UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menggelar pembekalan dan pelepasan mahasiswa Program Studi Integrasi Ma’had Al-Birr Tahun Akademik 2026/2027.
Pelepasan dihelat di masjid Subulussalam Al Khoory Kampus Unismuh, Rabu, 16 September 2026.
Kegiatan tersebut diikuti 247 mahasiswa dari tiga program studi, yakni Ahwal Syakhshiyah atau Hukum Keluarga sebanyak 120 mahasiswa, Pendidikan Bahasa Arab (PBA) 96 mahasiswa, dan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) 31 mahasiswa.
Para mahasiswa akan menjalani pengabdian selama enam bulan di berbagai pesantren, sekolah, masjid, panti asuhan, serta lingkungan masyarakat.
Program tersebut mengintegrasikan kegiatan pengabdian dengan praktik profesi mahasiswa. Dekan FAI Unismuh, Dr Amirah Mawardi, M.Si., menjelaskan kegiatan itu direkognisi sebagai bagian dari KKN dan PPL, PKL, atau magang dengan bobot keseluruhan 8 SKS.
Menurut Amirah, mahasiswa tidak hanya membawa bekal teori yang dipelajari selama kuliah, tetapi juga dituntut menerapkannya secara nyata di tengah masyarakat.
“Ananda akan berpengabdian dengan tiga model pengabdian, yakni pengabdian profesi, pengabdian masyarakat, dan pengabdian persyarikatan,” ujar Amirah.
Bekal Utama adalah Takwa
Mudir Ma’had Al-Birr Unismuh, Ustadz Lukman Abd Shamad, Lc., M.Pd., menekankan pentingnya kesiapan spiritual sebelum mahasiswa memasuki medan pengabdian.
Menurutnya, ilmu dan kemampuan profesional harus ditopang dengan takwa dan akhlak yang baik.
“Bekal utama kita dalam segala hal adalah takwa. Tidak ada lagi bekal di atasnya,” ujar Lukman.
Ia mengatakan pengabdian menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengamalkan ilmu yang selama ini dipelajari di kampus dan Ma’had Al-Birr.
“Ilmu tanpa amal itu bagaikan pohon yang tidak berbuah. Tiga tahun belajar, sekarang saatnya kita amalkan apa yang sudah dipelajari,” katanya.
Lukman juga mengingatkan bahwa pengabdian tidak hanya menjadi ruang untuk memberikan ilmu, tetapi juga kesempatan belajar dari realitas yang dihadapi di pesantren, sekolah, dan masyarakat.
Mahasiswa, kata dia, akan menemukan bahwa teori yang dipelajari di kelas tidak selalu mudah diterapkan. Pengalaman tersebut justru menjadi bagian penting dari proses pendidikan mereka.
Tiga Bentuk Pengabdian
Amirah menjelaskan, model pengabdian mahasiswa dirancang terpadu dengan kompetensi masing-masing program studi.
Mahasiswa PBA akan mengembangkan kompetensi pendidikan dan bahasa Arab. Mahasiswa KPI membawa kompetensi komunikasi dan penyiaran Islam, sedangkan mahasiswa Hukum Keluarga mengaplikasikan pengetahuan sesuai bidang keilmuannya.
Pengabdian juga tidak dibatasi pada aktivitas mengajar. Mahasiswa dapat diminta memberikan ceramah, menjadi protokol kegiatan, mengajar mengaji, mengikuti pengajian Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, serta terlibat dalam aktivitas masyarakat maupun Persyarikatan di lokasi penempatan.
“Pengabdian ini mempersyaratkan kemampuan aplikatif dan terpadu dari seluruh pengalaman belajar selama kuliah,” kata Amirah.
Ia juga mengingatkan mahasiswa mempertahankan disiplin yang selama ini dibangun selama mengikuti pendidikan di Ma’had Al-Birr maupun program khusus lainnya.
Kedisiplinan, terutama dalam menjaga waktu dan ibadah, menurut Amirah, akan menjadi salah satu bagian penting yang dinilai masyarakat selama mahasiswa berada di lokasi pengabdian.
Jaga Akhlak dan Pahami Kultur Masyarakat
Wakil Rektor Unismuh, Dr Mawardi Pewangi, M.Pd., saat membuka kegiatan, juga mengingatkan mahasiswa agar menjaga sikap selama enam bulan menjalani pengabdian.
“Yang pertama, perbaiki akhlaknya. Masyarakat tidak melihat ilmu Anda, yang dilihat sikapnya, tindakannya, perilakunya,” ujar Mawardi.
Ia meminta mahasiswa mampu beradaptasi dengan kebiasaan dan kultur masyarakat setempat.
Mahasiswa, kata dia, tidak boleh merasa paling benar hanya karena memiliki pengetahuan akademik. Kemampuan memahami masyarakat menjadi bagian penting dalam keberhasilan pengabdian.
Mawardi juga menekankan kedisiplinan, kebersihan, pergaulan, dan kemampuan menjaga nama baik almamater.
Mahasiswa bahkan diminta tidak tergesa-gesa menjawab persoalan keagamaan yang belum dipahami secara baik. Jika ragu, mereka diminta berkonsultasi dengan pembimbing atau pimpinan Ma’had Al-Birr.
Siapkan Pengabdian Internasional
Dalam kesempatan tersebut, Mawardi juga mendorong FAI Unismuh mulai mempersiapkan model pengabdian mahasiswa ke luar negeri.
Ia menyebut sejumlah peluang, mulai dari Filipina, Thailand, Malaysia, hingga Australia.
Di Filipina, misalnya, terdapat kebutuhan tenaga yang dapat membantu pembelajaran agama dan Al-Qur’an. Sementara salah satu pesantren di Thailand juga disebut membutuhkan tenaga yang memiliki kemampuan bahasa Arab.
Karena itu, mahasiswa diminta mulai mempersiapkan kemampuan bahasa, kompetensi, dan kesiapan lainnya sejak jauh hari jika program pengabdian internasional tersebut direalisasikan.
“Ke depan ini sudah harus dipersiapkan untuk pengabdian yang bersifat internasional,” kata Mawardi.
Pembekalan dan pelepasan tersebut menjadi salah satu tahap akhir perjalanan akademik mahasiswa sebelum menyelesaikan studi.
FAI Unismuh berharap enam bulan pengabdian menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mempertemukan ilmu yang diperoleh di kampus dengan kebutuhan nyata masyarakat, sekaligus membangun akhlak, kedisiplinan, kemampuan profesional, dan komitmen terhadap Persyarikatan Muhammadiyah.

