UNISMUH.AC.ID, GOWA — Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar mendorong hilirisasi hasil riset berbasis ekonomi sirkular melalui pemanfaatan limbah kulit kopi menjadi produk bernilai tambah.
Upaya tersebut dilakukan Tim Program Diaspora Berdampak Unismuh Makassar melalui kunjungan lapangan ke Kampong Kopi Bawakaraeng, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, pertengahan Agustus 2026 lalu. Kegiatan tersebut menjadi ruang mempertemukan perguruan tinggi, mitra diaspora, dan pelaku usaha kopi dalam pengembangan inovasi yang lebih dekat dengan kebutuhan lapangan.
Program Diaspora Berdampak Tahun 2026 ini didukung pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia. Dukungan tersebut diarahkan untuk memperkuat kolaborasi akademisi dalam negeri dan diaspora sekaligus mendorong hasil riset perguruan tinggi memberi dampak nyata bagi masyarakat dan dunia usaha.
Tim Diaspora Berdampak Unismuh, dipimpin Prof. Dr. Syamsia, S.P., M.Si., selaku pengusul Program Diaspora Berdampak, bersama mitra diaspora Dr. Ilmas Abdurofi dari Universiti Malaysia Sabah (UMS).
Di Kampong Kopi Bawakaraeng, tim diterima Musafir, Aqdar, Ikhsan S., dan Muhammad Daeng Ewa. Selain berdialog dengan pengelola, tim melihat secara langsung aktivitas pengolahan kopi, termasuk proses penyangraian atau roasting.
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari Program Diaspora Berdampak bertajuk “Hilirisasi Pupuk Granul Kulit Kopi untuk Agribisnis Kopi Organik melalui Kolaborasi Diaspora.”
Program itu dirancang untuk memperkuat kolaborasi riset dan hilirisasi antara Unismuh Makassar dan mitra diaspora dalam mengembangkan pupuk granul berbasis limbah kulit kopi untuk mendukung agribisnis kopi organik.
Limbah Kulit Kopi Jadi Produk Bernilai
Salah satu fokus yang mengemuka dalam kunjungan tersebut adalah bagaimana rantai pengolahan kopi tidak berhenti pada produk utama, tetapi juga mampu memanfaatkan produk sampingan yang selama ini belum diolah secara optimal.
Prof Syamsia mengatakan, limbah kulit kopi mempunyai potensi besar dikembangkan menjadi produk yang dapat dimanfaatkan kembali dalam sektor pertanian.
“Pengolahan kopi tidak hanya menghasilkan produk utama, tetapi juga produk sampingan berupa limbah kulit kopi. Limbah ini memiliki potensi untuk diolah lebih lanjut menjadi biochar dan pupuk organik granul,” ujar Syamsia, saat dikonfirmasi Senin, 31 Agustus 2026.
Menurutnya, pendekatan tersebut memungkinkan limbah yang sebelumnya kurang termanfaatkan dikembalikan ke dalam siklus produksi sebagai produk yang memiliki nilai guna sekaligus nilai ekonomi.
“Dengan demikian, limbah yang sebelumnya belum termanfaatkan dapat dikembalikan menjadi produk bernilai guna dan bernilai ekonomi untuk mendukung penerapan ekonomi sirkular dalam agribisnis kopi,” tambahnya.
Pemanfaatan limbah kulit kopi diarahkan bukan hanya untuk mengurangi limbah organik, tetapi juga menghasilkan input pertanian yang lebih ramah lingkungan.
Dalam rancangan program disebutkan, budidaya dan pengolahan kopi menghasilkan limbah kulit kopi yang belum seluruhnya termanfaatkan. Pada saat yang sama, petani membutuhkan input produksi yang lebih efisien dan mendukung prinsip pertanian organik.
Dekatkan Riset dengan Kebutuhan Pelaku Usaha
Kunjungan lapangan juga dimanfaatkan tim untuk memperoleh perspektif langsung dari pelaku usaha mengenai pengembangan rantai nilai kopi.
Informasi tersebut dinilai penting agar inovasi yang dihasilkan perguruan tinggi tidak berhenti sebagai produk penelitian, tetapi memiliki peluang untuk diadopsi dan diterapkan secara nyata oleh masyarakat maupun dunia usaha.
Program Diaspora Berdampak karena itu tidak hanya menyentuh aspek teknis pengembangan pupuk organik granul. Kolaborasi juga mencakup ekonomi pertanian, agribisnis, analisis kelayakan, strategi adopsi, pengembangan model bisnis, hingga komersialisasi.
Kepakaran Dr. Ilmas Abdurofi dalam bidang Agricultural Policy and Economics serta agribisnis menjadi salah satu unsur yang memperkuat pendekatan tersebut.
Skema yang dikembangkan memperlihatkan prinsip ekonomi sirkular. Limbah kulit kopi dari kegiatan pengolahan diarahkan menjadi biochar dan pupuk organik granul. Produk tersebut selanjutnya berpotensi digunakan kembali sebagai input dalam kegiatan pertanian.
Jika dikembangkan secara berkelanjutan, pendekatan ini tidak hanya memberikan manfaat lingkungan, tetapi juga berpotensi menciptakan nilai tambah bagi petani, kelompok tani, koperasi, dan UMKM yang berada dalam ekosistem kopi.
Perkuat Kolaborasi Unismuh–UMS
Program tersebut sekaligus memperkuat keterhubungan antara perguruan tinggi, diaspora akademik, dan pelaku usaha.
Perguruan tinggi berperan menghasilkan pengetahuan dan teknologi, mitra diaspora memperluas perspektif keilmuan dan jejaring internasional, sedangkan pelaku usaha memberikan pengalaman empiris terkait kebutuhan pengguna, proses produksi, hingga dinamika pasar.
Kolaborasi Unismuh Makassar dan Universiti Malaysia Sabah juga diarahkan menjadi kerja sama jangka panjang.
Luaran program tidak berhenti pada kunjungan lapangan. Tim menargetkan penyusunan Collaboration Plan and Commitment Letter, peta jalan kerja sama riset dan hilirisasi selama tiga tahun, proposal kolaborasi internasional, serta artikel ilmiah bersama.
Dalam jangka panjang, kolaborasi tersebut diharapkan ikut memperkuat ekosistem kopi Sulawesi Selatan melalui pengelolaan limbah, pengembangan input organik, penciptaan nilai tambah, serta penguatan agribisnis kopi organik berkelanjutan.
Dari perspektif Sustainable Development Goals (SDGs), program ini berkontribusi terutama pada SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui penciptaan nilai tambah bagi ekosistem usaha kopi; SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui hilirisasi inovasi perguruan tinggi; serta SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pemanfaatan kembali limbah kulit kopi. Kolaborasi Unismuh dengan UMS, diaspora, dan pelaku usaha juga memperkuat SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, sekaligus mendukung agenda keberlanjutan lingkungan melalui pengembangan pertanian organik dan ekonomi sirkular.

