UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR – Rangkaian kunjungan akademik Kanazawa Institute of Technology (KIT), Jepang, di Universitas Muhammadiyah Makassar berlanjut ke Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Rabu, 1 Juli 2026. Setelah pertemuan di tingkat universitas, delegasi KIT Jepang hadir dalam kuliah tamu internasional di I-Gift Hall, Kampus Unismuh Makassar.
Kegiatan bertema “Empowering Educational Futures: Bridging Research Innovation, Moral Development, and Transformative Learning” itu menjadi ruang dialog akademik antara dosen, mahasiswa, dan akademisi lintas negara. Forum ini menempatkan isu masa depan pendidikan tidak hanya pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pada inovasi riset, pertumbuhan moral, dan pembelajaran transformatif.
Kuliah tamu tersebut didukung Dekan FKIP Unismuh Makassar, Dr. Baharullah, M.Pd. Tiga pembicara dihadirkan, yakni Prof. Dr. Eny Syatriana, M.Pd. dari Universitas Muhammadiyah Makassar, Prof. Kiyomi Banda dari Kanazawa Institute of Technology, Jepang, serta Dr. Midori Shiraki dari Kanazawa Institute of Technology, Jepang.
Forum ini digelar secara hibrida. Dua pembicara hadir langsung di kampus Unismuh, sementara satu pembicara lainnya mengikuti kegiatan secara daring melalui Zoom. Dalam pengantar kegiatan, moderator menyebut kuliah tamu ini sebagai bagian dari upaya membaca ulang arah pendidikan masa depan, terutama ketika teknologi, riset, dan perubahan sosial bergerak semakin cepat.
Pendidikan Tak Cukup Hanya Mencerdaskan
Dalam sambutannya, Dekan FKIP Unismuh Makassar Dr. Baharullah menyampaikan bahwa tantangan pendidikan global menuntut lulusan yang tidak hanya kuat secara akademik. Menurut dia, lembaga pendidikan juga harus menumbuhkan kreativitas, inovasi, karakter, serta kesiapan mahasiswa untuk berkiprah di tingkat internasional.
Ia menyambut kehadiran Prof. Kiyomi Banda dan Dr. Midori Shiraki sebagai kesempatan penting bagi mahasiswa dan dosen FKIP untuk memperluas wawasan. Kehadiran akademisi dari Jepang, kata Baharullah, diharapkan memberi inspirasi bagi mahasiswa agar terus meningkatkan kompetensi dan kesiapan menghadapi tantangan dunia pendidikan.
“Kami percaya kehadiran Prof. Kiyomi Banda dan Prof. Midori Shiraki akan memberikan inspirasi dan motivasi, terutama bagi mahasiswa FKIP untuk terus belajar, meningkatkan kompetensi, dan menghadapi tantangan pendidikan,” ujar Baharullah sebagaimana terekam dalam transkrip kegiatan.
Baharullah juga menegaskan, kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen FKIP Unismuh dalam memperkuat kolaborasi akademik internasional. Kerja sama itu tidak berhenti pada forum kuliah tamu, tetapi diarahkan pada riset bersama, seminar internasional, pengembangan akademik, dan program pendidikan pada masa mendatang.
Pesan serupa juga tampak dalam materi kegiatan. Pendidikan abad ke-21, sebagaimana tertulis dalam presentasi, tidak lagi dipahami sebatas transfer pengetahuan. Pendidikan harus menyiapkan peserta didik agar mampu berpikir kritis, bertindak bertanggung jawab, beradaptasi secara kreatif, dan berkontribusi secara bermakna bagi masyarakat.
Membaca Jalan Hidup Mahasiswa
Sesi akademik dibuka oleh Prof. Kiyomi Banda dari Kanazawa Institute of Technology. Ia membawakan materi berjudul “Mapping the Unseen Paths: Applying the Trajectory Equifinality Approach (TEA) in Qualitative Educational Research.”
Dalam paparannya, Banda menjelaskan pendekatan Trajectory Equifinality Modeling (TEM) dan Trajectory Equifinality Approach (TEA) dalam penelitian pendidikan kualitatif. Pendekatan ini digunakan untuk membaca perjalanan hidup, pengalaman, dan pilihan individu yang berbeda-beda, tetapi dapat mengarah pada tujuan atau keadaan akhir yang serupa.
Banda menjelaskan bahwa penelitian kuantitatif berusaha memahami fenomena secara umum melalui data statistik. Sebaliknya, penelitian kualitatif memberi perhatian pada makna subjektif, konteks, situasi, dan pengalaman orang yang diteliti. Dalam konteks pendidikan, pendekatan ini penting karena pengalaman belajar mahasiswa tidak selalu bergerak dalam garis lurus.
Ia kemudian memperkenalkan konsep Bifurcation Point (BFP) dan Equifinality Point (EFP). Dalam TEM, BFP dipahami sebagai titik percabangan ketika seseorang menghadapi pilihan penting, sedangkan EFP merupakan titik capaian yang dapat diraih melalui berbagai jalur berbeda. Dengan pendekatan ini, peneliti pendidikan dapat memahami bagaimana mahasiswa mengambil keputusan, membentuk identitas, dan mengembangkan karier.
Banda juga menautkan pembahasannya dengan psikologi budaya. Dalam salah satu contoh, ia menjelaskan bagaimana manusia membaca tanda dalam kehidupan sehari-hari. Awan gelap, misalnya, tidak hanya dilihat sebagai objek, tetapi dibaca sebagai tanda akan datangnya hujan. Cara manusia memberi makna terhadap tanda, menurut dia, berpengaruh pada cara seseorang memahami diri, lingkungan, dan masa depannya.
Karier, Keluarga, dan Budaya
Bagian kedua paparan Banda membahas riset perbandingan pengembangan karier antara mahasiswa Indonesia dan mahasiswa Jepang. Riset itu menggunakan pendekatan campuran dengan melibatkan 463 mahasiswa Jepang dan 510 mahasiswa Indonesia. Survei terhadap mahasiswa Indonesia dilakukan di dua universitas pada 2017.
Salah satu isu yang dibahas ialah relasi anak dan orang tua dalam pembentukan arah masa depan. Dalam konteks Indonesia, Banda menyoroti bagaimana harapan orang tua dapat menjadi bagian penting dalam proses eksplorasi dan komitmen karier mahasiswa.
Dalam presentasinya, Banda juga menampilkan studi terhadap mahasiswa Indonesia melalui wawancara. Riset itu memperlihatkan bagaimana pilihan pendidikan, karier, relasi keluarga, agama, dan budaya membentuk perjalanan hidup seseorang.
Bagi peserta kuliah tamu, paparan tersebut memberi gambaran bahwa pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kurikulum dan kelas. Pendidikan juga menyentuh pengalaman personal mahasiswa, pergulatan identitas, relasi keluarga, hingga keberanian mengambil keputusan.
Lima Pendekatan Pembelajaran
Sesi lain menampilkan gagasan tentang kerangka pendidikan terpadu untuk pembelajaran abad ke-21. Dalam materi “Shaping Educational Futures: Research Innovation, Ethical Growth, and Transformative Learning,” Prof. Dr. Eny Syatriana menekankan perlunya menghubungkan inovasi riset, pertumbuhan etis, dan pembelajaran yang mengubah cara berpikir mahasiswa.
Materi tersebut memetakan jalan pembelajaran abad ke-21 melalui teknologi digital, pembelajaran daring, blended learning, kecerdasan buatan, kebutuhan peserta didik, serta kerangka pembelajaran terpadu. Pendidikan masa depan tidak cukup mengandalkan satu pendekatan, tetapi perlu menggabungkan berbagai strategi sesuai kebutuhan peserta didik.
Dalam kerangka yang ditawarkan, terdapat lima pendekatan pembelajaran, yakni pedagogy, andragogy, peeragogy, heutagogy, dan cybergogy. Pedagogy memberi struktur, tujuan, arahan kurikulum, dan asesmen. Andragogy menekankan pengalaman dan relevansi kehidupan nyata. Peeragogy menguatkan kolaborasi dan tanggung jawab bersama. Heutagogy mendorong kemandirian belajar. Adapun cybergogy mendukung pembelajaran dalam lingkungan digital, daring, blended, dan virtual.
Kelima pendekatan itu tidak diposisikan sebagai model yang saling bersaing. Sebaliknya, semuanya dapat dipadukan menjadi kerangka pembelajaran terpadu untuk membangun keterlibatan, berpikir kritis, kolaborasi, regulasi diri, literasi digital, dan kesiapan belajar sepanjang hayat.
Melanjutkan Kerja Sama Unismuh–Jepang
Kuliah tamu internasional FKIP ini menjadi bagian dari rangkaian kunjungan KIT Jepang ke Unismuh Makassar. Sebelumnya, pada hari yang sama, delegasi Kanazawa Institute of Technology diterima di tingkat universitas untuk membahas penguatan kerja sama riset, pengabdian masyarakat, pertukaran akademik, dan mobilitas mahasiswa.
Dengan demikian, kegiatan di FKIP menjadi tindak lanjut yang lebih spesifik pada bidang pendidikan. Jika pertemuan di tingkat universitas menegaskan arah kerja sama kelembagaan, maka forum FKIP mempertemukan gagasan akademik yang lebih dekat dengan kebutuhan dosen dan mahasiswa calon pendidik.
Bagi FKIP Unismuh, forum ini menjadi ruang untuk memperkuat internasionalisasi fakultas. Melalui kuliah tamu, mahasiswa tidak hanya mendengar teori dari ruang kelas sendiri, tetapi juga menyerap pengalaman akademik dari Jepang, termasuk cara membaca riset, budaya, teknologi, dan pendidikan secara lebih luas.
Kegiatan ditutup dengan harapan agar kolaborasi FKIP Unismuh dan Kanazawa Institute of Technology terus berkembang. Tidak hanya dalam bentuk seminar dan kuliah tamu, tetapi juga riset bersama, publikasi, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta pengembangan model pembelajaran yang lebih relevan dengan tantangan pendidikan abad ke-21.

