August 24, 2026
JL. SULTAN ALAUDDIN NO. 259, Kec. Rappocini, Gunung Sari, Kota Makassar, 90221
17. Partnerships for the Goals1. No Poverty 3. Good Health and Well-being Berita Kampus Fakultas

Gempa Susulan Picu Kecemasan Pengungsi, EMT Unismuh Layani 146 Warga di Manggarai Timur

Gempa Susulan Picu Kecemasan Pengungsi, EMT Unismuh Layani 146 Warga di Manggarai Timur, (Foto: Istimewa)

UNISMUH.AC.ID, MANGGARAI TIMUR — Emergency Medical Team (EMT) Universitas Muhammadiyah Makassar melayani 146 pasien di dua lokasi pengungsian korban gempa di Desa Satar Kampas, Kecamatan Lambaleda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Ahad, 23 Agustus 2026.

Pelayanan dilakukan di Maki dan Larok, dua titik pengungsian yang secara keseluruhan menampung sekitar 370 warga.

Selain menemukan sejumlah keluhan fisik, tim mulai mencatat kebutuhan pendampingan psikologis bagi pengungsi. Gempa susulan yang masih kerap terjadi, disertai suara dentuman keras, menimbulkan kecemasan dan ketakutan di antara warga.

Koordinator Tim Medis Unismuh dr. Netty Nurnaningtias, Sp.EM, M.M.B., FICEP mengatakan, kondisi psikologis masyarakat kini menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian dalam penanganan pascabencana.

“Gempa masih sering terjadi. Ketika gempa disertai dentuman keras, warga di posko menjadi cemas, gelisah, dan takut. Karena itu, selain pelayanan kesehatan fisik, kami melihat korban juga membutuhkan dukungan dan terapi psikologis,” ujar Netty.

86 Pasien Dilayani di Maki

Pelayanan pertama dilakukan di Maki, Desa Satar Kampas, pukul 10.00 hingga 12.00 WITA.

Di lokasi yang dihuni sekitar 160 pengungsi tersebut, EMT Unismuh memeriksa 86 pasien.

Pelayanan meliputi pemeriksaan kesehatan oleh dokter, pengukuran tekanan darah, serta pemberian obat.

Keluhan yang banyak ditemukan meliputi myalgia atau nyeri otot, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), hipertensi, diabetes melitus, gastritis, dan tinea.

Menurut Netty, lokasi pengungsian di Maki menjadi perhatian karena sebelumnya belum mendapatkan pelayanan kesehatan setelah gempa.

“Di Maki kami menjumpai cukup banyak warga yang membutuhkan pemeriksaan. Lokasi ini juga belum pernah mendapatkan fasilitas pelayanan kesehatan setelah gempa,” jelasnya.

Kondisi lingkungan turut memengaruhi masalah kesehatan pengungsi. Lokasi yang cenderung berdebu membuat kebutuhan masker semakin mendesak, terlebih kasus ISPA mulai banyak ditemukan.

Selain itu, warga masih membutuhkan tambahan air minum karena ketersediaannya terbatas. Bantuan logistik telah diterima masyarakat, tetapi masih memerlukan tambahan untuk memenuhi kebutuhan selama berada di pengungsian.

Bergeser ke Larok, Layani 60 Pasien

Pada sore hari, EMT Unismuh bergerak ke Larok, Desa Satar Kampas, Kecamatan Lambaleda Utara.

Pelayanan berlangsung pukul 15.30 hingga 17.30 WITA di lokasi yang menampung sekitar 210 pengungsi.

Sebanyak 60 pasien mendapatkan pelayanan kesehatan berupa pemeriksaan dokter, pengukuran tekanan darah, pengobatan, serta perawatan luka.

Keluhan yang ditemukan antara lain myalgia, ISPA, hipertensi, diabetes melitus, gastritis, psoriasis, dan gastroenteritis akut (GEA).

Berbeda dengan Maki, lokasi pengungsian Larok sebelumnya telah didatangi tim kesehatan. Namun, EMT Unismuh menemukan adanya keluhan kesehatan yang berbeda dari kondisi sebelumnya.

“Di Larok sebelumnya sudah ada pelayanan kesehatan. Tetapi saat kami datang, muncul beberapa keluhan yang berbeda sehingga pemeriksaan dan pengobatan tetap diperlukan,” kata Netty.

Tim juga mencatat kebutuhan masker karena kondisi lingkungan berdebu dan meningkatnya keluhan ISPA.

Selain itu, fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) masih menjadi salah satu kebutuhan masyarakat di lokasi pengungsian.

Masalah Kesehatan Pascagempa Mulai Beragam

Netty menjelaskan, perkembangan kondisi pengungsi menunjukkan bahwa respons kesehatan pascabencana tidak cukup hanya berfokus pada cedera akibat gempa.

Semakin lama masyarakat tinggal di pengungsian, persoalan kesehatan dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan, masalah pencernaan, penyakit tidak menular, penyakit kulit, hingga tekanan psikologis.

Karena itu, pelayanan EMT Unismuh dilakukan dengan mendatangi langsung titik-titik pengungsian untuk melihat kebutuhan riil masyarakat.

“Yang kami temukan di setiap titik tidak selalu sama. Tim harus terus melakukan asesmen, karena kebutuhan warga dapat berubah dari hari ke hari,” ujarnya.

Pelayanan di Maki dan Larok menambah jangkauan EMT Unismuh setelah sebelumnya memberikan layanan kesehatan di sejumlah titik di Manggarai Timur, termasuk Posko Damer, Kampung Bawe, dan Haju Wangi.

Keterlibatan EMT Unismuh dalam respons gempa NTT sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, melalui pelayanan kesehatan fisik dan perhatian terhadap kesehatan mental masyarakat terdampak; SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak, terkait kebutuhan air minum dan MCK di pengungsian; serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui kolaborasi tenaga kesehatan, pemerintah, Muhammadiyah, dan jejaring penanggulangan bencana dalam mempercepat pemulihan masyarakat.