UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR – Mahasiswa Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar, mengikuti kegiatan outdoor class yang memadukan diskusi interaktif, latihan bahasa Inggris, dan pengembangan diri di Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Ahad, 19 April 2026.
Kegiatan yang digelar bekerja sama dengan Benteng Panynyua English Club (BPEC) Makassar itu mengangkat tema “The Importance of Setting Boundaries in Life”. Tema tersebut dipilih untuk mengajak peserta memahami pentingnya menetapkan batasan dalam kehidupan personal maupun profesional.
Bertempat di salah satu situs bersejarah Kota Makassar, kegiatan ini dirancang sebagai ruang belajar alternatif di luar kelas formal. Suasana terbuka yang segar memberi pengalaman berbeda bagi peserta untuk mengasah kemampuan komunikasi dalam bahasa Inggris sekaligus memperluas wawasan sosial.
Peserta yang terlibat datang dari beragam latar belakang, mulai dari santri, mahasiswa, hingga masyarakat umum. Keberagaman itu membuat diskusi berlangsung dinamis karena tiap peserta membawa pengalaman dan pandangan yang berbeda tentang makna, manfaat, serta cara menerapkan batasan diri dalam kehidupan sehari-hari.
Rangkaian acara diawali dengan sesi perkenalan dan warm-up untuk membangun kedekatan antarpeserta. Panitia kemudian menghadirkan permainan edukatif atau ice breaking guna mencairkan suasana dan mendorong kepercayaan diri peserta dalam berbicara bahasa Inggris.
Pada sesi inti, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok diskusi terfokus. Mereka membahas pentingnya menjaga kesehatan mental melalui batasan diri, tantangan budaya dan sosial dalam menerapkan batasan di kehidupan sehari-hari, serta strategi komunikasi asertif tanpa merusak hubungan antarindividu.
Kegiatan ini dibimbing oleh dosen pengampu Safri Haliding, S.E., M.Sc., serta didampingi M. Yusuf Saleh, S.M. Kehadiran pembimbing memberi arah agar pembahasan tetap tajam, terstruktur, dan memiliki landasan akademik.
Setelah jeda istirahat, setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi dalam sesi berbagi. Pada kesempatan itu, Safri Haliding menegaskan bahwa kemampuan bahasa Inggris penting untuk diasah dalam konteks nyata, baik di lingkungan kampus maupun di dunia kerja.
Salah seorang peserta, Realy Mutiara Awalia, menilai kegiatan tersebut memberi manfaat besar bagi mahasiswa. Menurut dia, peserta tidak hanya memperoleh ruang untuk bertukar gagasan, tetapi juga kesempatan memperluas jejaring.
“Kegiatan ini berjalan sangat baik dan memberi manfaat besar bagi mahasiswa. Kami mendapat kesempatan memperluas jaringan, termasuk bertukar kontak dengan pemateri. Sesi tukar pendapat juga sangat efektif dalam mengasah kemampuan beropini, khususnya dalam bahasa Inggris. Jika ada program serupa pada masa mendatang, saya pasti akan ikut kembali,” ujarnya.
Pada akhir kegiatan, peserta mendapat sesi motivasi untuk menumbuhkan rasa percaya diri. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional serta kemampuan berkomunikasi yang inklusif di tengah masyarakat yang beragam.

