UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Hari Kartini selalu menghadirkan pertanyaan yang sama dari waktu ke waktu: sejauh mana perempuan telah memperoleh ruang yang setara untuk belajar, berkarya, dan memimpin. Bagi Prof Dr Syamsia, MSi, Guru Besar Bidang Bioteknologi Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar, Hari Kartini bukan sekadar peringatan historis, melainkan momentum untuk menegaskan bahwa perjuangan perempuan di dunia pendidikan tinggi terus hidup dalam bentuk yang nyata.
Bagi Prof Syamsia, pencapaian seorang perempuan hingga menduduki jabatan profesor bukan semata keberhasilan individual. Di dalamnya terdapat jejak panjang emansipasi, akses yang lebih terbuka, kesempatan yang makin luas, serta pengakuan yang lebih setara terhadap kapasitas intelektual perempuan.
“Hari Kartini memiliki makna yang sangat mendalam bagi saya yang dapat mencapai jabatan profesor, karena hal tersebut merepresentasikan keberhasilan perjuangan emansipasi perempuan dalam memperoleh akses, kesempatan, dan pengakuan yang setara di bidang pendidikan tinggi,” ujar Prof Syamsia, saat dikonfirmasi Selasa, 21 April 2026.
Ia menilai, pencapaian perempuan sebagai profesor juga menjadi simbol transformasi sosial. Menurut dia, perempuan memiliki kapasitas intelektual, kepemimpinan akademik, dan kontribusi strategis dalam pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, serta peradaban bangsa.
“Pencapaian perempuan sebagai profesor bukan sekadar keberhasilan individual, melainkan juga simbol transformasi sosial bahwa perempuan memiliki kapasitas intelektual, kepemimpinan akademik, dan kontribusi strategis,” katanya.
Pandangan tersebut terasa sejalan dengan jalan akademik yang ia tempuh sendiri. Pada 31 Desember 2024, Unismuh Makassar secara resmi mengukuhkan Prof Syamsia sebagai Guru Besar Bidang Bioteknologi Pertanian dalam rapat senat terbuka luar biasa di Balai Sidang Muktamar. Penetapan itu didasarkan pada SK Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 96951/M/07/2024 tertanggal 5 November 2024.
Dalam pidato pengukuhannya, Prof Syamsia mengangkat tema “Pemanfaatan Sumber Daya Lokal dalam Mendukung Ketahanan Pangan Berkelanjutan”, yang menyoroti pentingnya diversifikasi pangan, penguatan sumber daya lokal, dan peran riset perguruan tinggi dalam menjawab tantangan ketahanan pangan global. Ia menempatkan ilmu pengetahuan bukan sebagai menara yang jauh dari kehidupan masyarakat, melainkan sebagai alat untuk membaca persoalan konkret dan menawarkan jalan keluar yang berkelanjutan.
Menjaga Konsistensi di Tengah Banyak Tuntutan
Di balik capaian akademik itu, Prof Syamsia mengakui ada tantangan yang tidak ringan. Salah satu yang paling berkesan baginya adalah menjaga konsistensi antara tuntutan profesional dan tanggung jawab personal. Dunia akademik, katanya, menuntut produktivitas tinggi: menyelesaikan studi, melakukan penelitian, menulis dan memublikasikan karya ilmiah, hingga aktif dalam pengabdian kepada masyarakat. Pada saat yang sama, perempuan juga kerap berhadapan dengan tanggung jawab keluarga dan peran sosial yang tidak sederhana.
“Salah satu tantangan yang paling berkesan dalam perjalanan akademik saya sebagai seorang profesor perempuan adalah bagaimana kita terus menjaga konsistensi antara tuntutan profesional dan tanggung jawab personal,” ungkapnya.
Karena itu, bagi Prof Syamsia, perjalanan seorang profesor perempuan bukan hanya perjalanan intelektual, tetapi juga perjalanan ketahanan, kedisiplinan, dan pengorbanan. Di samping itu, ia juga menyinggung kenyataan bahwa perempuan dalam situasi tertentu masih harus bekerja lebih keras untuk memperoleh pengakuan yang setara di lingkungan akademik.
“Dalam beberapa situasi, perempuan masih harus bekerja lebih keras untuk membuktikan kapasitas intelektual dan kontribusinya,” katanya.
Itulah sebabnya, ketika seorang perempuan berhasil mencapai posisi profesor, capaian tersebut, menurut dia, tidak dapat dibaca hanya sebagai prestasi pribadi. Ada makna simbolik yang lebih besar di dalamnya: bahwa perempuan mampu menembus berbagai batas melalui ilmu pengetahuan, kerja keras, dan komitmen yang kuat.
Prof Syamsia memaknai tantangan itu justru dalam semangat Hari Kartini. Baginya, Kartini mengajarkan keberanian untuk keluar dari keterbatasan dan memperjuangkan pendidikan sebagai jalan kemajuan. Maka, setiap tantangan dalam perjalanan akademik bukan sekadar ujian personal, melainkan cerminan dari semangat juang perempuan yang terus hidup.
“Tantangan itu saya maknai bukan sebagai penghalang, melainkan sebagai proses yang menguatkan, mematangkan, dan memberi makna lebih dalam pada setiap pencapaian,” ujar Prof Syamsia.
Pendidikan sebagai Jalan Kepemimpinan Masa Depan
Refleksi Hari Kartini bagi Prof Syamsia tidak berhenti pada pengalaman dirinya sendiri. Ia juga menautkannya dengan masa depan generasi muda, khususnya mahasiswa dan perempuan muda. Dalam pandangannya, pendidikan harus dipahami lebih dari sekadar alat untuk memperoleh pekerjaan. Pendidikan adalah instrumen strategis untuk membangun kapasitas intelektual, karakter, dan kesadaran sosial.
“Pendidikan harus dipandang sebagai instrumen strategis untuk membangun kapasitas intelektual, karakter, dan kesadaran sosial generasi muda,” tuturnya.
Karena itu, ia mendorong mahasiswa dan perempuan muda agar mempersiapkan diri bukan hanya sebagai pencari kerja, melainkan sebagai agen perubahan yang mampu memimpin, berinovasi, dan memberi kontribusi bagi kemajuan masyarakat. Kepemimpinan masa depan, menurut dia, membutuhkan pribadi yang bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara moral, adaptif terhadap perubahan, dan konsisten memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan kemajuan.
Pesan tersebut terasa sejalan dengan kiprah Prof Syamsia sendiri. Lahir di Pangkajene, Sidrap, 15 Juni 1972, ia menempuh pendidikan tinggi di Universitas Hasanuddin, dari sarjana Budidaya Tanaman, magister Agribisnis, hingga doktor Ilmu Pertanian. Sebelum bergabung dengan Unismuh pada 2009, ia pernah berkiprah di Departemen Kehutanan dan Perkebunan serta Dinas Kehutanan Kabupaten Maros. Di Unismuh, ia aktif memegang sejumlah amanah, mulai dari Sekretaris Unit Penjaminan Mutu Fakultas Pertanian, Asisten Direktur Pascasarjana, hingga Ketua Divisi Hak Kekayaan Intelektual LP3M.
Dalam bidang keilmuan, ia juga dikenal aktif di organisasi profesi, publikasi ilmiah, dan pelatihan berbasis bioteknologi untuk petani lokal di Sulawesi Selatan. Seluruh jejak itu memperlihatkan bahwa ilmu yang ditekuni Prof Syamsia tidak berhenti di ruang akademik, tetapi menjangkau kebutuhan masyarakat yang lebih luas, terutama dalam isu pangan, pertanian, dan keberlanjutan.
Hari Kartini, dalam refleksi Prof Syamsia, pada akhirnya bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah pengingat bahwa perempuan dapat dan harus terus mengambil bagian dalam pembentukan masa depan bangsa, melalui pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kepemimpinan yang berpijak pada nilai.
Di Unismuh Makassar, jejak Prof Syamsia menunjukkan bahwa cita-cita Kartini tentang perempuan yang cerdas, mandiri, dan berdaya saing tidak pernah benar-benar padam. Ia terus hidup dalam ruang kuliah, laboratorium, riset, pengabdian, dan dalam keteguhan perempuan yang menempuh jalan akademik hingga ke puncaknya.

