UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar memperluas program internasionalisasi dosen dengan membuka peluang bagi akademisinya menjadi adjunct professor di lima perguruan tinggi luar negeri. Program tersebut direncanakan mulai berjalan pada 1 April 2027.
Lima perguruan tinggi mitra tujuan yakni Ateneo de Davao University, Filipina; Universiti Sains Islam Malaysia; Daegu Catholic University, Korea; Uttara University, Bangladesh; serta National Changhua University of Technology, Taiwan.
Program tersebut dibahas dalam rapat koordinasi pimpinan Unismuh Makassar di Ruang Rapat Senat, Lantai 17 Gedung Iqra, Kamis, 1 Oktober 2026.
Rapat dipimpin Rektor Unismuh Makassar Dr Ir H Abd Rakhim Nanda, ST, MT, IPU, dan dihadiri Wakil Rektor I Prof Andi Sukri Syamsuri, Dekan FEB Dr Edy Jusriadi, dan Dekan FKIP Dr Baharullah.
Hadir pula Ketua Lembaga Penerimaan Mahasiswa Baru Dr Muhammad Akhir, Ketua Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Prof Sulfasyah, Ketua Lembaga Kerja Sama dan Urusan Internasional Dr Maharida, para Wakil Dekan, serta Kepala Humas Unismuh Makassar.
Ketua Lembaga Kerja Sama dan Urusan Internasional (LKUI) Unismuh Makassar, Dr Maharida, menjelaskan bahwa program adjunct professor dirancang berjalan dua arah. Selain menerima profesor internasional untuk berkegiatan di Unismuh, dosen Unismuh juga didorong mengajar dan berkolaborasi di perguruan tinggi luar negeri.
“Sekarang kita bahas yang keluar. Kami menerima beberapa surat untuk Unismuh Makassar mengirimkan dosen untuk adjunct juga keluar,” ujar Maharida.
Menurut Maharida, dosen yang terpilih akan terlibat dalam kegiatan akademik di perguruan tinggi mitra. Salah satu bentuknya adalah mengajar selama satu semester secara berpasangan dengan dosen dari universitas yang mengundang.
Selain pengajaran, peserta program juga ditargetkan melakukan penulisan bersama hingga menghasilkan publikasi dengan akademisi perguruan tinggi mitra.
Kebutuhan dosen mencakup sejumlah rumpun keilmuan, antara lain pendidikan, teknik, ekonomi, governance atau pemerintahan, serta Islamic Studies.
“Yang dibutuhkan ada pendidikan dari FKIP, Fakultas Teknik, Ekonomi, Governance, dan Islamic Studies,” jelas Maharida.
Sejumlah kualifikasi juga dipersyaratkan. Kandidat berasal dari kalangan dosen berkualifikasi doktor, memiliki pengalaman mengajar, serta memiliki kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris sesuai standar yang ditetapkan mitra.
Teknis pelaksanaan adjunct professor dapat dilakukan secara luring maupun daring. Skema tersebut nantinya disesuaikan dengan kesepakatan antara Unismuh dan masing-masing perguruan tinggi mitra.
“Apakah nanti modanya offline atau online akan dibicarakan. Apakah kita akan ke sana satu minggu atau kita lakukan secara online, virtual,” kata Maharida.
Berdasarkan materi yang dipaparkan dalam rapat, program tersebut dijadwalkan dimulai pada 1 April 2027. Karena itu, Maharida meminta fakultas mulai mengidentifikasi dan mengusulkan dosen yang memenuhi persyaratan serta berminat mengikuti program.
“Insya Allah akan dimulai 1 April 2027 untuk semester berikutnya di sana. Jadi, Bapak-Ibu yang ingin mencalonkan diri untuk mengikuti program ini, informasikan kepada kami,” ujarnya.
Program tersebut melengkapi skema adjunct professor internasional Unismuh. Pada akhir 2026, Unismuh juga bersiap menerima profesor internasional di FKIK, FEB, dan FKIP. Dengan demikian, mobilitas akademik dirancang berlangsung dua arah: profesor internasional datang ke Unismuh dan dosen Unismuh memperoleh ruang mengajar serta berkolaborasi di kampus mitra luar negeri.
Melalui skema tersebut, Unismuh mendorong kerja sama internasional menghasilkan aktivitas akademik yang terukur, terutama pengajaran lintas negara, perluasan jejaring dosen, kolaborasi penulisan, dan publikasi internasional.

