UNISMUH.AC.ID, DAVAO, FILIPINA — Tim peneliti Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar melakukan penelitian kolaboratif di Ateneo de Davao University, Filipina, pada 5-9 September 2026. Penelitian itu mengkaji pendidikan Islam, kearifan lokal Mindanao, dan moderasi beragama dalam lingkungan perguruan tinggi multireligius.
Penelitian dilakukan bersama Islamic Studies dan Al Qalam Institute for Islamic Identities and Dialogue in Southeast Asia, pusat kajian yang berfokus pada identitas Islam dan dialog lintas agama di Asia Tenggara.
Tim Unismuh dipimpin Dr Nurhidaya M., S.Pd.I., M.Pd.I., bersama Dr Amirah Mawardi, S.Ag., M.Si., dan Sandi Pratama, S.Pd.I., M.Pd.I. Sejumlah mahasiswa juga dilibatkan dalam kegiatan tersebut sebagai bagian dari penguatan kapasitas riset internasional.
Riset mengangkat tema “Pendidikan Islam dan Kearifan Lokal Mindanao dalam Lingkungan Multireligius: Penguatan Moderasi Beragama Mahasiswa Muslim di Ateneo de Davao University, Filipina.”
Ateneo de Davao University menjadi konteks yang menarik karena perguruan tinggi Katolik Jesuit tersebut tetap menyelenggarakan program Islamic Studies dan memiliki Al Qalam Institute. Kondisi itu memberi ruang untuk melihat bagaimana mahasiswa Muslim menjalani pendidikan dan mempertahankan identitas keagamaan dalam lingkungan kampus yang multireligius.
Mindanao sebagai Laboratorium Sosial
Ketua tim peneliti, Nurhidaya, menjelaskan penelitian itu memusatkan perhatian pada hubungan antara pendidikan Islam, identitas keislaman, kearifan lokal Mindanao, dan interaksi lintas agama.
“Mindanao merupakan laboratorium sosial yang sangat kaya untuk memahami bagaimana pendidikan Islam berkembang dalam masyarakat yang plural,” kata Nurhidaya.
Menurut dia, pengalaman mahasiswa Muslim di Ateneo de Davao memberikan perspektif tentang kemungkinan mempertahankan identitas keagamaan tanpa harus menutup diri terhadap kelompok lain.
“Pengalaman mahasiswa Muslim di AdDU memberikan perspektif baru tentang bagaimana identitas keagamaan dapat tetap kuat sekaligus terbuka terhadap dialog dan kehidupan damai bersama pemeluk agama lain,” ujarnya.
Selama penelitian lapangan, tim melakukan observasi terhadap lingkungan akademik Islamic Studies dan program-program Al Qalam Institute. Tim juga menyebarkan angket, melakukan wawancara mendalam dengan dosen dan mahasiswa Ateneo de Davao University, serta mempelajari dokumen kebijakan dan praktik pendidikan di universitas tersebut.
Penelitian tidak hanya diarahkan untuk melihat proses pendidikan formal. Tim juga menggali bagaimana nilai dan praktik sosial masyarakat Mindanao berperan dalam membentuk hubungan antarkelompok agama.
Anggota tim peneliti, Sandi Pratama, mengatakan budaya dialog, relasi sosial, dan praktik hidup berdampingan menjadi bagian yang penting untuk diamati.
“Nilai-nilai lokal seperti budaya dialog, relasi sosial, dan praktik hidup berdampingan menjadi bagian penting dalam membangun moderasi beragama,” kata Sandi.
Pengalaman tersebut, menurut dia, dapat menjadi bahan pembelajaran dalam pengembangan pendidikan Islam di Indonesia.
Mencari Model Pendidikan Kontekstual
Secara akademik, penelitian tersebut diarahkan untuk menghasilkan Model Pendidikan Islam Kontekstual dalam Lingkungan Multireligius.
Model itu diharapkan dapat menjadi salah satu rujukan dalam pengembangan pendidikan Islam pada masyarakat yang plural. Peneliti ingin melihat bagaimana pendidikan agama dapat memperkuat identitas keislaman sekaligus membangun kemampuan hidup bersama dalam keberagaman.
Hasil penelitian juga ditargetkan menjadi artikel ilmiah pada jurnal internasional bereputasi, rekomendasi kebijakan atau policy brief, serta menjadi dasar bagi penguatan konsorsium penelitian Indonesia-Filipina dalam bidang pendidikan Islam dan dialog lintas agama.
Kerja sama dengan Ateneo de Davao University tidak hanya berbentuk kunjungan akademik. Kedua pihak juga terlibat dalam proses penelitian, mulai dari penyusunan instrumen, pendampingan lapangan, validasi temuan, hingga rencana diseminasi hasil penelitian secara bersama.
Kolaborasi tersebut sekaligus memperluas kajian pendidikan Islam dari ruang kelas ke persoalan yang lebih luas: bagaimana identitas agama dibentuk, dipertahankan, dan dinegosiasikan dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat yang berbeda agama dan budaya.
Pengalaman Mindanao dengan sejarah, kebudayaan, serta relasi antaragama yang khas dapat memberi perspektif pembanding bagi Indonesia. Bagi tim peneliti, perbandingan pengalaman tersebut penting untuk memperkaya diskursus pendidikan Islam dan moderasi beragama di Asia Tenggara.
Kontributor: Ahmad Rijal Misbah
Editor: Hadisaputra

