April 17, 2026
JL. SULTAN ALAUDDIN NO. 259, Kec. Rappocini, Gunung Sari, Kota Makassar, 90221
BERITA UTAMA

Darul Arqam Unismuh Makassar, Ketua MPKSDI PP Muhammadiyah: Dosen Mengajar Saja Tidak Cukup, Harus Jadi Penggerak Dakwah

UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR – Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr Bachtiar Dwi Kurniawan, menegaskan bahwa dosen di perguruan tinggi Muhammadiyah tidak cukup hanya menjalankan fungsi pengajaran, tetapi juga memikul tanggung jawab dakwah, kaderisasi, dan pembentukan karakter. Pesan itu disampaikan dalam materi Risalah Islam Berkemajuan pada Darul Arqam Angkatan III Dosen Unismuh Makassar, Jumat, 17 April 2026, di Balai Sidang Muktamar, Kampus Unismuh Makassar.

Di hadapan para dosen peserta Darul Arqam, Bachtiar menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak lagi dapat dipahami hanya sebagai fenomena lokal, melainkan telah berkembang menjadi gerakan yang melampaui batas-batas geografis.

“Muhammadiyah sekarang organisasinya tumbuh. Muhammadiyah tidak hanya fenomena lokal di Jogja dan sekitarnya. Bahkan Muhammadiyah menjadi fenomena global setelah menjadi fenomena nasional,” ujarnya.

Menurut dia, kemajuan Muhammadiyah dapat dilihat dari banyak sisi, mulai dari meluasnya organisasi, bertambah kuatnya amal usaha, membesarnya aset persyarikatan, hingga makin tingginya kepercayaan publik. Dalam paparannya, ia menyatakan, “AUM semakin banyak, bahkan semakin maju, semakin kuat,” lalu menambahkan bahwa “aset Muhammadiyah semakin besar, semakin banyak.”

Bagi Bachtiar, capaian itu menuntut seluruh warga persyarikatan, termasuk dosen di perguruan tinggi Muhammadiyah, untuk menjaga amanah organisasi sekaligus memperluas manfaatnya bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Ia menekankan bahwa tujuan Muhammadiyah bukan semata membangun sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, atau unit amal usaha lainnya. “Muhammadiyah berdiri untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga tercipta masyarakat Islam yang sebenar-benarnya,” katanya.

Dalam pembacaan Muhammadiyah, tujuan itu bertaut dengan gagasan Islam Berkemajuan, yakni Islam yang menghadirkan pencerahan, kemaslahatan, dan perubahan sosial yang berorientasi pada kemajuan.

Kepada para dosen Unismuh, Bachtiar mengingatkan bahwa peran dosen di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah tidak berhenti pada tugas mengajar. Dosen, kata dia, memikul tanggung jawab yang lebih luas, yakni mendidik, membentuk karakter, melayani mahasiswa, berdakwah, sekaligus terlibat dalam kaderisasi persyarikatan. “Tugas bapak ibu mendidik. Mendidik lebih luas daripada mengajar,” ujarnya.

Menurut Bachtiar, tugas mendidik jauh lebih besar daripada sekadar mentransfer pengetahuan. Di tengah perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, dan arus informasi yang serba cepat, dosen tidak cukup hanya menjadi penyampai materi kuliah. Peran yang tak tergantikan justru terletak pada kemampuan membentuk jiwa, menanamkan karakter, serta menyiapkan mahasiswa menjadi pribadi yang cerdas, berintegritas, dan berkeadaban.

“Bapak ibu tidak hanya tugas mengajar transfer of knowledge, tapi bapak ibu juga harus shape the soul, build the character,” katanya. Ia menambahkan, “Pendidikan di Muhammadiyah tidak hanya ingin melahirkan anak-anak yang pintar, tetapi juga anak-anak yang berkah dan berkarakter.”

Ia juga menyoroti pentingnya pelayanan akademik yang baik sebagai bagian dari wajah dakwah kampus. Menurut dia, mahasiswa yang telah memilih kuliah di perguruan tinggi Muhammadiyah harus dilayani secara sungguh-sungguh, mulai dari proses pembelajaran, komunikasi akademik, hingga pembimbingan. “Sudah masuk di sini, layani baik-baik,” ujarnya. Pelayanan yang baik, lanjut dia, akan melahirkan kepercayaan, memperkuat citra institusi, dan menjadi bagian dari dakwah yang hidup dalam keseharian kampus.

Selain itu, Bachtiar mengingatkan bahwa dosen di lingkungan Muhammadiyah memiliki tugas tambahan yang tidak selalu ditemukan di perguruan tinggi lain, yakni berdakwah melalui kompetensi akademik masing-masing. “Bapak ibu harus punya tugas tambahan, itu berdakwah,” katanya.

Dakwah, menurut dia, tidak semata dipahami sebagai ceramah di mimbar, melainkan juga dapat diwujudkan melalui pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan keterlibatan aktif dalam memajukan amal usaha Muhammadiyah.

Ia mendorong agar pengabdian dosen diarahkan untuk memperkuat basis-basis persyarikatan, seperti ranting, cabang, sekolah, klinik, masjid, dan berbagai unit amal usaha Muhammadiyah yang membutuhkan sentuhan keilmuan. Dengan demikian, aktivitas akademik dosen tidak berjalan terpisah dari kebutuhan organisasi, tetapi justru menjadi energi bagi penguatan dakwah persyarikatan.

Poin lain yang mendapat penekanan adalah kaderisasi. Bachtiar menyebut, perjalanan Muhammadiyah tidak dapat dilepaskan dari dakwah dan kaderisasi sebagai dua sisi yang saling menopang. “Perjalanan Muhammadiyah itu tidak bisa dilepaskan dari berdakwah dan kaderisasi,” ujarnya. Dakwah diarahkan untuk mendorong kemajuan kehidupan umat, sedangkan kaderisasi bertujuan menumbuhkan generasi penerus yang akan melanjutkan, menjaga, dan mengembangkan visi besar Muhammadiyah.

Dalam konteks itu, ia menegaskan bahwa dosen Unismuh bukan hanya tenaga akademik, tetapi juga bagian dari kader persyarikatan. “Bapak ibu adalah pewaris daripada Muhammadiyah dan Aisyiyah,” katanya. Mereka dipandang sebagai pewaris yang pada masa depan akan mengelola, merawat, dan mengembangkan organisasi beserta amal usahanya. Karena itu, keterlibatan aktif dosen dalam struktur, kegiatan, dan kehidupan Muhammadiyah dinilai menjadi bagian penting dari proses pembentukan kader yang utuh.

Bachtiar juga memperluas horizon peran dosen Muhammadiyah dengan menekankan pentingnya membangun atmosfer intelektual yang tidak hanya berpengaruh di tingkat lokal, tetapi juga di tingkat global. Dosen Muhammadiyah, menurut dia, harus mampu hadir dalam jejaring akademik internasional, melakukan riset dan pengabdian lintas negara, serta membawa misi pencerahan Muhammadiyah ke ruang global.

Melalui materi Risalah Islam Berkemajuan itu, Bachtiar pada dasarnya mengajak para dosen baru Unismuh Makassar untuk melihat profesi dosen bukan hanya sebagai pekerjaan, melainkan sebagai ruang pengabdian yang memadukan profesionalisme akademik, dakwah, dan kaderisasi. Darul Arqam, dalam kerangka itu, menjadi pintu masuk untuk meneguhkan orientasi ideologis dan tanggung jawab persyarikatan para dosen di lingkungan Unismuh Makassar.