UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Hari Kartini, bagi Prof Dr Asriati, SE, MSi, bukan sekadar peringatan tahunan yang diisi dengan seremoni. Bagi Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Muhammadiyah Makassar itu, Kartini adalah simbol semangat juang perempuan untuk memperoleh ruang belajar, ruang bergerak, dan ruang berkembang secara lebih luas.
“Hari Kartini dimaknai oleh perempuan-perempuan Indonesia, dan terkhusus bagi saya pribadi yang berkiprah hingga mencapai jabatan fungsional guru besar di Unismuh, adalah suatu momentum yang tepat sesuai dengan cita-cita Kartini, yang memberikan kesempatan bagi perempuan untuk bisa belajar, mengembangkan dirinya, dan berorganisasi dalam rangka meningkatkan kualitasnya,” ujar Prof Asriati, saat dikonfirmasi pada Selasa, 21 April 2026.
Menurut dia, cita-cita Kartini tetap relevan hingga kini karena bertumpu pada satu hal mendasar: perempuan harus diberi kesempatan untuk bertumbuh. Dalam pandangannya, semua itu hanya dapat dicapai dengan semangat yang kuat, seperti semangat juang Kartini yang membuka ruang gerak lebih luas bagi perempuan dan membuat mereka tidak lagi terkungkung dalam batas-batas lama.
Pemaknaan itu terasa selaras dengan jejak akademik Prof Asriati sendiri. Pada 29 September 2025, ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Ekonomi Unismuh Makassar dalam Rapat Senat Terbuka Luar Biasa di Balai Sidang Muktamar ke-47. Dalam pengukuhan itu, ia mengangkat orasi ilmiah berjudul “Distribusi Faktor Etos Kerja dan Locus of Control terhadap Kinerja Karyawan”, yang menekankan bahwa peningkatan kinerja tidak hanya ditentukan oleh sistem dan struktur, tetapi juga oleh nilai, keyakinan, dan etos yang hidup dalam diri seseorang.
“Etos kerja adalah modal moral yang menentukan seberapa jauh seseorang bersungguh-sungguh dalam bekerja,” kata Asriati dalam orasi ilmiahnya.
Gagasan itu bukan hanya wacana akademik, melainkan cermin dari jalan hidupnya sendiri. Lahir di Makassar pada 1963, Prof Asriati menempuh pendidikan S1 Ekonomi Pembangunan di Universitas Muslim Indonesia pada 1988, melanjutkan S2 Agribisnis di Universitas Hasanuddin pada 2000, dan meraih gelar doktor Ilmu Manajemen di Universitas Muslim Indonesia pada 2023. Kariernya di Unismuh telah dimulai sejak 1990-an, hingga akhirnya mencapai jabatan akademik tertinggi.
Menjaga Waktu, Menjaga Peran
Di balik capaian itu, Prof Asriati mengakui bahwa tantangan paling berkesan dalam perjalanan hidupnya adalah mengatur waktu dan pekerjaan, baik di dalam maupun di luar rumah. Sebagai ibu rumah tangga sekaligus dosen, ia harus terus menjaga keseimbangan di antara berbagai peran yang berjalan bersamaan.
“Tantangan yang paling berkesan adalah mengatur waktu dan pekerjaan di dalam maupun di luar rumah sebagai ibu rumah tangga dan dosen,” tuturnya.
Namun, ia tidak memandang tantangan itu sebagai beban yang mematahkan langkah. Dengan ilmu, keterampilan, dan semangat yang dimiliki, ia merasa setiap kesulitan dapat diatasi. Di titik inilah, refleksi Kartini dalam diri Prof Asriati menemukan bentuknya yang nyata: perempuan tidak hanya dituntut untuk bertahan, tetapi juga untuk terus meningkatkan kualitas dirinya.
Pandangan itu sejalan dengan fokus keilmuannya tentang etos kerja dan locus of control. Dalam pidato pengukuhannya, Prof Asriati menekankan bahwa keberhasilan sangat ditentukan oleh kesadaran individu untuk bertanggung jawab atas apa yang dikerjakannya. Ia bahkan mengaitkan hal itu dengan firman Allah dalam QS Ar-Ra’d ayat 11, bahwa perubahan tidak akan terjadi sebelum manusia mengubah dirinya sendiri.
Karena itu, Kartini dalam tafsir Prof Asriati bukan hanya tentang emansipasi dalam pengertian umum, tetapi juga tentang sikap batin: disiplin, semangat, dan tanggung jawab untuk terus memperbaiki diri.
Disiplin, Kejujuran, dan Tanggung Jawab
Refleksi Hari Kartini Prof Asriati akhirnya bermuara pada pesan kepada mahasiswi dan perempuan muda Unismuh. Dalam pandangannya, semangat juang Kartini tidak cukup hanya dikagumi, tetapi harus diterjemahkan dalam laku hidup sehari-hari.
“Kepada perempuan-perempuan muda dan mahasiswi Unismuh, untuk mencapai semangat juang Kartini dalam pendidikan, kepemimpinan, dan perjuangan masa depan, tanamkanlah kedisiplinan, kejujuran, dan tanggung jawab dalam berpikir dan bertindak sehingga dapat melahirkan kemampuan yang unggul,” ujarnya.
Pesan itu terasa penting karena lahir dari seorang akademisi yang sendiri meniti jalan panjang menuju puncak karier dengan ketekunan. Selain aktif dalam penelitian, publikasi, dan pengabdian, Prof Asriati juga terlibat dalam berbagai organisasi sosial-keagamaan, seperti Sekretaris BAZNAS Mitra Masjid Az Zokraa, Sekretaris PRA Talasalapang Muhammadiyah, serta anggota aktif Aisyiyah. Dedikasinya juga mendapat penghargaan Satyalancana Karya Satya 20 Tahun dari Presiden RI pada 2016.
Di sana, tampak bahwa bagi Prof Asriati, keberhasilan perempuan tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kontribusi yang terus dirawat dalam masyarakat. Ilmu, etos kerja, dan kepemimpinan harus bertemu dalam tanggung jawab nyata.
Hari Kartini, dalam refleksi Prof Asriati, dengan demikian bukan sekadar pengingat masa lalu. Ia adalah momentum untuk menegaskan bahwa perempuan yang belajar, berkembang, berorganisasi, dan bekerja dengan etos yang baik, sesungguhnya sedang meneruskan cita-cita Kartini dalam bentuk yang paling hidup.

