September 23, 2026
JL. SULTAN ALAUDDIN NO. 259, Kec. Rappocini, Gunung Sari, Kota Makassar, 90221
Berita Utama

Tim Pakar Unismuh Kaji Kesiapan Hilirisasi LMO untuk Formula Pakan Ikan

UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar meraih pendanaan Skema Dorongan Teknologi: Tim Pakar/Pengkaji 2026 dari Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk mengkaji kesiapan hilirisasi teknologi Lemak-Mineral-Organik (LMO) dalam formula pakan ikan.

Tim tersebut diketuai Dr Ir Rahmi, S.Pi., M.Si., IPU., dengan melibatkan empat pakar dari bidang berbeda. Kajian tidak hanya memeriksa kesiapan teknis produk, tetapi juga potensi pasar dan model bisnis, kelayakan keuangan dan risiko, hingga regulasi serta perlindungan kekayaan intelektual.

Rahmi mengatakan, pendekatan multidisipliner diperlukan agar teknologi yang dikembangkan tidak berhenti pada tahap riset, tetapi mempunyai peta jalan yang lebih jelas menuju pemanfaatan dan komersialisasi.

“Hilirisasi teknologi tidak cukup hanya memastikan bahwa produknya bekerja secara teknis. Kita juga harus melihat kesiapan produksinya, siapa calon penggunanya, apakah layak secara finansial, dan apakah seluruh aspek regulasi serta kekayaan intelektualnya sudah terpenuhi,” ujar Rahmi, Rabu, 23 September 2026.

Menurutnya, kajian tersebut akan menghasilkan gambaran yang lebih utuh mengenai posisi teknologi LMO sebelum didorong menuju tahap pengembangan berikutnya.

Uji Kesiapan Teknologi

Pada aspek teknis, tim melibatkan Dr Nur Insana Salam, S.Pi., M.Si. Kajian dilakukan terhadap karakteristik dan fungsi teknologi, spesifikasi dan parameter kinerja, serta Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT). Penilaian TKT diperlukan untuk melihat sejauh mana teknologi telah matang dan siap bergerak menuju penerapan yang lebih luas.

Kajian juga mencakup alur proses produksi, kebutuhan bahan baku dan utilitas, peralatan, sumber daya manusia, kapasitas produksi, peluang peningkatan skala atau scale-up, reliabilitas, serta mutu produk.

Tim sekaligus mengidentifikasi titik hambatan atau bottleneck yang masih membutuhkan penyempurnaan sebelum teknologi masuk tahap hilirisasi.

Rahmi mengatakan, bagian teknis menjadi fondasi awal karena pengembangan skala produksi membutuhkan konsistensi mutu dan kesiapan proses.

“Kami ingin mengetahui secara objektif bagian mana dari teknologi ini yang sudah siap dan bagian mana yang masih harus diperbaiki. Kalau nantinya masuk ke skala yang lebih besar, produk harus tetap memiliki mutu, kinerja, dan proses produksi yang dapat dipertanggungjawabkan,” jelasnya.

Teknologi Harus Bertemu Pasar

Aspek pasar dan model bisnis dikaji Dr Asriyanti Syarif, S.P., M.Si. Kajian meliputi segmentasi dan target pasar, profil serta kebutuhan calon pengguna, ukuran dan tren pasar, tingkat permintaan, hingga faktor-faktor yang mendorong pasar.

Tim juga akan memetakan kompetitor dan produk substitusi untuk mengetahui posisi serta keunggulan LMO dibandingkan produk lain.

Harga dan willingness to pay atau kesediaan calon pengguna untuk membayar turut divalidasi.

Hasil analisis tersebut kemudian digunakan untuk menyusun value proposition, strategi pemasaran, kanal distribusi, strategi masuk pasar atau go-to-market, serta Business Model Canvas.

Menurut Rahmi, keberhasilan hilirisasi sangat bergantung pada kesesuaian antara inovasi yang dikembangkan dan kebutuhan pengguna.

“Teknologi yang baik belum tentu otomatis diterima pasar. Karena itu, kami perlu mengetahui siapa pengguna potensialnya, apa yang mereka butuhkan, berapa harga yang dapat diterima, dan apa keunggulan produk ini dibandingkan alternatif yang sudah tersedia,” katanya.

Hitung Investasi dan Risiko

Kajian keuangan dan risiko ditangani Dr Khadijah Darwin, S.E., M.Ak., Ak. Tim akan menyusun estimasi investasi awal, biaya operasional, struktur biaya produksi, kebutuhan modal kerja, serta proyeksi pendapatan, laba, dan arus kas.

Kelayakan investasi dianalisis menggunakan sejumlah instrumen, antara lain Break-Even Point (BEP), Payback Period (PBP), Net Present Value (NPV), dan Internal Rate of Return (IRR).

Analisis sensitivitas juga dilakukan untuk melihat pengaruh perubahan biaya produksi, harga jual, kapasitas produksi, maupun permintaan terhadap kelayakan usaha.

Selain itu, tim memetakan risiko finansial, operasional, pasar, investasi, dan keberlanjutan usaha beserta alternatif mitigasinya.

Rahmi mengatakan, kajian finansial diperlukan agar keputusan hilirisasi tidak hanya didasarkan pada keunggulan teknologi.

“Kami harus memastikan produk ini bukan hanya memungkinkan untuk dibuat, tetapi juga masuk akal secara ekonomi. Struktur biaya, kebutuhan investasi, potensi pendapatan, dan berbagai risikonya harus dihitung sejak awal agar hilirisasi dapat berlangsung secara berkelanjutan,” ujarnya.

Regulasi hingga Kekayaan Intelektual

Aspek regulasi dan hukum ditangani Dr Auliah Andika Rukman, S.H., M.H. Kajian mencakup pemetaan regulasi sektoral, perizinan teknis dan komersial, sertifikasi, serta standar mutu yang harus dipenuhi sebelum produk masuk ke pasar.

Tim juga mengkaji status dan strategi perlindungan Kekayaan Intelektual (KI), termasuk skema kepemilikan dan pemanfaatannya.

Analisis freedom to operate dilakukan untuk memastikan bahwa pengembangan dan komersialisasi produk tidak berbenturan dengan hak kekayaan intelektual pihak lain.

Aspek perjanjian kerja sama, transfer teknologi, risiko hukum, serta kewajiban yang harus dipenuhi sebelum hilirisasi juga menjadi bagian dari kajian.

Dari Riset Menuju Produk

Rahmi menegaskan, seluruh bidang tersebut tidak bekerja secara terpisah. Hasil kajian teknis, pasar, keuangan, dan legal akan dipertemukan untuk menghasilkan rekomendasi menyeluruh mengenai kesiapan LMO dalam formula pakan ikan menuju hilirisasi.

“Target kami bukan sekadar menghasilkan laporan kajian. Yang lebih penting adalah memperoleh peta yang jelas: apa yang sudah siap, apa yang masih perlu diperbaiki, dan langkah apa yang harus dilakukan agar teknologi ini dapat bergerak dari hasil riset menuju produk yang benar-benar dimanfaatkan,” kata Rahmi.

Ia berharap Skema Dorongan Teknologi tersebut dapat memperkuat hubungan antara penelitian perguruan tinggi dan kebutuhan sektor usaha maupun masyarakat.

“Perguruan tinggi harus mampu membawa hasil penelitian lebih dekat kepada pengguna. Jika teknologi memiliki potensi, tugas berikutnya adalah memastikan inovasi itu layak, aman, memiliki pasar, dan dapat dikembangkan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Kajian Lemak-Mineral-Organik dalam formula pakan ikan juga berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui penguatan sistem pangan dan budidaya perikanan, SDG 9: Industri, Inovasi dan Infrastruktur melalui pengembangan dan hilirisasi teknologi, serta SDG 14: Ekosistem Lautan melalui dukungan terhadap sektor perikanan yang lebih berkelanjutan.