April 11, 2026
JL. SULTAN ALAUDDIN NO. 259, Kec. Rappocini, Gunung Sari, Kota Makassar, 90221
BERITA UTAMA

Kolaborasi dengan Prodi Seni Rupa, IKA Unismuh Hadirkan Sineas Garin Nugroho

UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Dukungan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar kembali tampak dalam penguatan ruang akademik kampus. Melalui kolaborasi dengan Program Studi Pendidikan Seni Rupa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, DPP IKA Unismuh menghadirkan sineas nasional Garin Nugroho dalam kuliah tamu yang mengulas intermedialitas, industri kreatif, dan tantangan generasi visual di era digital. Acara dihelat di Aula Teater I Gift, Kampus Unismuh Makassar, Sabtu, 11 April 2026.

Kegiatan itu memperlihatkan bahwa IKA Unismuh tidak sekadar menjadi wadah silaturahim alumni, melainkan juga berperan sebagai jembatan strategis yang mempertemukan kampus dengan tokoh nasional. Ketua Umum DPP IKA Unismuh yang juga Wakil Rektor I Unismuh Makassar, Prof Dr Andi Sukri Syamsuri, menegaskan bahwa kehadiran Garin merupakan kesempatan penting bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari pelaku kreatif yang telah bekerja dalam ruang nasional dan internasional.

“Kehadiran Bapak Mas Garin Nugroho ini tentu sangat bermanfaat bagi kita, terutama penikmat, pecinta, juga yang bergelut dalam profesi seni dan termasuk guru seni dan sebagainya,” kata Prof Andis, sapaan Andi Sukri Syamsuri, dalam sambutannya.

Menurut Prof Andis, seni dan sastra tidak dapat dipandang semata-mata sebagai ruang hiburan. Di dalamnya, terdapat daya untuk menunjukkan arah, menghadirkan nilai, dan menghidupkan pesan-pesan penting dalam kehidupan sosial. Karena itu, forum seperti kuliah tamu dinilai penting agar mahasiswa tidak hanya bertumbuh di ruang kelas, tetapi juga terhubung dengan percakapan yang lebih luas tentang perkembangan dunia kreatif.

Ia menilai, tema intermedialitas yang dibawa Garin Nugroho sangat relevan dengan kehidupan generasi sekarang yang akrab dengan ledakan media, visualitas, dan teknologi digital. Mahasiswa, terutama yang bergerak di bidang seni, perlu memahami bahwa karya kreatif hari ini menuntut kemampuan menyatukan berbagai medium, mulai dari teks, visual, suara, hingga ekspresi naratif dalam beragam platform.

“Tema yang saya lihat ini adalah intermedialitas dalam industri kreatif. Tubuh, suara, dan visual sebagai strategi naratif global. Saya kira konfigurasi dan penyatuan berbagai media yang ada itu memang sesuatu yang sudah mutlak sekarang,” ujarnya.

Dukungan IKA Unismuh terhadap kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan model kontribusi alumni yang lebih substantif. Alumni tidak hanya hadir pada kegiatan seremonial, tetapi ikut memperluas cakrawala akademik dan profesional mahasiswa. Dengan menghadirkan Garin Nugroho, jejaring alumni dipakai untuk membuka akses kampus pada pengalaman dunia nyata serta menghadirkan inspirasi bagi mahasiswa agar tidak melihat masa depan mereka secara sempit.

Kuliah Garin Nugroho

Garin Nugroho sendiri dikenal sebagai salah satu sineas terkemuka Indonesia. Ia tidak hanya berkiprah sebagai sutradara, tetapi juga penulis skenario, produser, dan pekerja budaya. Karya-karyanya dikenal karena memadukan keberanian estetik, kedalaman sosial, dan kepekaan terhadap perubahan masyarakat. Dalam lintasan kariernya, Garin membawa berbagai karya Indonesia ke ruang apresiasi nasional dan internasional, sehingga kehadirannya di Unismuh Makassar menjadi peristiwa penting bagi sivitas akademika.

Di hadapan mahasiswa dan dosen, Garin mengulas perubahan besar dalam dunia kreatif, terutama ketika gambar, suara, teks, dan tubuh kini bertemu dalam satu lanskap visual yang serba layar. Ia mengingatkan bahwa generasi muda harus siap membaca perubahan itu secara kritis sebab dunia digital tidak hanya menyediakan peluang, tetapi juga jebakan manipulasi, sensasi, dan budaya instan.

Bagi IKA Unismuh, forum seperti ini tidak berhenti pada kehadiran seorang tokoh nasional. Yang lebih penting ialah nilai yang dibawa dari pertemuan itu, yakni dorongan agar mahasiswa menjadi generasi yang tidak hanya mengonsumsi media, tetapi juga mampu membangun gagasan, memproduksi karya, dan merawat identitas kreatif di tengah perubahan zaman.

Kuliah tamu ini juga menegaskan pentingnya hubungan yang sehat antara universitas, alumni, dan dunia profesional. Kampus menyediakan ruang akademik, alumni membuka akses dan jejaring, sedangkan tokoh nasional menghadirkan pengalaman lapangan yang konkret. Kolaborasi semacam ini menjadikan kegiatan ilmiah lebih hidup, kontekstual, dan dekat dengan kebutuhan mahasiswa.