November 7, 2026
JL. SULTAN ALAUDDIN NO. 259, Kec. Rappocini, Gunung Sari, Kota Makassar, 90221
Berita Utama

Ketua BPH Unismuh Makassar: Darul Arqam Harus Mengubah Pekerjaan Rutin Petugas Kebersihan Menjadi Panggilan Jiwa

Ketua BPH Unismuh: Prof. Dr. H. Gagaring Pagalung, M.Si., Ak., CA.

UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Pekerjaan petugas kebersihan kerap dipahami sebatas menyapu, mengepel, dan membuang sampah. Padahal, di balik pekerjaan sehari-hari tersebut terdapat kontribusi penting bagi kesehatan, kenyamanan, dan keberlangsungan kegiatan pendidikan di kampus.

Pandangan itu disampaikan Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Prof. Dr. H. Gagaring Pagalung, M.Si., Ak., CA., dalam pembukaan Darul Arqam bagi 76 petugas kebersihan di Balai Sidang Muktamar Ke-47, Kampus Unismuh Makassar, Sabtu, 7 November 2026.

Gagaring mengajak peserta melihat pekerjaan mereka dari sudut pandang yang lebih luas. Menurut dia, petugas kebersihan merupakan salah satu penyangga utama kesehatan dan kenyamanan lingkungan universitas.

Ruang kuliah, tempat kerja, fasilitas ibadah, dan berbagai sarana kampus dapat digunakan dengan nyaman karena ada orang-orang yang memastikan kebersihannya setiap hari.

Sebagian pekerjaan itu bahkan berlangsung sebelum dosen, mahasiswa, dan pegawai memulai aktivitas. Ketika mereka memasuki ruangan, lingkungan yang bersih sering kali sudah tersedia tanpa diketahui siapa yang menyiapkannya.

Gagaring mencontohkan petugas kebersihan di lantai tempatnya bekerja. Ia mengakui tidak selalu bertemu dengan orang yang membersihkan ruangan tersebut, meskipun manfaat pekerjaannya dirasakan setiap hari.

Menurut dia, keadaan itu menunjukkan bahwa petugas kebersihan sering bekerja di balik layar. Kontribusi mereka dapat luput dari perhatian, tetapi hasil pekerjaannya menjadi bagian penting dari kehidupan kampus.

Karena itu, Gagaring berharap Darul Arqam tidak berhenti sebagai kegiatan pembinaan keagamaan. Kegiatan tersebut harus mampu membangun kesadaran tentang makna pekerjaan dan nilai pengabdian.

“Jadikanlah Darul Arqam ini sebagai titik balik paradigma dari pekerjaan rutin menjadi panggilan jiwa,” ujarnya.

Dari Kewajiban Menjadi Ibadah

Gagaring menjelaskan, pekerjaan dapat dipahami secara terbatas sebagai kewajiban untuk mendapatkan penghasilan. Namun, cara pandang tersebut dapat berkembang ketika seseorang menyadari manfaat pekerjaannya bagi orang lain.

Baca Juga: Ketua BPH Unismuh: Muhammadiyah Berkemajuan Harus Bertumpu pada Ilmu dan Keberlanjutan

Dalam konteks petugas kebersihan, pekerjaan menjaga lingkungan kampus turut mendukung proses pendidikan. Ruangan yang bersih membantu menciptakan suasana belajar dan bekerja yang lebih baik.

Ia juga menguraikan filosofi air dan tanah sebagai gambaran nilai pekerjaan petugas kebersihan. Air memiliki fungsi menyucikan, sedangkan tanah menjadi tempat tumbuhnya kehidupan.

Filosofi tersebut digunakannya untuk mengajak peserta memaknai pekerjaan bukan hanya sebagai kegiatan fisik, tetapi juga sebagai sarana menghadirkan manfaat bagi lingkungan dan sesama.

Gagaring berharap peserta dapat menumbuhkan ketulusan bekerja, sehingga setiap tugas dijalankan dengan kesadaran sebagai bagian dari pengabdian kepada Allah.

“Setiap debu yang saya sapu adalah ladang pahala. Setiap ruangan yang saya bersihkan adalah kontribusi nyata bagi lahirnya sarjana-sarjana dan pemimpin bangsa yang cerdas di Universitas Muhammadiyah Makassar,” katanya.

Pernyataan tersebut menggambarkan hubungan antara pekerjaan petugas kebersihan dan misi pendidikan universitas. Mereka mungkin tidak mengajar di ruang kuliah, tetapi turut menyediakan lingkungan yang memungkinkan proses pembelajaran berlangsung dengan baik.

Melalui Darul Arqam, Gagaring berharap para petugas kebersihan semakin memahami nilai pekerjaan mereka, meningkatkan kualitas ibadah, dan memperkuat rasa tanggung jawab terhadap lingkungan universitas.

Darul Arqam Cleaning Service Unismuh Makassar diikuti 76 peserta dan dilaksanakan selama tiga akhir pekan, yakni 7–8, 14–15, dan 21–22 November 2026.

Bagi Gagaring, pembinaan tersebut menjadi kesempatan untuk menegaskan kembali bahwa pekerjaan yang dilakukan dengan ketulusan dan tanggung jawab dapat memiliki makna lebih besar daripada tugas rutin yang terlihat sehari-hari.