanan penyakit, respons terhadap terapi, hingga potensi kesehatan di masa depan.
Perkembangan teknologi berbasis data dinilai membuka peluang bagi layanan kesehatan yang lebih personal, prediktif, dan preventif. Integrasi genomik, kecerdasan buatan, rekam medis elektronik, serta simulasi digital memungkinkan diagnosis dilakukan lebih dini, terapi disesuaikan dengan karakteristik individu, dan pengambilan keputusan klinis didukung analisis risiko yang semakin akurat.
Di sisi lain, perkembangan tersebut juga memunculkan berbagai tantangan etik. Beberapa di antaranya ialah risiko reduksi pasien menjadi sekadar skor risiko, komodifikasi identitas genetik, bias algoritma, re-identifikasi data, diskriminasi genetik, ketimpangan akses terhadap teknologi, hingga berkurangnya otonomi individu dalam ekosistem digital.
Karena itu, pertanyaan mengenai “siapa yang memiliki DNA” dinilai perlu diperluas menjadi pembahasan mengenai siapa yang berhak mengelola, menafsirkan, memanfaatkan, menanggung risiko, serta bertanggung jawab atas data kehidupan manusia.
Konsep Bioethics 7.0 menekankan bahwa masa depan kedokteran tidak hanya harus presisi secara ilmiah dan molekuler, tetapi juga presisi secara moral. Pengembangan teknologi kesehatan digital perlu tetap menjunjung martabat manusia, memperkuat persetujuan berbasis relasi yang dinamis, menjaga privasi sebagai tanggung jawab bersama, serta memastikan keadilan bagi kelompok masyarakat yang selama ini kurang terwakili.
Diskusi akan dipandu dr. Wika Hartanti, MIH, dari CBMH FK-KMK UGM–UNESCO Chair on Bioethics UGM. Kegiatan terbuka bagi masyarakat dan dapat diikuti secara virtual melalui Zoom maupun disaksikan melalui siaran langsung di kanal YouTube CBMH UGM.
Raboan Discussion Forum merupakan ruang diskusi akademik yang secara rutin membahas isu bioetika, humaniora medis, kesehatan masyarakat, serta perkembangan teknologi dalam layanan kesehatan. Melalui forum ini, isu kepemilikan DNA di era metaverse diharapkan tidak hanya dipahami sebagai persoalan teknologi, tetapi juga sebagai isu kemanusiaan, keadilan, dan arah masa depan praktik kedokteran.

