UNISMUH.AC.ID, MALAYSIA— Dosen Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Dr Ramly, S.E., M.Si., CAP, menjadi pembicara dalam kegiatan guest lecturer di Politeknik Besut, Terengganu, Malaysia, yang digelar pada Kamis 16 April 2026. Dalam kesempatan tersebut, ia memaparkan materi bertajuk “Hubungan Nilai Perusahaan dan Intellectual Capital” di hadapan mahasiswa Departemen Teknologi dan Informasi.
Kolaborasi Riset Internasional
Ramly dikenal sebagai akademisi sekaligus peneliti aktif di pasar modal Indonesia, dengan fokus kajian pada nilai perusahaan dan koneksi politik. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari kolaborasi riset internasional antara Unismuh Makassar dan Politeknik Besut Terengganu.
Penelitian tersebut mengusung judul “Beyond Resources and Rent-Seeking: Political Connections and CEO Power as Contingent Forces in the Intellectual Capital–Firm Value Relationship, Evidence from Indonesia and Malaysia”. Ramly bertindak sebagai ketua peneliti, dengan anggota tim di antaranya Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unismuh Makassar, Dr Edi Jusriadi, serta dosen dari Politeknik Besut Malaysia.
Pentingnya Intellectual Capital di Era Digital
Dalam pemaparannya, Ramly menekankan pentingnya modal intelektual (intellectual capital) dalam menentukan nilai perusahaan di era digital. Ia mencontohkan perusahaan teknologi global yang memiliki valuasi sangat tinggi meskipun tidak bergantung pada aset fisik.
“Apa yang membuat perusahaan seperti Meta atau Tesla bernilai sangat tinggi? Jawabannya adalah intellectual capital. Di era digital, aset fisik hanya menyumbang sebagian kecil dari nilai perusahaan. Selebihnya ditentukan oleh pengetahuan, data, inovasi, dan relasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa modal intelektual mencakup berbagai aspek, mulai dari kemampuan sumber daya manusia, inovasi, hingga jaringan dan hubungan dengan pelanggan. Faktor-faktor tersebut dinilai menjadi penentu utama daya saing perusahaan modern.
Pesan untuk Mahasiswa Teknologi
Pada kesempatan itu, Dr Ramly juga memberikan pesan kepada mahasiswa, khususnya di bidang teknologi. Ia mengingatkan agar tidak hanya mengandalkan keterampilan teknis, tetapi juga terus mengembangkan kapasitas berpikir dan berinovasi.
“Ketika lulus, jangan hanya menjual keterampilan teknis. Kembangkan human capital sebagai bagian dari intellectual capital, terus belajar dan bangun portofolio. Perusahaan masa depan tidak hanya melihat ijazah, tetapi kapasitas berpikir dan inovasi,” katanya.
Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kerja sama akademik internasional sekaligus memperluas wawasan mahasiswa mengenai perkembangan ilmu ekonomi dan teknologi di tingkat global.

