UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menggelar rapat evaluasi Rencana Strategis (Renstra) dengan menghadirkan Guru Besar Manajemen Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Indrianty Sudirman, Sabtu, 18 April 2026 di Ruang Senat, Lantai 17 Gedung Iqra, Kampus Unismuh Makassar.
Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah kampus tersebut untuk menata ulang arah pengembangan institusi sekaligus menyesuaikan dokumen strategis dengan perubahan kebijakan akreditasi perguruan tinggi.
Rapat yang diikuti jajaran pimpinan universitas, para wakil rektor, kepala badan dan lembaga, dekan, hingga unsur manajemen menengah itu berlangsung dalam suasana serius, tetapi tetap cair. Di balik forum yang tampak administratif, sesungguhnya yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar penyusunan dokumen, melainkan kemampuan kampus membaca zaman, menata prioritas, dan merawat capaian yang telah diraih.
Rektor Unismuh Makassar Dr. Ir. H. Abd. Rakhim Nanda, ST., MT., IPU., dalam sambutannya menegaskan bahwa revisi Renstra diperlukan agar institusi memiliki pijakan yang lebih adaptif terhadap regulasi baru kementerian serta sesuai dengan kebutuhan internal universitas. Menurut dia, Unismuh harus bergerak lebih terarah karena pada 2029 akan menghadapi reakreditasi institusi. Tahun ini, kata dia, kampus berada pada fase penting persiapan awal.
Ia menjelaskan, dalam beberapa tahun terakhir Unismuh lebih dahulu berkonsentrasi pada penambahan program studi dan penguatan institusi. Hasilnya, jumlah program studi meningkat dari 58 menjadi 73. Di saat yang sama, universitas juga mulai meneguhkan posisinya dalam berbagai pengakuan eksternal, mulai dari pemeringkatan kawasan Asia hingga capaian-capaian institusional lain yang memperkuat kepercayaan publik.
Karena itu, revisi Renstra tidak boleh dipahami sebagai rutinitas birokratis, melainkan sebagai upaya memastikan seluruh capaian itu tidak berhenti sebagai prestasi simbolik semata.
“Yang paling utama adalah bagaimana status-status yang sudah dimiliki itu menjadi habituasi dalam mengelola institusi,” demikian garis besar pesan Rektor.
Dalam forum itu, Rakhim Nanda juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan organisasi. Ia menilai kampus yang terus tumbuh memerlukan kesadaran kolektif agar tak terseret ke dalam gesekan kecil yang justru menggerus semangat kerja.
Sebelum sesi materi dimulai, suasana forum lebih dahulu dihangatkan oleh pengajian yang disampaikan Dr. Dahlan Lamabawa. Ia mengajak seluruh unsur pimpinan kampus mensyukuri berbagai nikmat yang dimiliki Unismuh, mulai dari capaian status unggul, dukungan mitra profesional, hingga semakin banyaknya dosen yang meraih jenjang akademik tinggi dan lolos pendanaan penelitian. Rasa syukur itu, menurut dia, harus diterjemahkan dalam kerja merawat mutu dan memperkuat tata kelola.
Sementara itu, Wakil Rektor IV Dr. Burhanuddin yang bertindak sebagai moderator menegaskan, pertemuan ini memiliki arti penting karena Renstra Unismuh sebelumnya masih disusun dengan basis sembilan kriteria. Padahal, kebijakan akreditasi perguruan tinggi kini bergerak ke enam kriteria. Perubahan itu menuntut penyesuaian mendasar, bukan hanya pada format dokumen, tetapi juga pada logika perencanaan, indikator kinerja utama, dan diferensiasi misi perguruan tinggi.
Kehadiran Prof. Indrianty Sudirman memberi bobot tersendiri pada forum tersebut. Selain dikenal sebagai Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, ia juga disebut memiliki pengalaman sebagai asesor BAN-PT dan asesor akreditasi internasional di Asia, Eropa, dan Timur Tengah.
Workshop ini menunjukkan bahwa pengelolaan universitas modern tidak cukup hanya mengandalkan semangat tumbuh. Ia memerlukan keberanian untuk mengevaluasi diri, ketelitian membaca perubahan kebijakan, dan kedisiplinan menyusun langkah jangka panjang.

