September 29, 2026
JL. SULTAN ALAUDDIN NO. 259, Kec. Rappocini, Gunung Sari, Kota Makassar, 90221
Berita Utama

Hadiri Peresmian Markaz Huffadz di Unismuh, Syekh Khoory Sebut Makassar Rumah Kedua

Syekh Mohammad MT Al Khoory

UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Bagi Dr. (HC) Syekh Mohammad MT Al Khoory, Makassar bukan sekadar kota yang berulang kali ia kunjungi. Hubungan yang telah terjalin selama sekitar 35 tahun membuatnya menyebut Makassar sebagai rumah kedua.

Pernyataan itu ia sampaikan seusai menghadiri peresmian Markaz Huffadz Al-Qur’an dan Rumah Tahfidz Al-Qur’an Putri Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Selasa, 29 September 2026.

“Saya sangat senang berada di Makassar. Tempat ini merupakan rumah kedua saya. Saya sudah berada di Makassar selama 35 tahun,” kata Syekh Khoory.

Ucapan itu menggambarkan panjangnya relasi Syekh Khoory dan keluarganya dengan Muhammadiyah di Sulsel, khususnya Unismuh Makassar. Hubungan tersebut tidak hanya dibangun melalui kunjungan, tetapi juga melalui berbagai dukungan di bidang pendidikan, dakwah, dan kegiatan kemanusiaan.

Peresmian Markaz Huffadz dan Rumah Tahfidz menjadi salah satu penanda terbaru dari perjalanan panjang tersebut.

Hubungan yang Tumbuh Bersama Unismuh

Syeikh Khoory adalah pendiri AMCF yang berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab. Ia dikenal sebagai dermawan yang aktif dalam kegiatan sosial, pendidikan, dan keagamaan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Melalui AMCF, Syekh Khoory telah berkontribusi dalam pembangunan berbagai fasilitas pendidikan dan keagamaan, seperti Ma’had Al-Birr di Unismuh Makassar.

Dalam wawancara seusai acara, Syekh Khoory mengungkapkan kegembiraannya melihat berbagai perkembangan yang telah dicapai bersama Unismuh Makassar.

“Kami senang dengan semua pencapaian yang telah kami lakukan di sini dan kerja sama yang telah kami jalani dengan Universitas Muhammadiyah di Makassar,” ujarnya.

Ia berharap hubungan tersebut terus berkembang pada masa mendatang.

“Alhamdulillah, pencapaian-pencapaian ini sangat bagus dan kami berharap bahwa ini akan terus berjalan, insyaallah, di masa depan,” katanya.

Jejak hubungan itu dapat dilihat dari perkembangan Ma’had Al-Birr. Dalam sambutannya, Rektor Unismuh Makassar Dr Ir H Abd Rakhim Nanda, ST, MT, IPU menyebut Ma’had Al-Birr telah beroperasi di Unismuh sejak 1997 dan menjadi bagian penting dalam penguatan pendidikan keislaman di kampus.

Seiring perjalanan waktu, hubungan tersebut berkembang ke berbagai bentuk dukungan lain, termasuk pembangunan fasilitas pendidikan, masjid, serta sarana pembinaan Al-Qur’an.

Dukungan Keluarga Al Khoory

Dalam sambutannya, Syekh Khoory juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, pimpinan Muhammadiyah, Rektor dan sivitas akademika Unismuh, Ma’had Al-Birr, serta seluruh pihak yang terlibat dalam pembangunan fasilitas pembinaan Al-Qur’an tersebut.

Pembangunan Markaz Huffadz di Kampus Unismuh juga melibatkan dukungan dari keluarga Syekh Khoory. Salah satu anggota keluarganya turut berperan dalam pembangunan fasilitas itu, sementara sejumlah anggota keluarga Al Khoory juga hadir dalam acara peresmian.

Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa hubungan yang terbangun tidak berhenti pada satu generasi.

Dukungan keluarga Al Khoory juga mendapat apresiasi dari Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan Prof Dr H Ambo Asse, MAg.

Menurut Ambo Asse, dukungan itu telah menyentuh berbagai bidang pendidikan, dakwah, dan kemanusiaan Muhammadiyah.

Ia menyebut pengembangan Ma’had Al-Birr, pembangunan masjid, serta berbagai fasilitas pendidikan sebagai bagian dari jejak kontribusi yang telah diberikan.

“Semoga amal jariah ini tumbuh dan berkembang terus, insyaallah,” ujar Ambo Asse.

Dari Bangunan ke Pembinaan Al-Qur’an

Peresmian Markaz Huffadz dan Rumah Tahfidz juga memperlihatkan arah baru dari kerja sama tersebut: penguatan ekosistem penghafal Al-Qur’an.

Rektor Unismuh menjelaskan bahwa Markaz Huffadz di kampus diperuntukkan bagi mahasiswa yang telah memiliki hafalan Al-Qur’an sebelum masuk perguruan tinggi.

Tujuannya agar hafalan mereka tetap terpelihara selama menjalani proses akademik.

“Yang di kampus ini gedung khusus untuk yang sudah menghafal sebelum masuk di kampus. Jadi tujuannya agar mereka terpelihara hafalannya selama berada di Unismuh,” ujar Rakhim.

Sementara Rumah Tahfidz di Gowa diperuntukkan bagi mereka yang sedang menjalani proses menghafal.

“Kalau yang di Gowa, itu khusus untuk yang belajar menghafal. Sudah bagus bacaannya, tapi mau menghafal,” jelasnya.

Markaz Huffadz juga terintegrasi dengan program beasiswa penghafal Al-Qur’an di Unismuh.

Rakhim menyebut jumlah mahasiswa yang terkait dengan program tersebut telah mencapai sekitar 74 orang. Program beasiswa bagi penghafal Al-Qur’an itu telah berjalan sekitar empat tahun.

Pembinaan dilakukan melalui murajaah dan penyetoran hafalan secara rutin.

“Sudah hafal, tinggal mengulang-ulang hafalannya. Ada di lantai satu Imam Rawatib Masjid yang juga penghafal Al-Qur’an 30 juz. Jadi ada istilahnya itu kalau selesai salat disetor hafalannya,” kata Rakhim.

Gubernur Apresiasi Konsistensi Dukungan

Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman juga menyampaikan apresiasi terhadap konsistensi Syekh Khoory dan keluarganya dalam mendukung kegiatan pendidikan dan keagamaan di Sulawesi Selatan.

Dalam sambutannya, ia menyinggung perjalanan panjang dukungan tersebut dan menilai kontribusi yang diberikan tidak hanya berupa pembangunan fasilitas, tetapi juga memperkuat hubungan antarlembaga dan antarmasyarakat.

Seusai meninjau Markaz Huffadz, Andi Sudirman juga memuji kualitas fasilitas yang dibangun.

“Ini markaz untuk para hafiz Al-Qur’an. Bagus sekali kualitas bangunannya,” katanya.

Ia berharap Syekh Khoory dan keluarganya memperoleh balasan atas dukungan yang selama ini diberikan terhadap pendidikan dan keagamaan di Sulawesi Selatan.

Andi Sudirman juga berharap hubungan antara Sulawesi Selatan, Unismuh, Muhammadiyah, dan keluarga besar Syekh Khoory terus berkembang pada masa mendatang.

Bagi Syekh Khoory, relasi itu telah melampaui batas antara donor dan penerima bantuan. Tiga puluh lima tahun kebersamaan telah membentuk jaringan persahabatan, pendidikan, dan dakwah yang terus tumbuh.

Makassar, yang dahulu menjadi salah satu tempat membangun kerja sama, kini ia sebut sebagai rumah kedua. Dan peresmian Markaz Huffadz serta Rumah Tahfidz menjadi satu lagi jejak dari hubungan panjang Syekh Khoory, keluarganya, dan Muhammadiyah di Sulawesi Selatan.