July 2, 2026
JL. SULTAN ALAUDDIN NO. 259, Kec. Rappocini, Gunung Sari, Kota Makassar, 90221
RISET & PUBLIKASI

Pesantren Jadi Benteng Krisis Iklim, Riset Dosen Unismuh Makassar Tawarkan Jalan Baru Pendidikan Islam Ekologis

UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR – Pesantren memiliki posisi strategis untuk membentuk generasi yang tidak hanya kuat dalam akidah dan akhlak, tetapi juga memiliki tanggung jawab ekologis terhadap lingkungan. Melalui kehidupan santri yang berlangsung penuh di lingkungan pendidikan, nilai keislaman, keteladanan guru, budaya pesantren, kurikulum, dan aksi lingkungan dapat dipadukan menjadi model pendidikan Islam ekologis yang mendukung pembangunan berkelanjutan.

Pesan penting itu menjadi temuan utama riset dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar tentang pendidikan Islam ekologis di pesantren Muhammadiyah Sulawesi Selatan.

Riset tersebut dipublikasikan di Discover Sustainability, Volume 7 Tahun 2026, artikel nomor 310. Artikel berjudul “Eco Islamic Education and Its Contribution to Sustainable Development Goals in Muhammadiyah Boarding Schools of South Sulawesi” itu ditulis oleh Ferdinan, Abdillah, Abd Rahman, dan Abd Rahman Bahtiar.

Ketua Tim Peneliti, Ferdinan, mengatakan penelitian ini berangkat dari kebutuhan menghadirkan pendidikan Islam yang tidak hanya menguatkan pemahaman keagamaan, tetapi juga membentuk kesadaran santri untuk menjaga lingkungan sebagai bagian dari amanah keislaman.

Baca juga: Di Balik Rapuhnya Ekonomi Pesisir, Dosen Unismuh Makassar Temukan Enam Pola Nafkah Petani Rumput Laut

Menurut dosen Pendidikan Agama Islam Unismuh Makassar itu, pesantren memiliki keunggulan dibandingkan lembaga pendidikan lain karena proses pendidikan berlangsung dalam ruang hidup yang utuh. Santri tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga mengalami pembiasaan nilai melalui kehidupan sehari-hari di asrama, masjid, ruang belajar, halaman, kebun, dan lingkungan sosial pesantren.

“Pendidikan Islam ekologis berangkat dari kesadaran bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari amanah keagamaan. Santri tidak hanya diajarkan untuk memahami alam sebagai objek pengetahuan, tetapi juga sebagai ciptaan Allah yang harus dijaga dengan tanggung jawab,” kata Ferdinan, saat dikonfirmasi, Selasa, 3 Februari 2026.

Penelitian ini dilakukan pada tiga pesantren Muhammadiyah di Sulawesi Selatan. Ketiganya adalah Pondok Pesantren Muhammadiyah Hisbul Wathan di Kabupaten Gowa, Pondok Pesantren Muhammadiyah Balebo di Kabupaten Luwu Utara, dan Pondok Pesantren Muhammadiyah Jauh Pandang di Kabupaten Luwu.

Riset menggunakan pendekatan sequential mixed-methods. Data dikumpulkan melalui observasi terstruktur, penilaian skala Likert lima poin, wawancara mendalam, catatan lapangan, serta telaah dokumen kelembagaan.

Dalam penelitian ini, tim peneliti juga mengembangkan kerangka penilaian bernama Eco-Islamic Education Assessment Framework atau EIEAF. Kerangka itu digunakan untuk menilai bagaimana nilai Islam, kurikulum, kepemimpinan, budaya pesantren, keteladanan, pembiasaan, dan kemitraan lingkungan bekerja dalam praktik pendidikan pesantren.

Menghubungkan Iman dan Ekologi

Dalam riset tersebut, pendidikan Islam ekologis ditempatkan sebagai ikhtiar menghubungkan iman, pengetahuan, dan tindakan. Pendidikan lingkungan tidak hanya dipahami sebagai urusan teknis, seperti penghijauan atau kebersihan, tetapi juga sebagai bagian dari pembentukan moral dan spiritual santri.

Nilai-nilai Islam seperti tawazun atau keseimbangan, amanah atau tanggung jawab, serta khalifah atau mandat manusia sebagai pemakmur bumi dijadikan dasar untuk membangun perilaku ramah lingkungan di lingkungan pesantren.

Ferdinan menjelaskan, krisis lingkungan tidak cukup dijawab dengan pengetahuan teknis semata. Pendidikan juga harus menyentuh dimensi moral dan spiritual agar peserta didik memiliki kesadaran bahwa merusak alam bertentangan dengan nilai keagamaan.

“Dalam Islam, manusia bukan penguasa mutlak atas alam. Manusia adalah khalifah yang diberi amanah untuk menjaga keseimbangan. Karena itu, pendidikan lingkungan di pesantren harus berakar pada nilai tauhid, akhlak, dan tanggung jawab sosial,” ujarnya.

Kerangka EIEAF yang dikembangkan dalam riset ini memuat lima dimensi utama. Pertama, nilai spiritual dan teologis. Kedua, kurikulum dan desain pembelajaran. Ketiga, kepemimpinan kelembagaan dan budaya organisasi.

Keempat, keteladanan dan pembiasaan perilaku. Kelima, kemitraan dan aksi lingkungan kolektif. Lima dimensi ini dipandang penting agar pendidikan ekologis tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi menjadi bagian dari sistem pendidikan pesantren.

Menurut Ferdinan, selama ini kegiatan lingkungan di lembaga pendidikan kerap muncul dalam bentuk kerja bakti, penghijauan, atau kampanye kebersihan. Kegiatan seperti itu tetap penting, tetapi belum cukup jika tidak dilembagakan dalam kurikulum, kebijakan, budaya, dan praktik harian.

Karena itu, pendidikan Islam ekologis perlu dirancang sebagai gerakan yang menyatu dengan pembelajaran, tata kelola pesantren, kepemimpinan, keteladanan guru, dan partisipasi santri.

Tiga Pesantren, Tiga Tingkat Kesiapan

Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan tingkat implementasi pendidikan Islam ekologis pada tiga pesantren Muhammadiyah yang diteliti. Pondok Pesantren Muhammadiyah Hisbul Wathan menunjukkan tingkat implementasi sangat tinggi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Balebo berada pada kategori tinggi. Sementara itu, Pondok Pesantren Muhammadiyah Jauh Pandang masih berada pada tahap awal pengembangan.

Perbedaan tersebut diuji menggunakan analisis statistik, termasuk one-way ANOVA dan uji Kruskal-Wallis. Hasilnya menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik antar-institusi dengan nilai p kurang dari 0,01.

Artinya, variasi implementasi pendidikan Islam ekologis antar-pesantren tidak bersifat kebetulan. Perbedaan itu berkaitan dengan kesiapan kelembagaan, kepemimpinan, kebijakan, kematangan kurikulum, serta budaya organisasi masing-masing pesantren.

Dalam tabel penilaian, Hisbul Wathan memperoleh skor 5 pada seluruh fokus penelitian. Skor itu mencakup konsep dan praktik pendidikan ekologis, internalisasi nilai Islam, inovasi kurikulum, kontribusi terhadap SDGs, hingga model konseptual pendidikan ekologis.

Balebo mencatat skor tinggi, terutama pada kontribusi terhadap SDGs. Sementara itu, Jauh Pandang masih memerlukan penguatan pada aspek kurikulum dan model kelembagaan.

Ferdinan mengatakan, temuan tersebut menunjukkan bahwa nilai Islam tentang lingkungan dapat diterima di semua pesantren. Namun, keberhasilan implementasinya sangat ditentukan oleh sejauh mana nilai tersebut dilembagakan dalam kebijakan, program, kurikulum, dan keteladanan.

“Semua pesantren memiliki nilai dasar yang kuat. Yang membedakan adalah tingkat pelembagaannya. Ketika pimpinan mendukung, guru dilatih, kurikulum disusun, dan praktik harian dibiasakan, pendidikan ekologis menjadi lebih nyata,” katanya.

Dari Kurikulum ke Pembiasaan

Riset ini menemukan bahwa Pondok Pesantren Muhammadiyah Hisbul Wathan memiliki model eco-pesantren yang lebih komprehensif. Pesantren ini didukung kebijakan kelembagaan, integrasi kurikulum, dan kegiatan ekstrakurikuler lingkungan yang lebih terstruktur.

Di pesantren ini, pendidikan ekologis tidak berdiri sebagai kegiatan tambahan, tetapi mulai masuk ke dalam kultur kelembagaan dan praktik pendidikan. Hal ini membuat nilai lingkungan lebih mudah diterima, dipahami, dan dipraktikkan oleh santri.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Balebo menunjukkan kekuatan pada hubungan dengan komunitas. Pesantren ini memiliki praktik yang berkembang melalui kolaborasi dengan petani lokal dan lembaga masyarakat, terutama dalam kegiatan pertanian organik serta pengelolaan sampah.

Adapun Pondok Pesantren Muhammadiyah Jauh Pandang masih berada pada tahap awal. Pesantren ini telah menunjukkan komitmen untuk mengembangkan pendidikan Islam ekologis, tetapi masih membutuhkan kurikulum, kebijakan, pelatihan guru, dan program lingkungan yang lebih sistematis.

Ferdinan menjelaskan, keberhasilan pendidikan Islam ekologis sangat dipengaruhi oleh pembiasaan. Santri perlu mengalami langsung praktik menjaga kebersihan, mengelola sampah, menanam, menghemat air, dan merawat lingkungan pesantren.

“Anak-anak belajar bukan hanya dari buku, tetapi dari budaya harian. Kalau guru memberi teladan, pesantren punya aturan yang jelas, dan santri dilibatkan dalam aksi lingkungan, maka nilai ekologis akan menjadi karakter,” ujarnya.

Menurut Ferdinan, pendidikan lingkungan di pesantren juga perlu dirancang dengan pendekatan yang sesuai dengan generasi saat ini. Pembelajaran dapat menggunakan proyek, praktik lapangan, diskusi lintas mata pelajaran, dan kegiatan berbasis komunitas.

Dengan pendekatan seperti itu, santri tidak hanya memahami konsep lingkungan secara teoritis, tetapi juga mampu bertindak. Mereka belajar bahwa menjaga lingkungan bukan hanya kewajiban sosial, melainkan bagian dari pengamalan nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Pesantren sebagai Aktor SDGs

Riset ini juga menegaskan bahwa pesantren dapat menjadi aktor penting dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Dalam artikel tersebut, kontribusi pesantren terutama dikaitkan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, dan SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Pada SDG 4, pesantren berkontribusi melalui integrasi Education for Sustainable Development atau pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan ke dalam kurikulum dan praktik pembelajaran.

Pada SDG 13, pesantren berperan melalui pendidikan iklim, peningkatan kesadaran, dan aksi lingkungan berbasis komunitas. Adapun pada SDG 17, kontribusi pesantren tampak melalui kemitraan dengan organisasi masyarakat, pemerintah lokal, petani, dan komunitas lingkungan.

Kemitraan ini penting agar pesantren tidak berjalan sendiri dalam membangun budaya ekologis. Pesantren dapat menjadi simpul pendidikan, dakwah, dan gerakan sosial yang menghubungkan santri, guru, orang tua, masyarakat, pemerintah, serta komunitas lingkungan.

Ferdinan mengatakan, pesantren tidak boleh hanya diposisikan sebagai penerima agenda global pembangunan berkelanjutan. Pesantren justru dapat menjadi penerjemah nilai-nilai global itu ke dalam praktik lokal yang berakar pada ajaran Islam.

“SDGs akan lebih mudah dipahami santri ketika dikaitkan dengan nilai Islam. Misalnya, menjaga air, menanam pohon, mengurangi sampah, dan merawat alam bisa dijelaskan sebagai bagian dari amanah manusia sebagai khalifah,” katanya.

Dengan pendekatan tersebut, agenda keberlanjutan tidak terasa jauh dari kehidupan santri. SDGs tidak hanya hadir sebagai istilah global, tetapi diterjemahkan menjadi kebiasaan konkret di pesantren.

Rujukan Pendidikan Islam Berkelanjutan

Bagi Ferdinan, kontribusi utama riset ini adalah menghadirkan model yang dapat direplikasi oleh lembaga pendidikan Islam lain. EIEAF tidak hanya menjadi alat penilaian, tetapi juga peta jalan untuk mengembangkan pendidikan Islam yang lebih responsif terhadap krisis lingkungan.

Model ini dapat digunakan pesantren untuk menilai posisi kelembagaannya. Misalnya, apakah nilai ekologis sudah masuk dalam kurikulum, apakah guru memiliki kapasitas, apakah pimpinan mendukung kebijakan hijau, apakah santri dibiasakan menjaga lingkungan, dan apakah pesantren memiliki jejaring kemitraan.

“Kerangka ini membantu pesantren melihat dirinya sendiri. Bukan untuk membandingkan secara kaku, tetapi untuk mengetahui bagian mana yang sudah kuat dan bagian mana yang perlu diperbaiki,” ujar Ferdinan.

Ia menambahkan, pendidikan Islam ekologis juga relevan dengan gagasan rahmatan lil alamin. Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah dan sesama manusia, tetapi juga hubungan manusia dengan alam.

Dengan demikian, pesantren dapat melahirkan lulusan yang tidak hanya saleh secara ritual, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan, mampu bekerja bersama masyarakat, dan memiliki kesadaran menghadapi perubahan iklim.

Baca juga: Guru Besar Unismuh Makassar Ubah Limbah Sayur Jadi Kompos, Hasilnya Pakcoy Makin Subur

Dari tiga pesantren Muhammadiyah di Sulawesi Selatan, riset dosen Unismuh Makassar menunjukkan bahwa pendidikan Islam dapat menjadi jalan penting untuk membangun kesadaran ekologis.

Kampus, pesantren, dan masyarakat dapat bekerja bersama membentuk generasi yang beriman, berilmu, dan bertanggung jawab terhadap bumi.

“Pesantren memiliki kekuatan budaya, nilai, dan keteladanan. Jika kekuatan itu diarahkan untuk pendidikan ekologis, maka pesantren dapat menjadi pusat pembentukan karakter lingkungan yang sangat kuat,” kata Ferdinan.

Riset ini sekaligus menegaskan komitmen Unismuh Makassar dalam mendukung pencapaian SDGs. Penelitian tentang pendidikan Islam ekologis ini berkaitan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, melalui penguatan kurikulum dan pembelajaran berorientasi keberlanjutan.

Riset ini juga berkaitan dengan SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, karena mendorong kesadaran dan aksi lingkungan berbasis pesantren. Selain itu, riset ini mendukung SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui penguatan kolaborasi pesantren dengan komunitas, pemerintah, petani, dan organisasi lingkungan.

Penelitian ini juga sejalan dengan SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, terutama melalui pembiasaan pengelolaan sampah, konservasi sumber daya, dan praktik hidup ramah lingkungan di lingkungan pendidikan.

Artikel lengkap penelitian ini dapat diakses melalui laman: https://link.springer.com/article/10.1007/s43621-026-02647-6