April 21, 2026
JL. SULTAN ALAUDDIN NO. 259, Kec. Rappocini, Gunung Sari, Kota Makassar, 90221
BERITA UTAMA

Prof Andi Tenri Ampa Memaknai Kartini: Pendidikan adalah Jalan Perempuan Mengubah Zaman

UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR— Hari Kartini selalu membawa satu pesan yang tak lekang oleh waktu: pendidikan adalah jalan pembebasan. Bagi Prof Dr Andi Tenri Ampa, Guru Besar Ilmu Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Makassar, Hari Kartini bukan sekadar peringatan atas jasa seorang tokoh perempuan, melainkan momentum untuk menegaskan bahwa perempuan memiliki hak yang sama untuk mengakses pendidikan tinggi, mengembangkan kapasitas intelektual, dan memimpin perubahan.

Bagi Prof Andi Tenri Ampa, pencapaian perempuan hingga menduduki jabatan profesor tidak dapat dipandang semata sebagai keberhasilan individual. Di dalamnya, tersimpan sejarah panjang perjuangan emansipasi perempuan untuk memperoleh akses, kesempatan, dan pengakuan yang setara di bidang pendidikan tinggi.

“Hari Kartini memiliki makna yang sangat mendalam bagi saya yang dapat mencapai jabatan profesor, karena hal tersebut merepresentasikan keberhasilan perjuangan emansipasi perempuan dalam memperoleh akses, kesempatan, dan pengakuan yang setara di bidang pendidikan tinggi,” ujarnya saat dikonfirmasi Selasa, 21 April 2026.

Ia menegaskan, capaian perempuan sebagai profesor juga merupakan simbol transformasi sosial. Bagi dia, perempuan memiliki kapasitas intelektual, kepemimpinan akademik, dan kontribusi strategis dalam pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, serta peradaban bangsa. Karena itu, Hari Kartini menjadi ruang refleksi bahwa cita-cita tentang perempuan yang cerdas, mandiri, dan berdaya saing tetap hidup dalam kiprah perempuan Indonesia di ranah akademik.

Pandangan itu terasa berakar kuat pada perjalanan hidup akademiknya sendiri. Andi Tenri Ampa ditetapkan sebagai Guru Besar Ilmu Bahasa Inggris Unismuh Makassar melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nomor 26279/MPK.A/KP.05.01/2021 yang berlaku sejak 1 April 2021. Dengan capaian itu, ia tercatat sebagai guru besar kesembilan di Unismuh Makassar.

Lahir di Bone pada 23 November 1959, Prof Andi Tenri Ampa menyelesaikan pendidikan sarjana di IKIP Ujung Pandang pada 1983, meraih gelar magister Linguistik di Universitas Hasanuddin pada 1993, dan menamatkan studi doktor pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Makassar pada 2003 sebagai wisudawan terbaik universitas. Ia terangkat sebagai dosen PNS di Kopertis sejak 1986 dan pernah menjabat Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Unismuh Makassar pada 1991-2000.

Jejak akademiknya ditempa oleh waktu yang panjang. Ia juga dikenal produktif menulis puluhan karya ilmiah dalam bentuk buku, artikel jurnal, dan prosiding, baik pada skala nasional maupun internasional terindeks Scopus. Ketekunan itu pula yang membuat Rektor Unismuh saat itu, Prof Ambo Asse, menyebut perjuangannya layak menjadi teladan bagi dosen-dosen lain.

Menjaga Konsistensi di Tengah Banyak Peran

Di balik capaian itu, Prof Andi Tenri Ampa mengakui bahwa jalan akademik perempuan bukan lintasan yang sederhana. Salah satu tantangan yang paling berkesan baginya adalah menjaga konsistensi antara tuntutan profesional dan tanggung jawab personal.

“Salah satu tantangan yang paling berkesan dalam perjalanan akademik saya sebagai seorang profesor perempuan adalah bagaimana kita terus menjaga konsistensi antara tuntutan profesional dan tanggung jawab personal,” katanya.

Menurut dia, dunia akademik menuntut produktivitas tinggi, mulai dari menyelesaikan studi, melakukan penelitian, menulis dan memublikasikan karya ilmiah, hingga aktif dalam pengabdian kepada masyarakat. Pada saat yang sama, perempuan kerap pula dihadapkan pada tanggung jawab keluarga dan peran sosial yang tidak ringan. Karena itu, perjalanan seorang profesor perempuan, menurutnya, bukan hanya perjalanan intelektual, tetapi juga perjalanan ketahanan, kedisiplinan, dan pengorbanan.

Ia juga menyinggung soal perjuangan memperoleh pengakuan yang setara di lingkungan akademik. Dalam beberapa situasi, perempuan, katanya, masih harus bekerja lebih keras untuk membuktikan kapasitas intelektual dan kontribusinya.

“Ketika seorang perempuan berhasil mencapai posisi profesor, pencapaian tersebut bukan sekadar prestasi pribadi, tetapi juga menjadi simbol bahwa perempuan mampu menembus berbagai hal melalui ilmu pengetahuan, kerja keras, dan komitmen yang kuat,” ujarnya.

Bagi Prof Andi Tenri Ampa, tantangan itu justru dimaknai dalam semangat Hari Kartini. Kartini, menurut dia, mengajarkan bahwa perempuan harus berani keluar dari keterbatasan dan menjadikan pendidikan sebagai jalan kemajuan. Karena itu, setiap tantangan dalam perjalanan akademik bukanlah penghalang, melainkan proses yang menguatkan dan mematangkan.

“Tantangan itu saya maknai bukan sebagai penghalang, melainkan sebagai proses yang menguatkan, mematangkan, dan memberi makna lebih dalam pada setiap pencapaian,” tuturnya.

Pendidikan sebagai Jalan Kepemimpinan

Refleksi Kartini bagi Prof Andi Tenri Ampa tidak berhenti pada perjalanan dirinya. Ia menautkan pesan itu kepada mahasiswa dan perempuan muda, yang menurutnya harus memandang pendidikan sebagai instrumen strategis untuk membangun kapasitas intelektual, karakter, dan kesadaran sosial.

“Pendidikan harus dipandang sebagai instrumen strategis untuk membangun kapasitas intelektual, karakter, dan kesadaran sosial generasi muda,” ujarnya.

Karena itu, ia mendorong generasi muda agar tidak hanya mempersiapkan diri sebagai pencari kerja, tetapi juga sebagai agen perubahan yang mampu memimpin, berinovasi, dan memberi kontribusi bagi kemajuan masyarakat. Bagi dia, kepemimpinan masa depan membutuhkan individu yang bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara moral, adaptif terhadap perubahan, dan konsisten memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan kemajuan.

Pesan itu terasa sejalan dengan jalan hidupnya sendiri. Saat menerima SK guru besar, Prof Andi Tenri Ampa menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada banyak pihak, dari pimpinan LLDIKTI hingga pimpinan Unismuh dan rekan sejawat. Sikap itu menunjukkan bahwa capaian akademik, betapapun tinggi, tetap tumbuh dalam ekosistem dukungan, ketekunan, dan kerendahan hati.

Hari Kartini, dalam refleksi Prof Andi Tenri Ampa, dengan demikian bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah pengingat bahwa perempuan dapat mencapai puncak akademik melalui ilmu, kerja keras, dan komitmen yang panjang. Di situlah Kartini hidup: bukan hanya dalam buku sejarah, melainkan dalam ruang kuliah, dalam jurnal ilmiah, dalam ketekunan menuntut ilmu, dan dalam keberanian perempuan untuk memimpin masa depan.