April 21, 2026
JL. SULTAN ALAUDDIN NO. 259, Kec. Rappocini, Gunung Sari, Kota Makassar, 90221
BERITA UTAMA

Sekretaris Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah: Dosen Unismuh Harus Integrasikan Ilmu dan Nilai

UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR – Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Ahmad Muttaqin menegaskan pentingnya penguatan mutu Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dalam kehidupan perguruan tinggi Muhammadiyah. Penegasan itu disampaikan dalam salah satu sesi materi Darul Arqam Angkatan III Unismuh Makassar, Jumat, 17 April 2026, di Balai Sidang Muktamar 47 Unismuh Makassar.

Dalam paparannya, Ahmad Muttaqin menempatkan perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah sebagai kekuatan penting dalam peta pendidikan tinggi nasional. Ia menyebut, hingga kini terdapat 163 perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Indonesia. Jumlah itu setara sekitar 4 persen dari total perguruan tinggi di Tanah Air. Dari angka tersebut, 21 perguruan tinggi telah meraih akreditasi unggul, termasuk Unismuh Makassar.

Menurut dia, capaian itu menunjukkan bahwa Muhammadiyah bukan hanya bertumbuh secara kuantitatif, melainkan juga memperlihatkan kualitas yang kompetitif. “Rata-rata nasional perguruan tinggi negeri swasta yang unggul hanya lima persen, tapi kita menyumbang sembilan,” ujarnya, menegaskan posisi PTMA yang dinilainya berada di atas rata-rata nasional.

Namun, bagi Ahmad Muttaqin, kemajuan kelembagaan tidak cukup diukur dari jumlah kampus, program studi, atau akreditasi semata. Yang lebih penting ialah memastikan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan benar-benar hidup dalam sistem pendidikan. Karena itu, ia menekankan perlunya implementasi standar mutu AIK secara konsisten, terukur, dan menyeluruh.

Ia menjelaskan, pendidikan tinggi Muhammadiyah tidak cukup hanya bertumpu pada tridarma perguruan tinggi. Muhammadiyah, kata dia, menempatkan AIK sebagai dharma keempat, sehingga pendidikan, penelitian, pengabdian, dan penguatan nilai keislaman harus berjalan beriringan. “Kalau di perguruan tinggi lain kita kenal ada tridharma, maka di Muhammadiyah ini menjadi catur dharma. Dharma yang keempat itu adalah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan,” katanya.

Dari sini, Ahmad Muttaqin mengingatkan bahwa AIK tidak boleh berhenti sebagai identitas simbolik. AIK harus diturunkan ke dalam dokumen standar, kurikulum, proses pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, tata kelola kampus, hingga budaya akademik sehari-hari. Standar itu, menurut dia, diperlukan agar tujuan pendidikan Muhammadiyah tidak berjalan sebagai rutinitas administratif semata, melainkan sungguh-sungguh berdampak bagi pembentukan insan akademik yang utuh.

Ia juga menyoroti masih adanya pekerjaan rumah dalam implementasi standar mutu AIK di sejumlah perguruan tinggi Muhammadiyah. Hasil evaluasi, kata dia, menunjukkan bahwa beberapa aspek, seperti sumber daya manusia, kemahasiswaan, sarana-prasarana, penelitian, dan pengabdian, masih belum sepenuhnya memenuhi standar yang diharapkan. Karena itu, ia mendorong agar panduan implementasi AIK benar-benar dipahami dan diterapkan di level pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa.

Khusus kepada para dosen, Ahmad Muttaqin menekankan peran strategis yang tidak ringan. Dosen tidak hanya dituntut menguasai bidang ilmunya, tetapi juga harus mampu menjadi penghubung antara ilmu dan nilai. Dalam pandangannya, dosen Muhammadiyah harus hadir sebagai integrator ilmu dan nilai, teladan akhlak dan profesionalitas, intelektual publik yang organik, sekaligus penggerak inovasi dan kemajuan.

Ia menegaskan, tanggung jawab dakwah di kampus Muhammadiyah tidak hanya berada di pundak dosen AIK. Seluruh dosen, apa pun disiplin ilmunya, memiliki kewajiban menghadirkan nilai-nilai Islam Berkemajuan dalam praktik akademik. “Semua yang ada di sini, fakultas apa pun itu, punya kewajiban untuk melakukan dakwah sesuai dengan bidangnya masing-masing,” ujarnya.

Dalam konteks itu, mahasiswa dipandang bukan sekadar peserta didik, melainkan subyek dakwah yang datang ke kampus dengan kesadaran sendiri. Karena itu, sivitas akademika diminta tidak menyia-nyiakan ruang pendidikan yang telah dipercayakan masyarakat kepada perguruan tinggi Muhammadiyah. Pendidikan, bagi Ahmad Muttaqin, harus diolah menjadi sarana transformasi, pembinaan karakter, sekaligus penguatan orientasi keummatan.

Ia juga mengapresiasi langkah Unismuh Makassar yang, menurut dia, telah berada di jalur yang tepat melalui penguatan Darul Arqam dan pembiasaan ibadah sesuai tarjih. Upaya tersebut dinilai penting untuk memperkuat kompetensi AIK dosen baru, sekaligus menanamkan kesadaran bahwa kampus Muhammadiyah harus tumbuh sebagai institusi yang unggul tanpa tercerabut dari akar ideologisnya.

Pada akhirnya, pesan yang mengemuka dari materi Ahmad Muttaqin ialah bahwa mutu perguruan tinggi Muhammadiyah tidak hanya ditentukan oleh akreditasi, angka-angka kelembagaan, atau reputasi akademik. Mutu itu justru diuji pada kemampuan kampus melahirkan dosen, mahasiswa, dan budaya akademik yang memadukan kecakapan ilmiah, integritas moral, serta keberpihakan pada misi Islam Berkemajuan.