April 21, 2026
JL. SULTAN ALAUDDIN NO. 259, Kec. Rappocini, Gunung Sari, Kota Makassar, 90221
BERITA UTAMA

Hari Kartini dan Ketahanan Perempuan, Kisah Prof Nurlina Subair Menembus Batas Tubuh dan Waktu

UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Hari Kartini kerap dikenang sebagai tonggak perjuangan perempuan untuk memperoleh hak dasar: belajar. Namun bagi Prof Dr Dra Nurlina Subair, MSi, Guru Besar Ilmu Sosiologi Universitas Muhammadiyah Makassar, makna itu melampaui sekadar akses pendidikan. Ia melihatnya sebagai perjalanan panjang hingga perempuan mampu menjadi produsen ilmu pengetahuan dan pemegang otoritas akademik tertinggi.

“Jika Kartini berjuang agar perempuan mendapatkan hak dasar untuk belajar, maka gelar Guru Besar adalah perwujudan tertinggi dari hak tersebut,” ujar Prof Nurlina Subair saat dikonfirmasi, Selasa, 21 April 2026.

Dalam pandangannya, capaian akademik perempuan hingga tingkat profesor bukan sekadar prestasi individual. Ia adalah penanda perubahan sosial, bahwa perempuan tidak hanya hadir sebagai peserta pendidikan, tetapi juga sebagai penggerak dan penghasil pengetahuan yang menentukan arah perkembangan ilmu.

Pandangan tersebut bukan tanpa jejak pengalaman. Dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Ilmu Sosiologi pada 2023, Prof Nurlina menyoroti persoalan struktural yang dihadapi perempuan, terutama dalam konteks kemiskinan. Ia mengungkapkan bahwa secara global, sebagian besar kelompok miskin adalah perempuan, yang kerap menghadapi keterbatasan akses pendidikan, kesehatan, dan peluang ekonomi.

Melalui pendekatan sosiologis, ia memetakan kompleksitas kehidupan perempuan kepala rumah tangga yang berada dalam situasi rentan. Di titik ini, ilmu pengetahuan, bagi Prof Nurlina, bukan sekadar akumulasi teori, tetapi alat untuk membaca realitas sosial dan merumuskan jalan keluar yang lebih adil.

Melampaui Keterbatasan Tubuh

Di balik capaian akademik tersebut, tersimpan perjalanan yang tidak sederhana. Prof Nurlina mengakui bahwa salah satu fase paling berat dalam hidupnya terjadi pada dua periode: 2012 dan 2022.

Pada 2012, saat tengah menempuh studi doktoral, ia divonis mengidap kanker. Dalam situasi itu, ia harus menjalani kemoterapi berulang kali, di tengah tuntutan akademik yang membutuhkan konsentrasi dan ketahanan mental yang tinggi.

“Menjalani studi S3 saja sudah merupakan beban kognitif dan emosional yang tinggi. Ketika ditambah dengan kondisi kesehatan, itu menjadi tantangan yang luar biasa,” ungkapnya.

Namun, ia berhasil menyelesaikan studinya. Bagi Prof Nurlina, keberhasilan tersebut bukan sekadar capaian akademik, tetapi bukti bahwa tekad dapat melampaui keterbatasan fisik.

Ujian serupa kembali hadir pada 2022, ketika ia sedang mengurus proses guru besar. Penyakit yang sama kembali menyerang, memaksanya kembali menjalani perawatan intensif. Tetapi, seperti sebelumnya, kondisi itu tidak membuatnya berhenti.

Ia menekankan pentingnya manajemen energi dan strategi koping yang disiplin—mengetahui kapan harus berjuang keras dan kapan memberi ruang bagi tubuh untuk pulih. “Kuncinya adalah fokus pada diri dan cita-cita,” katanya.

Pengalaman itu menjadikan perjalanan akademiknya bukan hanya perjalanan intelektual, tetapi juga perjalanan ketahanan, keberanian, dan pengendalian diri.

Pendidikan sebagai Martabat

Refleksi Hari Kartini bagi Prof Nurlina kemudian berujung pada satu gagasan kunci: pendidikan adalah martabat. Ia bukan hanya alat untuk memperoleh pekerjaan, tetapi fondasi yang memerdekakan cara berpikir dan memberi keberanian untuk bersuara.

“Bagi perempuan, pendidikan adalah martabat. Ia memerdekakan cara berpikir, memberi keberanian untuk bersuara, dan menjadi pondasi paling kokoh agar tidak mudah goyah oleh keadaan,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa kepemimpinan perempuan bukan sekadar tentang posisi, melainkan keberanian mengambil tanggung jawab—baik untuk diri sendiri maupun untuk kepentingan yang lebih luas.

Kepada mahasiswi dan perempuan muda, Prof Nurlina berpesan agar tidak pernah membiarkan keterbatasan, baik fisik maupun situasional, memadamkan mimpi. Pengalaman hidupnya menjadi bukti bahwa bahkan dalam kondisi paling rapuh, semangat untuk berkarya tetap dapat menyala.

“Jika saya bisa melampaui masa-masa sulit itu hingga meraih gelar tertinggi, maka perempuan dengan energi muda dan kesempatan yang ada pasti bisa melangkah lebih jauh,” katanya.

Hari Kartini, dalam refleksi Prof Nurlina Subair, akhirnya tidak berhenti sebagai peringatan historis. Ia menjelma menjadi cermin yang memperlihatkan bahwa perjuangan perempuan terus berlangsung—dalam ruang kuliah, dalam laboratorium, dalam riset, bahkan dalam ruang-ruang sunyi tempat seseorang bertarung dengan dirinya sendiri.

Di sanalah Kartini tidak hanya dikenang, tetapi dihidupkan.