UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Bagi Prof Nurlina, Hari Kartini bukan sekadar peringatan tahunan yang mengajak orang menoleh ke masa silam. Di dalamnya, tersimpan satu pesan yang terus hidup: perempuan harus diberi ruang untuk belajar, bertumbuh, dan berkontribusi. Bagi Guru Besar Pendidikan Fisika Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar itu, Kartini tidak berhenti sebagai nama besar dalam sejarah, melainkan menjelma menjadi semangat yang menuntun perempuan untuk menapaki pendidikan setinggi mungkin dan mengambil bagian dalam perubahan sosial.
Prof Nurlina memaknai capaian sebagai guru besar bukan sekadar jabatan akademik tertinggi. Baginya, posisi itu adalah simbol perjuangan, emansipasi, dan tanggung jawab sosial yang besar.
“Bagi saya, guru besar bukan sekadar pencapaian jabatan akademik tertinggi, melainkan simbol perjuangan, emansipasi, dan tanggung jawab sosial yang besar,” ujar Prof Nurlina, saat dikonfirmasi Selasa, 21 April 2026.
Menurut dia, jabatan fungsional tersebut menegaskan bahwa perempuan memiliki kapasitas intelektual yang sejajar dalam dunia akademik, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Perempuan, katanya, dapat berprestasi tinggi tanpa harus meninggalkan nilai-nilai etika dan budaya yang menjadi pijakannya.
“Momentum Hari Kartini adalah tentang melahirkan generasi perempuan tangguh yang berani bermimpi dan berkontribusi,” tuturnya.
Pandangan itu terasa berakar pada jalan panjang yang ia tempuh sendiri. Pada usia 42 tahun, Prof Nurlina meraih gelar guru besar dalam bidang Pendidikan Fisika, sebuah capaian yang menandai babak penting dalam perjalanan akademiknya di Unismuh Makassar. Ia menapaki jalan pendidikan dari Bone hingga ke Universitas Negeri Makassar, lalu tumbuh menjadi akademisi yang konsisten di bidang pendidikan fisika, khususnya pengembangan perangkat asesmen berbasis digital.
Pendidikan, Konsistensi, dan Jalan Panjang Akademik
Capaian akademik Prof Nurlina tidak datang dalam satu malam. Di balik terbitnya Surat Keputusan Guru Besar pada 2024, ada jejak panjang pendidikan, disiplin, dan konsistensi. Lahir di Koppe, Kabupaten Bone, 23 Juli 1982, ia menjalani pendidikan dasar hingga menengah di kampung halamannya sebelum melanjutkan studi sarjana, magister, dan doktor di Universitas Negeri Makassar.
Dalam karier akademiknya, Prof Nurlina pernah memimpin Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Unismuh selama dua periode, 2014-2018 dan 2018-2022. Ia juga aktif dalam pengembangan kurikulum, inovasi pembelajaran, penulisan buku ajar, serta publikasi ilmiah. Sejumlah karyanya, seperti Fisika Dasar Berorientasi Merdeka Belajar dan Asesmen Fisika Dasar Berbasis Digital, menjadi bagian dari kontribusinya dalam memajukan pendidikan fisika.
Namun, bagi Prof Nurlina, capaian tertinggi itu tetap harus dibaca sebagai hasil perjuangan melalui pendidikan yang konsisten dan komitmen yang tinggi. Di situlah ia melihat warisan Kartini yang paling nyata.
“Saya mampu meraih jabatan akademik tertinggi sebagai guru besar merupakan hasil perjuangan melalui pendidikan yang konsisten dan komitmen yang tinggi. Hal itu juga merupakan wujud nyata dari warisan perjuangan Kartini yang menekankan pentingnya akses pendidikan tinggi bagi perempuan,” katanya.
Dengan cara pandang itu, guru besar bukan sekadar gelar, melainkan penanda bahwa perempuan dapat menembus ruang-ruang yang dulu kerap dianggap sulit dijangkau, selama ada ketekunan untuk belajar dan keberanian untuk terus melangkah.
Menyeimbangkan Peran, Meneguhkan Diri
Jika ada tantangan yang paling membekas dalam perjalanan akademiknya, Prof Nurlina menyebut manajemen waktu sebagai ujian yang paling berat. Sebagai perempuan, ia harus menyeimbangkan tanggung jawab keluarga dengan tuntutan produktivitas di kampus, mulai dari mengajar pada jenjang S1, S2, dan S3, meneliti, memublikasikan karya ilmiah di jurnal bereputasi, menulis buku, hingga melakukan pengabdian kepada masyarakat.
“Bagi saya tantangan yang paling berkesan adalah manajemen waktu yang ekstrem,” ungkapnya.
Tantangan itulah yang kemudian membentuk caranya memaknai Kartini hari ini. Baginya, Kartini masa kini bukan semata berbicara tentang emansipasi dalam arti formal, melainkan tentang kemerdekaan perempuan untuk berkarya tanpa kehilangan jati dirinya.
“Kartini modern adalah sosok yang berani mengambil peran, berdikari, dan tidak memandang diri sebelah mata,” ujar Prof Nurlina.
Ia menambahkan, semangat Kartini juga harus dibaca melalui pendidikan dan pengembangan potensi diri. Pendidikan, menurut dia, bukan hanya soal gelar, tetapi juga tentang kemampuan menghadirkan riset dan inovasi yang berdampak.
“Memaknai Kartini berarti meraih pendidikan setinggi-tingginya dan terus mengembangkan diri melalui riset dan inovasi yang berdampak,” katanya.
Refleksi itu lalu berujung pada pesan yang ia tujukan kepada mahasiswi dan perempuan muda di Unismuh. Ia berharap mereka tumbuh menjadi perempuan tangguh, berkarakter, dan berpendidikan tinggi, yang siap memimpin perubahan.
“Saya berharap agar mahasiswi menjadi perempuan tangguh, berkarakter, dan berpendidikan tinggi untuk memimpin perubahan,” tutur Prof Nurlina.
Menurut dia, mahasiswi harus mengutamakan akademik, aktif berorganisasi tanpa fanatisme kedaerahan, serta siap menjadi agen perubahan yang cerdas, mandiri, dan berdaya saing global. Mereka juga harus tetap optimistis menyelesaikan pendidikan, berwawasan luas, dan mampu menginspirasi lingkungan sekitarnya.
Hari Kartini, dalam refleksi Prof Nurlina, dengan demikian bukan sekadar seremoni yang datang dan pergi saban tahun. Ia adalah pengingat bahwa perjuangan perempuan bertumpu pada ilmu, ketekunan, dan keberanian. Dari pendidikan, perempuan membangun kapasitas dirinya. Dari konsistensi, perempuan membentuk daya tahannya. Dan dari keberanian, perempuan mengambil tempatnya dalam perubahan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai yang dijunjungnya.
Di Unismuh Makassar, jejak Prof Nurlina menjadi salah satu bentuk hidup dari pesan itu: bahwa perempuan dapat mencapai puncak akademik, tetap menjaga etika dan budaya, serta menyalakan inspirasi bagi generasi berikutnya.

