UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar meraih penghargaan pada Program Kreativitas Mahasiswa Award (PKM Award) 2026, Senin, 21 September 2026.
Tim yang diketuai Andi Syafiqah Ramadhani Nasrum tersebut memperoleh penghargaan kategori Kelompok Mahasiswa dengan Media Sosial Paling Menarik pada PKM Skema Pendanaan Bidang Karsa Cipta (PKM-KC) Tahun 2026.
Penghargaan diberikan atas pelaksanaan program bertajuk “Rancang Bangun Aplikasi Penerjemah Bahasa Isyarat Dua Arah bagi Tunarungu Berbasis Perangkat Bergerak dengan Pelacakan Gerakan dan Teks ke Suara.”
Ketua tim PKM-KC Unismuh, Andi Syafiqah Ramadhani Nasrum, mengatakan penghargaan tersebut menjadi apresiasi terhadap kerja bersama tim, tidak hanya dalam mengembangkan inovasi, tetapi juga dalam mengomunikasikan proses program kepada masyarakat.
“Kami tentu sangat bersyukur karena penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi terhadap kerja seluruh tim. Sejak awal, kami berusaha bukan hanya menghasilkan sebuah inovasi, tetapi juga menyampaikan proses dan manfaatnya kepada masyarakat melalui media sosial dengan cara yang menarik dan mudah dipahami,” ujar Andi Syafiqah, Senin, 21 September 2026.
Kembangkan Penerjemah Bahasa Isyarat
Karya yang dikembangkan tim Unismuh berupa aplikasi penerjemah bahasa isyarat dua arah berbasis perangkat bergerak.
Aplikasi tersebut memanfaatkan teknologi pelacakan gerakan serta teks ke suara untuk membantu komunikasi antara penyandang tunarungu dan masyarakat yang tidak menguasai bahasa isyarat.
Andi Syafiqah menjelaskan bahwa gagasan tersebut berangkat dari kebutuhan untuk memperkecil hambatan komunikasi yang masih dihadapi penyandang tunarungu dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami ingin teknologi yang dikembangkan tidak berhenti sebagai karya mahasiswa. Harapannya, aplikasi ini bisa menjadi salah satu alternatif untuk membantu komunikasi dua arah antara teman-teman tunarungu dengan masyarakat yang belum memahami bahasa isyarat,” katanya.
Menurutnya, proses pengembangan program juga memberikan pengalaman kepada anggota tim untuk menggabungkan kemampuan teknologi, kreativitas, kerja sama, dan kepekaan terhadap persoalan sosial.
Dosen pendamping tim PKM-KC, Chyquita Danuputri, S.Kom., M.Kom., mengatakan capaian tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang dijalani mahasiswa, mulai dari mengembangkan gagasan, melaksanakan program, menyempurnakan produk, hingga menyampaikan hasil inovasi kepada masyarakat.
“Prestasi ini merupakan buah dari konsistensi dan kerja keras mahasiswa selama menjalankan PKM. Mereka tidak hanya dituntut menghasilkan sebuah produk teknologi, tetapi juga belajar mengidentifikasi persoalan, menyusun solusi, bekerja dalam tim, melakukan evaluasi, serta mengomunikasikan inovasi tersebut kepada masyarakat,” ujar Chyquita.
Menurutnya, aspek kebermanfaatan menjadi salah satu kekuatan dari karya yang dikembangkan tim.
“Yang paling penting, karya ini memiliki orientasi kebermanfaatan, khususnya dalam mendukung komunikasi yang lebih inklusif bagi penyandang tunarungu,” tambahnya.
Chyquita berharap inovasi tersebut tidak berhenti pada pelaksanaan PKM, tetapi dapat terus dikembangkan dan disempurnakan agar manfaatnya menjangkau pengguna yang lebih luas.
Media Sosial Jadi Ruang Edukasi
Penghargaan kategori media sosial paling menarik menjadi capaian tersendiri bagi tim.
Bagi Andi Syafiqah, media sosial tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan publikasi program, tetapi juga menjadi ruang edukasi kepada masyarakat mengenai inovasi yang sedang dikembangkan dan isu komunikasi inklusif bagi penyandang tunarungu.
“Kami mencoba menjadikan media sosial sebagai ruang untuk bercerita tentang proses PKM, mulai dari pengembangan alat, perjalanan tim, sampai manfaat yang ingin kami hadirkan. Jadi masyarakat tidak hanya melihat hasil akhirnya, tetapi juga memahami persoalan yang ingin kami bantu selesaikan,” ujarnya.
Ia berharap capaian tersebut menjadi motivasi bagi tim untuk terus menyempurnakan inovasi yang telah dikembangkan.
Pengalaman mengikuti PKM juga, menurutnya, memperlihatkan bahwa mahasiswa dapat mengembangkan gagasan yang berangkat dari persoalan nyata sekaligus memanfaatkan teknologi untuk menawarkan solusi.
LPKA Perkuat Ekosistem PKM
Ketua Lembaga Pengembangan Kemahasiswaan dan Alumni (LPKA) Unismuh Makassar, Dr Nenny, S.T., M.T., IPM., menilai capaian tersebut menunjukkan bahwa pembinaan PKM tidak berhenti ketika mahasiswa berhasil mendapatkan pendanaan.
“PKM bukan hanya tentang bagaimana mahasiswa menyusun proposal dan berhasil memperoleh pendanaan. Setelah lolos pendanaan, justru dimulai tahapan yang sangat menentukan, yaitu bagaimana mahasiswa melaksanakan program secara berkualitas, memenuhi target luaran, mendokumentasikan proses, serta mengomunikasikan hasil dan manfaat inovasinya kepada publik,” ungkap Nenny.
Menurutnya, keberhasilan tim Andi Syafiqah sekaligus memperlihatkan pentingnya kemampuan mahasiswa dalam mendiseminasikan hasil inovasi kepada masyarakat.
“LPKA akan terus memperkuat ekosistem pembinaan PKM, mulai dari penjaringan ide, klinik proposal, pendampingan, monitoring pelaksanaan, penguatan luaran hingga strategi publikasi. Kami berharap keberhasilan ini memotivasi semakin banyak mahasiswa Unismuh Makassar untuk menjadikan PKM sebagai ruang aktualisasi gagasan dan inovasi,” tambahnya.
Tambah Prestasi Mahasiswa Unismuh
Capaian tim PKM-KC tersebut menambah catatan prestasi mahasiswa Unismuh Makassar dalam Program Kreativitas Mahasiswa tingkat nasional pada 2026.
PKM menjadi salah satu ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan riset, kreativitas, inovasi, kolaborasi, serta pemecahan masalah yang berangkat dari kebutuhan masyarakat.
Bagi Andi Syafiqah dan tim, penghargaan PKM Award menjadi dorongan untuk melanjutkan pengembangan karya sehingga manfaatnya dapat menjangkau pengguna secara lebih luas.
Program tersebut juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui pengembangan kapasitas dan inovasi mahasiswa, SDG 9: Industri, Inovasi dan Infrastruktur melalui pemanfaatan teknologi digital, serta SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan melalui pengembangan teknologi yang mendukung akses komunikasi bagi penyandang tunarungu.

