UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Sampah plastik yang selama ini menjadi beban kawasan pesisir dicoba dipadatkan menjadi bahan bangunan alternatif. Sejumlah akademisi dari Indonesia, Filipina, dan India mendampingi masyarakat mempraktikkan pengelolaan sampah berbasis ecobrick di kawasan Pantai Tanjung Anging Mammiri, Makassar, Rabu 22 Juli 2026.
Kegiatan itu merupakan Pengabdian kepada Masyarakat Kolaboratif Internasional yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar. Program digelar sehari sebelum pembukaan 2nd International Conference on Sustainable and Democratic Governance atau ICoSDEG 2026, yang berlangsung pada 23–24 Juli 2026.
Selain latihan pemadatan sampah plastik, peserta memperoleh pendampingan mengenai tata kelola sampah plastik berbasis ecobrick. Pendekatan tersebut diarahkan untuk memperkuat kelompok bank sampah sekaligus meningkatkan kualitas amenitas kawasan wisata pantai.
Dekan FISIP Unismuh, Dr Andi Luhur Prianto, mengatakan kegiatan pengabdian tidak semestinya berhenti sebagai agenda seremonial. Perguruan tinggi, menurut dia, perlu membangun kemitraan yang dapat menjawab persoalan masyarakat secara nyata.
“Pengabdian kepada masyarakat harus dilaksanakan secara kolaboratif, berjejaring global, dan memiliki dampak yang dapat dirasakan masyarakat,” kata Luhur.
Program tersebut melibatkan enam institusi. Selain FISIP Unismuh sebagai tuan rumah, kegiatan diikuti Program Magister Ilmu Pemerintahan Universitas Mulawarman, Departemen Ilmu Pemerintahan Universitas Tadulako, Departemen Ilmu Pemerintahan Universitas Sam Ratulangi, College of Political Science and Public Administration Polytechnic University of the Philippines, serta School of Law Vellore Institute of Technology, India.
Sampah sebagai sumber daya
Kegiatan mengangkat tema penguatan kesadaran pengelolaan sampah untuk pengembangan ekonomi sirkular di kawasan pesisir. Tema lain menyoroti penguatan kelembagaan dan regulasi bank sampah menuju tata kelola persampahan yang berkelanjutan.
Kawasan pesisir tidak hanya menjadi ruang permukiman, pariwisata, perikanan, dan aktivitas ekonomi warga. Wilayah tersebut juga kerap menjadi titik akhir sampah yang terbawa melalui sungai, drainase, dan saluran air.
Sampah plastik dan limbah rumah tangga yang tidak terkelola dapat menurunkan kualitas lingkungan, mengganggu ekosistem laut, serta memengaruhi kesehatan dan mata pencarian masyarakat. Karena itu, program diarahkan untuk mengubah cara pandang terhadap sampah: dari barang sisa menjadi sumber daya yang masih memiliki nilai sosial dan ekonomi.
Melalui prinsip ekonomi sirkular, masyarakat didorong untuk mengurangi sampah dari sumbernya, memilah, menggunakan kembali, dan mendaur ulang material yang masih dapat dimanfaatkan. Sampah plastik tertentu dipadatkan ke dalam wadah untuk membentuk ecobrick yang dapat digunakan sebagai bahan pembuatan benda fungsional.
Menurut Luhur, perguruan tinggi memiliki peran untuk mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman sehari-hari warga. Kolaborasi lintas negara juga membuka ruang bagi peserta untuk membandingkan kebijakan dan praktik pengelolaan sampah di wilayah masing-masing.
Indonesia dan Filipina, misalnya, menghadapi tantangan yang relatif serupa sebagai negara kepulauan dengan garis pantai panjang. Adapun keterlibatan akademisi India memperluas pembahasan pada aspek kelembagaan, regulasi, dan pembangunan tata kelola lingkungan.
Dari pemilahan hingga peta sampah
Kegiatan tidak hanya diisi dengan seminar. Peserta mengikuti sesi interaktif mengenai pencemaran pesisir, prinsip ekonomi sirkular, pengurangan sampah, penguatan bank sampah, dan peluang usaha berbasis material daur ulang.
Akademisi dari ketiga negara berbagi pengalaman mengenai pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Peserta kemudian mengikuti demonstrasi pemilahan sampah organik, anorganik yang dapat digunakan kembali, material daur ulang, sampah residu, serta limbah rumah tangga yang memerlukan penanganan khusus.
Masyarakat juga dilibatkan dalam pemetaan kondisi persampahan. Mereka mengidentifikasi jenis dan sumber sampah, titik penumpukan, pola pembuangan, pihak yang terlibat dalam pengangkutan, serta material yang berpotensi memiliki nilai ekonomi.
Hasil pemetaan dibahas melalui diskusi kelompok untuk merumuskan peluang usaha, kebutuhan kelembagaan, serta pembagian peran antara masyarakat, pemerintah, perguruan tinggi, dan sektor swasta.
Rangkaian tersebut diarahkan pada penyusunan Community Action Plan atau rencana aksi masyarakat. Dokumen itu memuat kegiatan prioritas, penanggung jawab, jadwal pelaksanaan, kebutuhan sumber daya, calon mitra, serta indikator pemantauan.
Luaran yang ditargetkan meliputi peningkatan kemampuan masyarakat dalam memilah sampah, tersusunnya peta persoalan sampah, sedikitnya tiga gagasan pengolahan sampah bernilai ekonomi, serta satu dokumen rencana aksi pengelolaan sampah berkelanjutan.
Perkuat jejaring akademik
Kegiatan juga menjadi bagian dari strategi internasionalisasi FISIP Unismuh. Kerja sama antarkampus diarahkan untuk berkembang menjadi penelitian bersama, publikasi ilmiah, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta program pengabdian lanjutan.
Dalam rangkaian kegiatan itu, institusi mitra juga menjajaki penguatan kerja sama melalui Memorandum of Agreement dan Implementation Agreement. Kerja sama tersebut diharapkan memberikan dasar bagi pelaksanaan program lintas institusi secara lebih terencana.
Luhur mengatakan, tantangan pembangunan tidak dapat lagi diselesaikan secara parsial. Persoalan sampah pesisir, misalnya, berkaitan dengan perilaku rumah tangga, kapasitas pemerintah, kelembagaan masyarakat, aktivitas ekonomi, dan kebijakan lingkungan.
“Kerja sama ini tidak boleh berhenti pada satu kegiatan. Kami ingin mengembangkannya menjadi riset bersama, publikasi, pertukaran akademik, dan penguatan kapasitas kelembagaan,” ujarnya.
Program itu sekaligus menjadi kegiatan pendukung ICoSDEG 2026. Dengan demikian, isu keberlanjutan tidak hanya dibicarakan melalui presentasi makalah dan diskusi akademik, tetapi juga diterjemahkan menjadi pendampingan langsung kepada masyarakat.
“Pengetahuan tidak cukup dipresentasikan. Pengetahuan harus diubah menjadi tindakan yang memberikan manfaat,” kata Luhur.
Kegiatan tersebut berkontribusi terhadap SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan melalui upaya membangun lingkungan pesisir yang lebih bersih dan tangguh. Pemilahan, penggunaan kembali, pengolahan ecobrick, dan penguatan bank sampah mendukung SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, sedangkan pencegahan masuknya sampah daratan ke perairan berkaitan dengan SDG 14 tentang Ekosistem Lautan. Kolaborasi perguruan tinggi dari Indonesia, Filipina, dan India juga menjadi penerapan SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

