Oleh: Dr. Maria Ulviani, S.Pd., M.Pd. (Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unismuh Makassar dan Anggota Lembaga Budaya, Seni, dan Olahraga (LBSO) PW ‘Aisyiyah Sulsel)
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, berpikir, dan membangun relasi sosial. Media sosial menghadirkan ruang tanpa batas yang memungkinkan setiap orang berbicara, menyampaikan pendapat, dan membangun jejaring komunikasi secara cepat. Namun, di balik kemudahan tersebut, masyarakat juga menghadapi tantangan serius berupa krisis empati. Bahasa yang seharusnya menjadi jembatan kemanusiaan justru sering berubah menjadi alat kekerasan verbal, ujaran kebencian, perundungan digital, hingga penyebaran informasi yang memecah belah masyarakat.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu diiringi dengan kematangan budaya dan etika komunikasi. Banyak orang mampu menguasai perangkat digital, tetapi gagal memahami nilai kemanusiaan dalam penggunaan bahasa. Di tengah situasi inilah tema Milad ke-109 ‘Aisyiyah, “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian,” menjadi sangat relevan sebagai refleksi bersama dalam merawat peradaban melalui kata.
Bahasa memiliki kekuatan besar dalam membentuk cara manusia memandang dunia. Kata-kata dapat menghadirkan harapan, tetapi juga mampu melahirkan luka. Dalam perspektif pendidikan bahasa dan sastra, bahasa tidak hanya dipahami sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai medium pembentukan karakter dan budaya masyarakat. Cara seseorang menggunakan bahasa mencerminkan cara berpikir dan nilai yang dianutnya. Karena itu, peradaban yang sehat hanya dapat dibangun melalui budaya komunikasi yang beradab.
Dalam konteks dakwah kemanusiaan, kata-kata memiliki posisi yang sangat penting. Dakwah bukan semata-mata aktivitas menyampaikan ajaran agama secara verbal, melainkan juga proses menghadirkan nilai kasih sayang, penghormatan terhadap manusia, dan semangat perdamaian dalam kehidupan sosial. Dakwah yang humanis akan melahirkan ruang dialog yang sehat, sedangkan dakwah yang dipenuhi kebencian hanya akan memperkuat polarisasi masyarakat.
Sebagai organisasi perempuan Islam berkemajuan, ‘Aisyiyah selama lebih dari satu abad telah menunjukkan perannya dalam membangun peradaban melalui pendidikan, pelayanan sosial, kesehatan, dan pemberdayaan perempuan. Gerakan ‘Aisyiyah membuktikan bahwa dakwah dapat dilakukan melalui pendekatan budaya dan kemanusiaan yang menyentuh kehidupan masyarakat secara nyata. Dakwah tidak hanya hadir di mimbar, tetapi juga melalui tindakan sosial, pendidikan literasi, dan penguatan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.
Di era digital saat ini, tantangan dakwah semakin kompleks. Media sosial sering kali menjadi ruang pertarungan narasi yang dipenuhi kemarahan dan kebencian. Perbedaan pendapat mudah berubah menjadi konflik karena hilangnya kemampuan mendengar dan memahami orang lain. Budaya komunikasi yang instan membuat banyak orang lebih cepat bereaksi daripada merefleksikan. Akibatnya, empati perlahan memudar dari ruang publik.
Krisis empati tersebut menjadi persoalan serius karena dapat melemahkan solidaritas sosial masyarakat. Ketika manusia kehilangan empati, maka kekerasan verbal dianggap biasa, penghinaan menjadi hiburan, dan penderitaan orang lain dipandang sebagai tontonan. Dalam kondisi seperti ini, sastra memiliki peran penting sebagai ruang pembelajaran kemanusiaan.
Sastra mengajarkan manusia untuk memahami kehidupan melalui pengalaman orang lain. Karya sastra menghadirkan cerita tentang cinta, perjuangan, penderitaan, kehilangan, dan harapan yang mampu menyentuh sisi emosional pembacanya. Melalui sastra, seseorang belajar memahami bahwa setiap manusia memiliki luka, ketakutan, dan impian yang sama. Inilah kekuatan sastra dalam merawat empati dan membangun kesadaran kemanusiaan.
Literasi sastra menjadi penting untuk dikembangkan di tengah budaya digital yang semakin dangkal dan serba cepat. Masyarakat perlu dibiasakan membaca secara reflektif, bukan sekadar mengonsumsi informasi secara instan. Membaca sastra melatih kemampuan berpikir kritis sekaligus kemampuan merasakan. Sastra tidak hanya mengasah intelektual, tetapi juga memperhalus hati manusia.
Dalam perspektif kritik sastra, karya sastra juga dapat menjadi bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan sosial dan krisis kemanusiaan. Banyak karya sastra lahir dari kegelisahan terhadap realitas sosial yang penuh kekerasan dan diskriminasi. Sastra menjadi suara bagi mereka yang terpinggirkan dan ruang refleksi bagi masyarakat untuk meninjau kembali nilai-nilai kemanusiaan yang mulai terkikis.
Oleh karena itu, dakwah kemanusiaan di era digital perlu diperkuat melalui gerakan literasi dan budaya membaca. Pendidikan bahasa dan sastra tidak cukup hanya mengajarkan teori kebahasaan, tetapi juga harus menanamkan etika komunikasi, kemampuan berpikir kritis, dan sensitivitas sosial. Generasi muda perlu diajak memahami bahwa bahasa memiliki konsekuensi moral. Apa yang ditulis dan disampaikan di ruang digital dapat memengaruhi kehidupan orang lain.
Perempuan memiliki posisi strategis dalam membangun budaya komunikasi yang damai. Sejak awal berdirinya, ‘Aisyiyah telah menunjukkan komitmennya dalam memajukan pendidikan perempuan sebagai bagian dari transformasi sosial. Perempuan bukan hanya pendidik dalam keluarga, tetapi juga agen budaya yang mampu menanamkan nilai kasih sayang, toleransi, dan penghormatan terhadap sesama manusia.
Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan sering menjadi penghubung dialog di tengah keluarga dan masyarakat. Karena itu, penguatan literasi perempuan menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan sosial di era digital. Ketika perempuan memiliki kemampuan literasi yang baik, maka mereka dapat menjadi pelopor dalam menciptakan ruang komunikasi yang sehat dan berkeadaban.
Milad ke-109 ‘Aisyiyah menjadi momentum penting untuk memperkuat dakwah kemanusiaan melalui pendidikan, sastra, dan budaya literasi. Peradaban yang besar tidak hanya dibangun melalui kemajuan teknologi, tetapi juga melalui kemampuan manusia menjaga nilai kemanusiaannya. Kata-kata yang baik dapat menjadi cahaya yang menuntun masyarakat menuju perdamaian, sedangkan kata-kata yang penuh kebencian hanya akan melahirkan kehancuran sosial.
Sebagai dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Makassar sekaligus Anggota Lembaga Budaya, Seni, dan Olahraga (LBSO) PW ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan, saya memandang bahwa merawat peradaban melalui kata merupakan tanggung jawab intelektual sekaligus moral. Dunia pendidikan harus menjadi ruang untuk melahirkan generasi yang cerdas, kritis, dan memiliki empati sosial yang kuat.
Pada akhirnya, dakwah kemanusiaan adalah dakwah yang menghadirkan kasih sayang dan penghormatan terhadap martabat manusia. Di tengah derasnya arus digital yang sering mengikis empati, kita membutuhkan lebih banyak kata-kata yang menenangkan, menguatkan, dan mempersatukan. Sebab, peradaban tidak hanya dibangun oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan manusia menjaga kemanusiaannya melalui bahasa dan tindakan yang beradab.

