UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Hari Kartini selalu mengajak bangsa ini kembali memikirkan satu hal mendasar: bagaimana perempuan membangun dirinya melalui pendidikan. Bagi Prof Dr Nuryanti Mustari, S.IP., M.Si, Guru Besar bidang Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Makassar, Hari Kartini bukan sekadar penanda historis, melainkan momentum untuk menegaskan bahwa pendidikan tetap menjadi kunci utama bagi lahirnya perempuan yang berdaya, bermartabat, dan berkemajuan.
“Bagi saya, Hari Kartini adalah momentum untuk menegaskan bahwa pendidikan merupakan kunci utama mewujudkan perempuan berdaya, bermartabat, dan berkemajuan,” ujar Prof Nuryanti, saat dikonfirmasi Selasa, 21 Januari 2026.
Dalam pandangannya, apa yang diperjuangkan Raden Ajeng Kartini telah membuka ruang bagi perempuan untuk berpikir, belajar, dan berkontribusi agar dapat memberi dampak bagi sesama. Karena itu, sebagai guru besar, Prof Nuryanti memaknai capaian akademiknya bukan hanya sebagai prestasi personal, tetapi juga sebagai amanah untuk melanjutkan perjuangan tersebut melalui karya dan pengabdian.
Pandangan itu terasa bertaut erat dengan jejak hidup akademiknya sendiri. Nuryanti Mustari mencatat sejarah penting di Unismuh Makassar setelah berhasil mencapai jabatan guru besar hanya dalam dua tahun sejak menduduki jabatan fungsional lektor kepala pada 2022. Capaian itu menandai ketekunan seorang akademisi yang selama ini dikenal tekun, produktif, dan konsisten dalam dunia pendidikan tinggi.
Lahir di Jeneponto pada 6 Mei 1980, Nuryanti tumbuh dengan semangat belajar yang tinggi. Setelah menamatkan pendidikan dasar dan menengah di Jeneponto, ia melanjutkan studi sarjana Ilmu Pemerintahan di Universitas Hasanuddin pada 2002. Ia kemudian menempuh studi magister Administrasi Pembangunan dan menuntaskan doktor Administrasi Publik di Universitas Negeri Makassar pada 2010.
Sejak bergabung sebagai dosen tetap FISIP Unismuh Makassar pada 2007, ia menunjukkan komitmen yang kuat dalam mengajar, meneliti, dan menulis. Ia pernah menjabat Ketua Program Studi Ilmu Pemerintahan FISIP Unismuh pada 2018-2022, serta aktif dalam penelitian kebijakan publik, tata kelola pemerintahan, dan pelayanan publik. Salah satu bukunya, Open Government: Arah Baru Governance Modern di Era Digital, memperlihatkan posisinya sebagai akademisi yang peka terhadap perubahan zaman.
Menjadi Guru Besar, Menjalani Jalan yang Tidak Instan
Meski capaian guru besarnya terbilang cepat, Prof Nuryanti menegaskan bahwa perjalanan menuju titik itu sama sekali bukan proses yang instan. Di baliknya ada tantangan, dinamika, kelelahan, bahkan keraguan yang harus dijalani dengan sabar.
“Menjadi Guru Besar adalah impian setiap dosen, dan saya tidak pernah menyangka bahwa amanah ini hadir lebih cepat dari yang saya bayangkan. Perjalanan menuju Guru Besar bukanlah proses yang instan,” katanya.
Ia mengisahkan, ada masa ketika ia harus menyelesaikan artikel ilmiah di tengah padatnya tanggung jawab mengajar dan berbagai aktivitas akademik lain, di sela keterbatasan waktu yang nyata. Naskah yang disusun dengan penuh usaha, katanya, tidak jarang harus direvisi berulang kali, bahkan mengalami penolakan dari jurnal bereputasi.
“Dalam situasi tersebut, rasa lelah dan keraguan terhadap kemampuan diri pernah hadir. Namun, dari proses itulah saya belajar tentang ketekunan, disiplin, dan pentingnya konsistensi,” ujar Prof Nuryanti.
Pengalaman itu selaras dengan pengakuannya sebelumnya bahwa tantangan terbesar dalam perjalanan menuju puncak karier akademik adalah menjaga keseimbangan antara tugas mengajar dan penelitian. Setiap penolakan artikel, menurutnya, justru menjadi pelajaran berharga. Dukungan keluarga, rekan sejawat, dan mahasiswa menjadi tenaga yang menguatkannya untuk terus melangkah.
Dari situ, capaian akademik tidak lagi tampak hanya sebagai soal kecerdasan. Bagi Prof Nuryanti, guru besar adalah hasil dari daya tahan, komitmen, dan kesungguhan dalam menapaki setiap tahap proses akademik. Karena itu, ketika Hari Kartini diperingati, ia membacanya bukan sebatas perayaan simbolik, melainkan penghormatan pada perempuan yang bertahan dalam proses panjang untuk memberi makna pada ilmunya.
Perempuan Muda Harus Berani Bermimpi Besar
Refleksi Hari Kartini Prof Nuryanti tidak berhenti pada kisah dirinya sendiri. Ia menautkan pengalaman itu dengan pesan kepada mahasiswi dan perempuan muda, yang menurutnya harus berani menatap masa depan dengan lebih besar, lebih sadar, dan lebih bermutu.
“Kepada mahasiswi dan perempuan muda, jangan ragu untuk bermimpi besar dan mengambil peran strategis dalam kehidupan,” tuturnya.
Ia mendorong generasi muda perempuan untuk memperkuat literasi, kemampuan berpikir kritis, dan integritas akademik. Dunia hari ini, katanya, membutuhkan perempuan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh menghadapi tantangan dan mampu memberi kontribusi nyata.
Namun, bagi Prof Nuryanti, ukuran keberhasilan perempuan tidak boleh berhenti pada penampilan lahiriah dan kecerdasan semata. Ada dimensi yang lebih dalam dan lebih menentukan, yakni akhlak, ketulusan, dan kualitas batin.
“Jangan hanya berhenti pada penampilan lahiriah dan kepintaran semata. Jadilah pribadi yang outstanding, yang memiliki hati yang baik dan sikap yang mulia,” ujarnya.
Menurut dia, seseorang pada akhirnya tidak hanya dikagumi karena kecerdasan dan penampilannya, tetapi benar-benar dihormati karena keindahan akhlak dan ketulusan hatinya. Dalam kalimat itu, refleksi Kartini mendapatkan maknanya yang lebih utuh: pendidikan bukan hanya jalan menuju kecakapan, tetapi juga jalan menuju kematangan moral.
Hari Kartini, dalam pandangan Prof Nuryanti Mustari, dengan demikian bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah pengingat bahwa pendidikan dapat mengubah arah hidup perempuan, sementara ketekunan dan integritas memberi kedalaman pada setiap pencapaian. Di sana, Kartini hidup bukan hanya dalam sejarah, tetapi juga dalam ruang kelas, jurnal ilmiah, pengabdian masyarakat, dan dalam sosok perempuan yang terus belajar agar ilmunya bermanfaat bagi sesama.
Di Unismuh Makassar, jejak Prof Nuryanti menjadi salah satu penanda bahwa cita-cita Kartini tentang perempuan yang cerdas dan berdaya masih menyala. Bukan sebagai gema masa lalu, melainkan sebagai kerja sunyi yang terus tumbuh dalam dunia akademik hari ini.

