UNISMUH.AC, ID, MAKASSAR — Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) didorong untuk semakin memperkuat perannya sebagai media dakwah dan pusat kaderisasi yang strategis dalam menjawab tantangan zaman. Hal ini mengemuka dalam pemaparan materi bertajuk PTMA sebagai Media Dakwah dan Kaderisasi yang disampaikan oleh Dr. Mawardi Pewangi saat menyampaikan materi dalam acara Baitul Arqam Tahap III untuk dosen baru di Balai Sidang Muktamar ke-47 Unismuh Makassar, Selasa, 14 April 2026.
Dalam paparannya, Mawardi menegaskan bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan Islam memiliki misi utama dakwah amar ma’ruf nahi mungkar dan tajdid yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Misi tersebut, kata dia, harus diwujudkan secara konkret melalui institusi pendidikan tinggi Muhammadiyah.
“PTMA tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai wadah strategis untuk membentuk sarjana muslim yang berakhlak mulia, cakap, dan memiliki kontribusi nyata bagi masyarakat dan negara,” ujarnya.
Penguatan Peran Strategis PTMA
Ia menjelaskan, tujuan PTMA mencakup pengembangan ilmu pengetahuan berbasis nilai-nilai Islam, pendidikan karakter, hingga peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui penelitian dan pengabdian. Dengan demikian, PTMA menjadi ruang integrasi antara sains, teknologi, seni, dan nilai keislaman.
Lebih lanjut, PTMA dinilai memiliki peran penting dalam memperkuat dakwah Muhammadiyah. Kampus tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang pembinaan kader yang sistematis. Mahasiswa diarahkan untuk menjadi agen dakwah yang mampu menjawab persoalan umat dan bangsa.
Kampus sebagai Pusat Kaderisasi
“PTMA harus menjadi pusat persemaian kader melalui organisasi kemahasiswaan seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), serta didukung dengan berbagai instrumen kaderisasi lainnya,” kata Mawardi.
Menurutnya, efektivitas peran PTMA sebagai media dakwah dan kaderisasi dapat dilihat dari beberapa aspek. Pertama, kampus menjadi wadah penyebaran ajaran Islam yang murni kepada mahasiswa. Kedua, PTMA menjadi tempat pengembangan kepemimpinan kader muda Muhammadiyah. Ketiga, kampus berperan sebagai pusat riset keilmuan berbasis Islam. Keempat, PTMA mampu membangun jejaring dengan masyarakat melalui cabang, ranting, dan masjid.
Integrasi Ilmu dan Nilai AIK
Ia menambahkan, keberhasilan kaderisasi sangat ditentukan oleh sistem yang terstruktur, pembinaan ideologi yang kuat, serta keteladanan atau uswatun hasanah dalam kehidupan kampus. Program-program seperti Darul Arqam, Baitul Arqam, hingga penguatan ideologi Muhammadiyah menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Selain itu, pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan juga diharapkan aktif dalam kegiatan pembinaan di tingkat cabang dan ranting Muhammadiyah, serta berkontribusi dalam memakmurkan masjid sebagai pusat peradaban umat.
“PTMA adalah institusi strategis yang tidak hanya mencetak ilmuwan, tetapi juga melahirkan kader persyarikatan yang berintegritas dan siap menjadi penggerak dakwah berkemajuan,” ujarnya.
Mawardi menekankan, masa depan Muhammadiyah sangat ditentukan oleh kekuatan PTMA dalam menjalankan fungsi dakwah dan kaderisasi. Oleh karena itu, sinergi antara penguatan akademik dan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) menjadi kunci utama dalam mencetak generasi unggul.
Dengan peran tersebut, PTMA diharapkan mampu menjadi pusat lahirnya kader yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga kokoh secara ideologis dan berkomitmen pada nilai-nilai kemanusiaan serta kemajuan umat.

