June 26, 2026
JL. SULTAN ALAUDDIN NO. 259, Kec. Rappocini, Gunung Sari, Kota Makassar, 90221
BERITA KAMPUS

Tim PKM Unismuh Petakan Sampah Plastik di Pantai Anging Mammiri

UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Tim Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar memulai pemetaan timbulan sampah plastik di kawasan wisata Pantai Anging Mammiri, Makassar, melalui diskusi kelompok terarah (FGD) bersama Bank Sampah Unit (BSU) Anging Mammiri, Jumat, 19 Juni 2026. Kegiatan yang didanai Program BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui LP3M Unismuh Makassar ini menjadi tahap awal penyusunan tata kelola sampah plastik berbasis ecobrick di kawasan pesisir.

FGD dilakukan untuk menggali kondisi riil pengelolaan sampah plastik, mengidentifikasi kendala yang dihadapi masyarakat, sekaligus memetakan potensi penerapan sistem pengelolaan sampah berbasis rumah tangga. Hasil pemetaan tersebut akan menjadi dasar penyusunan intervensi program selama empat bulan ke depan.

Ketua Tim PKM, Nursaleh Hartaman, mengatakan pihaknya sengaja memulai program dengan mendengarkan kebutuhan masyarakat sebelum menawarkan solusi. Menurut dia, pendekatan partisipatif menjadi kunci agar program dapat berjalan berkelanjutan.

“Kami tidak ingin program ini hanya datang dengan solusi siap pakai tanpa memahami kondisi sebenarnya di lapangan. Salah satu kebijakan Pemerintah Kota Makassar adalah pengelolaan sampah yang terangkut ke TPA akan dibatasi, agar tata kelola sampah berjalan dengan baik. Upaya ini secara nyata dapat berkelanjutan, jika kita sebagai warga turut melakukan pemilahan sampah mulai dari rumah,” ujar Nursaleh.

Ia menjelaskan, identifikasi dilakukan melalui transek lingkungan pantai untuk memetakan sumber dan sebaran sampah plastik. Tim juga memanfaatkan pemetaan menggunakan drone guna mendokumentasikan fasilitas wisata, lokasi rumah tangga nasabah bank sampah, serta titik pengumpulan sampah yang telah tersedia. Selain itu, tim melakukan transek rumah tangga untuk mengetahui pola pengelolaan sampah oleh warga.

Berdasarkan hasil identifikasi awal, kawasan Pantai Anging Mammiri menerima kunjungan sekitar 3.000 hingga 4.000 wisatawan setiap bulan. Aktivitas tersebut menghasilkan timbulan sampah plastik sekitar 100 kilogram setiap pekan atau berpotensi melebihi lima ton dalam setahun. Sampah berasal dari aktivitas pengunjung, kiriman arus laut, maupun muara sungai yang bermuara di kawasan pantai.

Koordinator BSU Anging Mammiri, Abdul Kadir, mengatakan kesadaran masyarakat untuk memilah sampah mulai tumbuh, namun masih menghadapi berbagai keterbatasan. Menurut dia, kebijakan Pemerintah Kota Makassar yang membatasi sampah menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tamangapa menjadi momentum bagi masyarakat untuk mengelola sampah dari sumbernya.

“Sampah organik itu supaya tidak lagi diangkut oleh kendaraan angkutan sampah skala lingkungan—kalau dicampur tidak bernilai, kalau dipilah jadi bernilai. Saat ini ada program Wali Kota di tiap kelurahan untuk membuat bedeng urban farming dari ecobrick. Sampah plastik itu butuh 50 tahun untuk hancur,” kata Abdul Kadir.

Abdul Kadir juga berharap semakin banyak rumah tangga bergabung dalam pengelolaan sampah berbasis bank sampah sehingga beban pengurus tidak lagi bertumpu pada segelintir orang. Ia menambahkan, pemilahan sampah sejak dari rumah akan meningkatkan nilai ekonomi sampah sekaligus mengurangi volume sampah yang dikirim ke TPA.

Ketua RT 01 RW 06 Kelurahan Tanjung Merdeka, Kecamatan Tamalate, Jumariah Daeng Tino, menyambut baik pelaksanaan program tersebut. Ia menilai kegiatan ini memperkuat upaya warga yang selama ini telah mengelola sampah secara swadaya.

“Sejak dulu saya pemulung, sebelum saya jadi Ketua RT. Jadi soal sampah ini, saya sudah akrab dari dulu. Makanya saya merasa program ini pas sekali, karena apa yang dulu saya kerjakan sendiri sekarang bisa lebih terorganisir dan melibatkan banyak warga,” ujar Jumariah.

Menurut Jumariah, warga sebenarnya telah memahami pentingnya memisahkan sampah plastik dan organik. Namun, keterbatasan tempat pemilahan membuat sampah yang sudah dipisahkan sering kembali tercampur sehingga mengurangi nilai ekonominya.

“Sebenarnya warga di sini sudah mulai sadar, sampah plastik itu harus dipilah, jangan dicampur sama sisa makanan. Tapi kendalanya, tempat pemilahannya masih terbatas, jadi sering tercampur lagi. Kalau ada alat dan pelatihan seperti ini, kami sangat terbantu, apalagi sampah plastik yang tadinya dianggap tidak berguna bisa diolah jadi sesuatu yang bermanfaat untuk fasilitas wisata kami sendiri,” tutur Jumariah.

Tim PKM terdiri atas dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan Nursaleh Hartaman sebagai ketua, bersama Nurhikmah Paddiyatu dari Program Studi Arsitektur dan Nini Apriani Rumata dari Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, dengan dukungan mahasiswa dari kedua program studi. Selama pelaksanaan program, tim akan mengembangkan uji coba tata kelola sampah plastik skala rumah tangga, pelatihan pemadatan sampah plastik menjadi bahan baku ecobrick, penyusunan modul panel ecobrick, hingga penerapannya pada fasilitas wisata Pantai Anging Mammiri.

Keberadaan BSU Anging Mammiri sebagai mitra dinilai menjadi modal penting bagi keberhasilan program. Komunitas yang aktif sejak Mei 2024 itu telah mengelola bank sampah dan kini membina sekitar 60 nasabah, termasuk 32 nasabah tabungan emas yang memanfaatkan hasil penjualan sampah anorganik sebagai konversi tabungan.

Hasil FGD dan pemetaan timbulan sampah akan menjadi pijakan penyusunan tahapan program berikutnya. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat pesisir, tim berharap pengelolaan sampah plastik tidak hanya mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga menghasilkan nilai tambah bagi fasilitas wisata dan memperkuat budaya memilah sampah sejak dari rumah.