UNISMUH.AC.ID, MALINO— Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar terus memperkuat kualitas sumber daya manusia untuk menopang pertumbuhan program studi dan transformasi menuju teaching university yang berdampak, berkelanjutan, dan bereputasi global.
Jumlah guru besar Unismuh meningkat dari 24 menjadi 27 orang, sementara dosen berkualifikasi doktor atau S3 bertambah dari 321 menjadi 329 orang. Pada saat yang sama, jumlah dosen secara keseluruhan naik dari 820 menjadi 839 orang.
Capaian tersebut disampaikan Wakil Rektor II Unismuh Makassar Dr Hj Ihyani Malik, S.Sos., M.Si. saat memaparkan evaluasi Bidang Sumber Daya, Administrasi Umum, Keuangan dan Aset dalam Rapat Kerja (Raker) Unismuh Tahun Akademik 2026–2027 di Malino Highlands, Kabupaten Gowa, Selasa, 25 Agustus 2026.
Ihyani menjelaskan, penambahan jumlah dosen dilakukan untuk mengimbangi perkembangan institusi, termasuk pembukaan sejumlah program studi baru serta kebutuhan pemenuhan rasio dosen dan mahasiswa.
Pada tahun akademik 2024–2025, Unismuh memiliki 820 dosen. Jumlah itu meningkat menjadi 839 orang pada 2025–2026. Tenaga kependidikan juga bertambah dari 301 menjadi 319 orang.
Menurut Ihyani, kebutuhan dosen terutama muncul pada program-program studi baru di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, termasuk pendidikan dokter spesialis, serta beberapa program studi lain yang memiliki jumlah mahasiswa besar.
Guru Besar Naik Menjadi 27
Penguatan SDM Unismuh tidak hanya dilakukan dari sisi jumlah, tetapi juga jenjang jabatan akademik dan kualifikasi pendidikan dosen.
Ihyani menunjukkan adanya pergerakan dosen dari jenjang jabatan akademik yang lebih rendah menuju jenjang yang lebih tinggi.
Jumlah guru besar meningkat dari 24 menjadi 27 orang. Selain itu, terdapat sekitar 20 dosen yang disebut tengah berproses menuju jenjang lektor dan lektor kepala, sementara dua dosen sedang menunggu proses menuju guru besar.
“Guru besar yang awalnya 24 menjadi 27. Semoga terus bertambah. Kita doakan teman-teman yang sementara mengusul,” kata Ihyani.
Ia menilai peningkatan jabatan akademik menjadi salah satu indikator perkembangan kualitas dosen sekaligus berkontribusi terhadap reputasi institusi.
Perkembangan yang sama terlihat pada kualifikasi pendidikan.
Dosen berkualifikasi S3 bertambah dari 321 menjadi 329 orang. Sementara jumlah dosen S2 turun dari 487 menjadi 449 orang, yang menurut Ihyani antara lain menunjukkan adanya dosen yang melanjutkan dan menyelesaikan pendidikan doktoral.
Menurutnya, peningkatan jumlah dosen bergelar doktor memperlihatkan kesadaran dosen Unismuh untuk terus meningkatkan kapasitas akademik.
“Ini menunjukkan bahwa para dosen di Unismuh punya kepedulian untuk upgrade diri, sekaligus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari reputasi universitas,” ujarnya.
Sertifikasi Dosen Terus Diperkuat
Bidang sumber daya juga mencatat perkembangan dalam sertifikasi dosen.
Ihyani mengatakan dalam beberapa tahun terakhir semakin banyak dosen Unismuh yang memenuhi persyaratan dan berhasil mengikuti sertifikasi pendidik.
Ia berharap peningkatan tersebut terus berjalan seiring dengan pengembangan jenjang akademik dan peningkatan kualifikasi dosen.
Penguatan kompetensi juga diarahkan kepada tenaga kependidikan.
Menurut Ihyani, tenaga kependidikan merupakan salah satu garda terdepan pelayanan kepada mahasiswa. Karena itu, peningkatan mutu perguruan tinggi tidak cukup hanya dilakukan melalui pengembangan kompetensi dosen.
“Karyawan kita itu menjadi garda terdepan untuk memberikan layanan kepada mahasiswa. Ternyata layanan yang baik itu punya nilai yang sangat bagus,” ujarnya.
Sejumlah program pengembangan kompetensi tenaga kependidikan telah dilaksanakan.
Dalam paparannya, Ihyani menyebut pelatihan kesehatan dan keselamatan kerja telah diikuti empat orang, bimbingan teknis pengembangan kompetensi enam orang, pelatihan instruktur BNSP 10 orang, serta pelatihan pelayanan prima sebanyak 45 orang.
Selain itu, pelatihan terkait administrasi dan kompetensi lainnya telah menjangkau puluhan tenaga kependidikan. Pelatihan manajemen reputasi digital organisasi juga diikuti 24 orang.
Namun, Ihyani memberikan perhatian khusus terhadap kompetensi laboran.
Ia mengungkapkan pelatihan laboran masih sangat terbatas, sementara Unismuh tengah bersiap mengembangkan laboratorium terpadu.
Sarana Akreditasi Terserap 100 Persen
Dari aspek anggaran, Bidang II merupakan salah satu bidang dengan porsi belanja besar karena mencakup penggajian, belanja rutin, pengembangan sumber daya, sarana-prasarana, dan aset.
Ihyani menyebut realisasi belanja modal dan pembiayaan telah mencapai 84,65 persen, sedangkan anggaran pengembangan sarana-prasarana telah terserap 100 persen.
Pengembangan fasilitas tersebut salah satunya diarahkan untuk membantu program studi yang menghadapi proses akreditasi.
“Pengembangan sarana dan prasarana itu terserap sampai 100 persen, terutama untuk prodi-prodi yang mau akreditasi. Kita benahi semua sarana-prasarananya,” kata Ihyani.
Di bidang keuangan, serapan disebut telah mencapai 98,20 persen.
Unismuh juga mulai mempersiapkan pengembangan sejumlah unit bisnis sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian institusi.
SDM Menopang Transformasi Teaching University
Penguatan sumber daya menjadi semakin penting seiring perkembangan Unismuh yang kini memiliki puluhan program studi dan terus meningkatkan standar akreditasi, pembelajaran, penelitian, serta layanan mahasiswa.
Bagi Ihyani, pertumbuhan institusi harus dibarengi peningkatan kualitas manusia yang mengelolanya, baik dosen maupun tenaga kependidikan.
Kenaikan jumlah guru besar dan dosen S3, pengembangan sertifikasi, peningkatan kompetensi tenaga kependidikan, serta pembenahan sarana-prasarana menjadi bagian dari fondasi tersebut.
Melalui Raker 2026–2027, Bidang Sumber Daya, Administrasi Umum, Keuangan dan Aset diarahkan untuk memastikan pertumbuhan Unismuh tidak hanya terlihat dari besarnya institusi, tetapi juga dari kualitas SDM, mutu pelayanan, tata kelola, dan kesiapan fasilitas dalam mendukung transformasi menuju teaching university yang berdampak dan bereputasi global.

