October 11, 2026
JL. SULTAN ALAUDDIN NO. 259, Kec. Rappocini, Gunung Sari, Kota Makassar, 90221
Berita Utama

Unismuh Tuan Rumah Halaqah Tarjih Muhammadiyah Makassar

UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menjadi tuan rumah Halaqah I Tarjih Muhammadiyah Kota Makassar untuk memperkuat kajian hukum Islam atas persoalan keagamaan, sosial, dan budaya, termasuk penggunaan kecerdasan buatan. Forum tersebut berlangsung di Aula I-Gift Unismuh, Makassar, Ahad, 11 Oktober 2026.

Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Makassar menyelenggarakan kegiatan tersebut sebagai rangkaian persiapan Musyawarah Daerah (Musyda) Tarjih pada 17–18 Oktober 2026. Panitia menyiapkan enam pokok persoalan untuk dibahas melalui dua halaqah, masing-masing dengan tiga pembahasan.

Kegiatan ini mengangkat tema “Aktualisasi Manhaj Tarjih di Era Digital: Respons Hukum atas Isu Keagamaan, Sosial, dan Budaya”. Salah satu fokusnya ialah penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam penyampaian pengetahuan agama, yang memunculkan pertanyaan tentang otoritas keagamaan dan keabsahan informasi.

Dalam agenda Halaqah I, Prof Zulfahmi Alwi, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan, ditetapkan sebagai narasumber pembahasan fenomena ustaz dan ustazah AI. Materi salat sunah tambahan pada 10 malam terakhir Ramadan dijadwalkan disampaikan Dr KH Abbas Baco Miro. Sementara itu, KH Muh. Said Abd Shamad menjadi narasumber untuk pembahasan hukum penampilan tari-tarian perempuan.

Wakil Rektor IV Unismuh Dr Burhanuddin, yang hadir mewakili rektor, mengatakan perguruan tinggi Muhammadiyah berkomitmen menjadi pusat gerakan pemikiran Islam berkemajuan. Menurut dia, halaqah tersebut menjadi bagian dari upaya kampus mendukung pembahasan persoalan aktual yang dihadapi masyarakat.

Burhanuddin mencontohkan tantangan penggunaan AI dalam kegiatan akademik. Ia mengatakan teknologi tersebut memberikan kemudahan, tetapi juga menyulitkan dosen dalam menilai kejujuran pekerjaan yang disampaikan mahasiswa.

Selain teknologi, Burhanuddin menyoroti penampilan tari dalam penyambutan tokoh serta pengaturan peserta laki-laki dan perempuan pada kegiatan olahraga bersama. “Tapi kalau sudah dibahas, akan ada solusinya,” kata Burhanuddin. Ia berharap pembahasan keagamaan tetap berbasis ilmu serta menjaga tuntunan moral dan spiritual umat.

Ketua Majelis Tarjih dan Tajid PDM Kota Makassar, Dr Ilham Muchtar, yang menyampaikan laporan persiapan, menjelaskan bahwa panitia memilih persoalan yang dekat dengan kehidupan warga. “Bisa dikatakan itu adalah isu-isu lokal sebenarnya, tapi insyaallah akan banyak memberikan wawasan kepada kita,” ujar Ilham.

Menurut Ilham, Musyda Tarjih tersebut merupakan yang pertama diselenggarakan PDM Kota Makassar. Ia mengapresiasi kerja panitia yang berkoordinasi melalui grup percakapan, termasuk pada malam hari, untuk mempersiapkan rangkaian kegiatan.

Ilham menjelaskan bahwa persoalan yang belum memperoleh jawaban dalam pembahasan daerah dapat diteruskan kepada Majelis Tarjih di tingkat wilayah. “Tidak ditemukan jawaban atau solusinya, maka kita serahkan ke Majelis Tarjih Wilayah untuk didiskusikan lebih lanjut,” ujar Ilham, menjelaskan langkah apabila pembahasan menemui kebuntuan.

Ketua PDM Kota Makassar Dr Darwis Muhdina membuka kegiatan tersebut secara resmi. Dalam amanatnya, ia mengenang pengalamannya sebagai sekretaris Majelis Tarjih ketika masih mahasiswa, saat peserta membawa buku untuk memperdebatkan dasar dalil suatu pendapat.

“Jangan ada yang pergi sebelum selesai,” kata Darwis kepada peserta. Ia menyampaikan pesan tersebut sebagai amanat agar peserta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

Pembukaan halaqah dihadiri unsur pimpinan wilayah dan daerah Muhammadiyah, pengurus cabang dan ranting, kalangan Aisyiyah, serta peserta pendidikan ulama. Adapun Musyda Tarjih direncanakan diikuti 101 peserta dari berbagai unsur persyarikatan. Panitia juga merencanakan keterlibatan perwakilan organisasi Islam di luar Muhammadiyah untuk memperluas dialog.

Agenda halaqah berikutnya mencakup konvoi jenazah di Makassar, hukum mengucapkan rest in peace (RIP), serta penempatan jenazah menghadap kiblat dalam kubur. Ketiga topik tersebut mempertemukan pembahasan fikih dengan etika sosial dan praktik pengurusan jenazah.

Dalam sambutan pembukaan, Ilham mengundang peserta kembali mengikuti Halaqah II pada Rabu, 14 Oktober 2026, atau tiga hari setelah Halaqah I. Pertemuan lanjutan itu akan meneruskan pendalaman persoalan sebelum Musyda Tarjih pada 17–18 Oktober 2026.