UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Perselisihan Cristiano Ronaldo dengan Pelatih Tim Nasional Portugal Jorge Jesus tidak semata-mata dapat dibaca sebagai ketidakpuasan seorang pemain karena tidak diturunkan. Konflik itu juga memperlihatkan pentingnya komunikasi, kepercayaan, dan pengelolaan pemain senior dalam sebuah tim.
Pengamat sepak bola Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Syahban Nur, menilai persoalan Ronaldo dan Jesus telah bergerak dari urusan teknis pertandingan menjadi persoalan hubungan antara pemain dan pelatih.
“Menurut saya, ini bukan sekadar persoalan Ronaldo dimainkan atau tidak dimainkan. Masalah utamanya adalah komunikasi dan kepercayaan. Ronaldo sebagai kapten tentu harus menghormati keputusan pelatih, tetapi di sisi lain pelatih juga harus mampu mengelola komunikasi dengan pemain senior secara terbuka dan konsisten,” ujar Syahban di Makassar, Selasa, 7 Oktober 2026.
Perselisihan itu mencuat setelah Ronaldo tidak dimainkan saat Portugal menghadapi Norwegia. Dalam pernyataannya, Ronaldo mengaku sebelumnya memiliki kesepakatan dengan Jesus mengenai pengelolaan menit bermain untuk menjaga kondisi fisiknya.
Ronaldo menyebut dirinya kemudian diminta melakukan pemanasan sejak babak kedua dengan kemungkinan bermain sekitar 30 menit. Namun, hingga pertandingan berakhir, kapten Portugal tersebut tidak diturunkan.
Persoalan berlanjut setelah Ronaldo mengklaim ada kesepakatan agar Jesus memberikan penjelasan mengenai situasi tersebut kepada publik. Menurut Ronaldo, penjelasan sang pelatih kemudian tidak sesuai dengan pembicaraan internal mereka. Ronaldo akhirnya meninggalkan pemusatan latihan Portugal.
Jesus memiliki versi berbeda. Pelatih Portugal itu membantah adanya kesepakatan seperti yang disebut Ronaldo. Ia juga menegaskan independensinya dalam mengambil keputusan teknis, meski tetap membuka kemungkinan bagi Ronaldo untuk kembali memperkuat tim nasional.
Otoritas Pelatih dan Kepercayaan Pemain
Syahban menilai seorang pelatih memang harus memegang otoritas tertinggi dalam menentukan komposisi dan strategi tim. Status pemain, menurut dia, tidak boleh menghilangkan kewenangan tersebut.
“Dalam sepak bola modern, coach authority itu penting. Pelatih harus menjadi decision maker terakhir dalam aspek teknis. Tetapi authority tidak berarti mengabaikan komunikasi,” ujarnya.
Menurut Syahban, persoalan menjadi lebih kompleks apabila terdapat perbedaan antara komunikasi yang berlangsung secara internal dan penjelasan yang disampaikan kepada publik.
“Kalau ada kesepakatan internal, kemudian terjadi perubahan keputusan, harus dijelaskan secara baik agar tidak menimbulkan persepsi adanya broken trust,” katanya.
Ia menilai kasus Ronaldo menunjukkan bahwa kemampuan pelatih tidak hanya diukur dari kecakapan merancang strategi. Pelatih juga dituntut mampu mengelola karakter, ekspektasi, dan posisi pemain di dalam tim.
Ronaldo Juga Harus Bertanggung Jawab
Di sisi lain, Syahban menegaskan status Ronaldo sebagai legenda sekaligus kapten Portugal tidak menempatkannya di atas aturan tim.
Ronaldo sendiri telah meminta maaf atas tindakannya tidak menghampiri pendukung seusai pertandingan dan meninggalkan pemusatan latihan. Ia juga menyatakan siap menerima konsekuensi yang ditetapkan Federasi Sepak Bola Portugal.
“Saya kira Ronaldo juga harus bertanggung jawab. Status sebagai kapten justru menuntut leadership yang lebih tinggi. Kalau ada ketidaksepahaman dengan pelatih, seharusnya diselesaikan melalui komunikasi internal, bukan sampai meninggalkan camp. Jadi, saya melihat kedua pihak mempunyai persoalan masing-masing,” kata Syahban.
Menurutnya, seorang kapten bukan hanya dituntut tampil baik di lapangan. Ia juga menjadi figur yang tindakannya dapat memengaruhi pemain lain dan suasana ruang ganti.
Bukan Akhir Ronaldo Bersama Portugal
Meski hubungannya dengan Jesus mengalami keretakan, Ronaldo menegaskan belum menutup pintu untuk kembali memperkuat Portugal. Ia menyatakan tetap tersedia setelah menjalani sanksi apabila dijatuhkan federasi dan selama kondisi fisiknya memungkinkan.
Syahban membaca pernyataan itu sebagai tanda bahwa persoalan Ronaldo lebih berkaitan dengan hubungan dan kepercayaan terhadap pelatih daripada keinginan meninggalkan tim nasional.
“Yang menarik, Ronaldo tidak mengatakan pensiun. Artinya, commitment terhadap Portugal masih ada. Dia masih ingin berkompetisi dan memenangkan pertandingan bersama tim nasional. Jadi, problemnya lebih kepada trust issue dengan pelatih, bukan dengan negaranya,” ungkapnya.
Situasi tersebut, lanjut Syahban, sekaligus memperlihatkan tantangan Portugal dalam mengelola regenerasi.
Ronaldo merupakan figur penting dalam sejarah sepak bola Portugal. Namun, pada saat yang sama, tim nasional juga perlu memberikan ruang kepada generasi berikutnya, termasuk penyerang seperti Gonçalo Ramos.
“Portugal harus mulai memikirkan succession planning. Ronaldo adalah ikon dan bagian penting dari sejarah sepak bola Portugal, tetapi pada saat yang sama tim nasional harus mempersiapkan generasi berikutnya. Tantangannya adalah bagaimana transisi itu dilakukan tanpa menciptakan konflik di ruang ganti,” tuturnya.
Kepemimpinan Jorge Jesus Diuji
Syahban menilai konflik tersebut juga menjadi ujian kepemimpinan bagi Jorge Jesus. Pelatih harus mampu menunjukkan bahwa keputusan teknis tidak ditentukan oleh nama besar seorang pemain, tetapi pada saat bersamaan tetap menjaga harmonisasi tim.
“Jorge Jesus sekarang bukan hanya diuji secara taktikal, tetapi juga secara man-management. Mengelola Cristiano Ronaldo membutuhkan pendekatan berbeda karena dia bukan sekadar pemain. Dia adalah kapten, pencetak gol terbanyak, pemain dengan penampilan terbanyak untuk Portugal, sekaligus figur yang memiliki pengaruh besar,” jelas Syahban.
Menurutnya, persoalan antara pemain dan pelatih harus segera dikelola agar tidak memengaruhi pemain lain.
“Jangan sampai persoalan personal antara pemain dan pelatih berkembang menjadi persoalan kelompok. Dalam sepak bola, chemistry ruang ganti sangat penting. Kalau dressing room terbelah, kualitas taktik sebaik apa pun bisa kehilangan efektivitasnya,” tegasnya.
Karena itu, Syahban melihat penyelesaian persoalan tersebut tidak semestinya diarahkan untuk menentukan siapa yang menang atau kalah.
“Menurut saya, solusi terbaik adalah duduk bersama dan menyelesaikan persoalan secara profesional. Pelatih tetap harus memiliki otoritas, Ronaldo tetap harus menghormati keputusan pelatih, sementara federasi harus menjadi mediator. Karena tujuan akhirnya bukan kemenangan Ronaldo atau Jorge Jesus, tetapi kepentingan Timnas Portugal,” pungkas Syahban Nur.

