April 21, 2026
JL. SULTAN ALAUDDIN NO. 259, Kec. Rappocini, Gunung Sari, Kota Makassar, 90221
BERITA UTAMA

Hari Kartini, Psikolog Unismuh Bekali PIM Sulsel Pengasuhan Positif

UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Peringatan Hari Kartini dimaknai secara substantif oleh Perempuan Indonesia Maju (PIM) Sulawesi Selatan melalui seminar bertema “Pola Pengasuhan Positif pada Anak” di Ballroom OJK Makassar, Senin, 21 Aprim 2026. Kegiatan ini dihadiri para pengurus dan anggota PIM Sulsel, dengan menempatkan isu pengasuhan sebagai bagian penting dari upaya pemberdayaan perempuan.

Seminar itu menghadirkan psikolog sekaligus dosen Unismuh Makassar, Rukiana Novianti P, S.Psi., M.Psi., Psikolog, sebagai salah satu pemateri utama. Selama sekitar 60 menit, Rukiana memaparkan materi secara hangat dan interaktif, mulai dari pilar-pilar pengasuhan positif, mitos dan fakta yang kerap berkembang di tengah masyarakat, tantangan mendidik anak di era digital, hingga persoalan yang dekat dengan keseharian orangtua: apakah pengasuhan positif berarti orangtua tidak boleh marah.

Dalam paparannya, Rukiana menegaskan bahwa pengasuhan positif tidak identik dengan memanjakan anak. Menurut dia, inti pengasuhan positif terletak pada keseimbangan antara kehangatan, ketegasan, dan penghormatan kepada anak sebagai individu.

“Pengasuhan positif adalah tentang mendidik dengan hangat, tegas, dan penuh rasa hormat. Anak yang merasa didengar dan dicintai tanpa syarat akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dan cerdas secara emosional,” ujarnya di hadapan peserta.

Ia juga membagikan sejumlah panduan praktis yang dapat langsung diterapkan di rumah, antara lain lima kalimat sederhana yang dapat membantu membangun komunikasi positif dengan anak, serta pedoman screen time berdasarkan kelompok usia. Materi itu dinilai relevan dengan situasi keluarga masa kini yang kian dekat dengan perangkat digital.

Salah satu bagian yang paling menyita perhatian peserta ialah pembahasan mengenai emosi marah dalam pengasuhan. Rukiana mengatakan, kemarahan merupakan emosi yang wajar dimiliki orangtua, tetapi harus dikelola secara sehat agar tidak berubah menjadi pelampiasan yang melukai anak.

“Marah yang dikelola dengan baik justru mengajarkan anak bahwa emosi bisa dikendalikan, bukan ditekan dan bukan pula diledakkan,” katanya.

Sekretaris PIM Sulsel, Sera, menilai seminar tersebut sangat dekat dengan kebutuhan para ibu. Menurut dia, materi yang disampaikan tidak hanya mudah dipahami, tetapi juga memberi ruang refleksi bagi peserta untuk meninjau kembali pola asuh yang selama ini dijalankan.

“Kegiatan ini benar-benar luar biasa dan sangat relevan untuk kami para ibu. Materi yang disampaikan sangat mudah dipahami, langsung menyentuh, dan bisa segera dipraktikkan di rumah. Seminar ini bukan hanya menjadi hadiah terbaik di Hari Kartini, tetapi juga pengingat bahwa menjadi ibu yang baik adalah perjuangan seumur hidup yang penuh cinta,” ujar Sera.

Antusiasme peserta tampak dalam sesi tanya jawab yang berlangsung hidup. Banyak peserta mengajukan pertanyaan seputar tantangan mendisiplinkan anak, membangun komunikasi yang sehat, hingga menghadapi pengaruh gawai dalam kehidupan keluarga.

Pada akhir kegiatan, panitia membagikan lembar refleksi berupa checklist pengasuhan mingguan sebagai bekal yang dapat digunakan peserta di rumah. Melalui langkah sederhana itu, seminar tidak berhenti pada tataran wacana, melainkan mendorong praktik pengasuhan yang lebih sadar dan terarah.

Bagi PIM Sulsel, peringatan Hari Kartini kali ini tidak sekadar seremoni tahunan. Momentum itu dimanfaatkan untuk menguatkan peran perempuan, khususnya para ibu, sebagai figur penting dalam pembentukan karakter anak dan masa depan generasi bangsa.