April 21, 2026
JL. SULTAN ALAUDDIN NO. 259, Kec. Rappocini, Gunung Sari, Kota Makassar, 90221
BERITA UTAMA

Prof Munirah Memaknai Kartini: Pendidikan Membebaskan, Integritas Meneguhkan

UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Hari Kartini bagi Prof Munirah bukan sekadar seremoni tahunan yang hadir bersama simbol-simbol peringatan. Bagi Guru Besar Ilmu Linguistik Terapan Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar itu, Kartini adalah pengingat bahwa ruang pendidikan dan kesempatan berkiprah bagi perempuan merupakan hasil dari perjuangan panjang yang harus terus dijaga, diteruskan, dan diperluas maknanya.

“Hari Kartini bagi saya bukan sekadar seremoni, tetapi pengingat bahwa akses pendidikan dan ruang berkiprah bagi perempuan adalah hasil perjuangan panjang Raden Ajeng Kartini,” ujar Prof Munirah, saat dikonfirmasi Selasa, 21 April 2026.

Sebagai guru besar, ia memaknai momentum itu sebagai tanggung jawab moral untuk terus membuka jalan bagi perempuan lain, menguatkan literasi, dan menghadirkan teladan bahwa perempuan sanggup memberi kontribusi nyata bagi ilmu pengetahuan dan masyarakat.

Pandangan itu terasa sejalan dengan jejak hidup akademiknya sendiri. Pada awal 2022, sivitas akademika Unismuh Makassar menyambut kabar gembira dengan terbitnya Surat Keputusan kenaikan jabatan fungsional Prof Munirah sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Linguistik Terapan. SK bernomor 95457/MPK.A/KP.05.01/2021 itu ditandatangani pada 31 Desember 2021 dan berlaku mulai 1 Januari 2022.

Capaian itu lahir dari jalan yang panjang. Prof Munirah, yang lahir di Mare, Bone, 26 Maret 1968, menamatkan pendidikan sarjana di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Hasanuddin pada 1992, meraih magister Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Makassar pada 2002, lalu menuntaskan doktor Linguistik di Universitas Hasanuddin pada 2014. Ia dikenal sebagai dosen DPK LLDIKTI Wilayah IX yang ditempatkan di Unismuh Makassar, sekaligus akademisi yang produktif menulis buku, artikel jurnal, dan prosiding nasional maupun internasional terindeks Scopus.

Di samping itu, Prof Munirah juga tercatat sebagai peraih penghargaan Satyalencana Karya Satya dari dua presiden: Satyalencana 10 tahun dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Satyalencana 20 tahun dari Presiden Joko Widodo. Pencapaian itu menandai satu hal yang kerap tidak tampak di permukaan: ketekunan yang dijaga dalam waktu panjang.

Ketekunan, Integritas, dan Jalan yang Tidak Singkat

Bagi Prof Munirah, perjalanan akademik perempuan tidak pernah sepenuhnya ringan. Tantangan yang paling berkesan baginya adalah menjaga konsistensi antara peran akademik, keluarga, dan tuntutan profesional, termasuk menghadapi stereotip terhadap kepemimpinan perempuan.

“Tantangan paling berkesan adalah menjaga konsistensi antara peran akademik, keluarga, dan tuntutan profesional, termasuk menghadapi stereotip terhadap kepemimpinan perempuan,” katanya.

Namun tantangan itu tidak dibacanya sebagai hambatan yang mematahkan langkah. Ia justru memaknainya sebagai energi untuk bertumbuh. Menurut dia, ketekunan, integritas, dan kompetensi adalah cara perempuan meneruskan semangat Kartini dalam konteks hari ini.

Makna itu terasa bertaut dengan pengalaman konkret yang pernah ia jalani saat mengurus guru besar. Ia mengakui proses tersebut membutuhkan keuletan, kesabaran, ketelitian, semangat yang terjaga, dan sikap tawakal. Ia juga mengungkapkan pernah dua kali melakukan perbaikan dalam proses pengusulan, sebuah fase yang memperlihatkan bahwa puncak akademik bukan hadiah yang turun begitu saja, melainkan hasil dari kerja tekun yang panjang.

“Pengalaman saya, sangat diperlukan keuletan, kesabaran, ketelitian, selalu semangat, dan tak lupa tawakkal kepada Allah SWT,” ujarnya kala itu.

Dalam proses itulah tampak bahwa Kartini, bagi Prof Munirah, tidak berbicara dalam bahasa retorik semata. Kartini hidup dalam disiplin akademik, dalam kesanggupan merawat konsistensi, dan dalam keberanian perempuan untuk tetap maju meski harus menembus ruang yang kadang masih dibayangi stereotip.

Pendidikan sebagai Fondasi Pembebasan

Refleksi Prof Munirah tentang Hari Kartini bermuara pada satu kata penting: pendidikan. Namun pendidikan, dalam pandangannya, tidak berhenti pada capaian formal atau gelar akademik. Pendidikan harus membangun kemerdekaan berpikir, integritas, dan keberanian untuk memimpin.

“Pesan saya untuk mahasiswi dan perempuan muda Unismuh: jadikan pendidikan sebagai fondasi utama untuk memerdekakan diri, bukan hanya meraih gelar, tetapi membangun cara berpikir kritis dan integritas,” tuturnya.

Ia juga mendorong mahasiswi dan perempuan muda agar berani memimpin dengan empati dan integritas, serta tidak takut gagal. Baginya, masa depan membutuhkan perempuan yang kritis, mandiri, dan berdaya juang tinggi. Karena itu, belajar tidak boleh dipandang sebagai fase yang selesai setelah wisuda, melainkan sebagai laku panjang untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat dan pencipta perubahan di lingkungan masing-masing.

Pesan ini terasa selaras dengan bidang keilmuan yang ditekuni Prof Munirah. Dalam dunia linguistik, bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga jalan untuk membangun literasi, kesadaran, dan kemampuan berpikir. Maka ketika ia menekankan pentingnya menguatkan literasi, sebenarnya ia sedang menegaskan bahwa perempuan yang terdidik adalah perempuan yang memiliki suara, daya tafsir, dan kemampuan untuk hadir secara utuh di ruang publik.

Hari Kartini, dalam refleksi Prof Munirah, dengan demikian tidak cukup diperingati dengan seremoni. Ia harus diterjemahkan menjadi ikhtiar yang konkret: membuka akses belajar, memperkuat budaya literasi, membangun integritas, dan menghadirkan teladan bahwa perempuan bisa berdiri kokoh di dunia ilmu pengetahuan.

Di Unismuh Makassar, jejak Prof Munirah memberi gambaran yang jernih tentang makna itu. Dari ruang bahasa menuju puncak akademik, dari ketekunan personal menuju teladan publik, Kartini tampak hidup bukan dalam slogan, melainkan dalam kerja panjang yang membebaskan.