UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan melalui Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) resmi mengukuhkan Mualaf Learning Center Muhammadiyah (MLC-M), Sabtu, 28 Maret 2026, dalam rangkaian Syawalan 1447 Hijriah di Halaman Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulsel. Pengukuhan itu menandai hadirnya lembaga pembinaan mualaf yang lebih terstruktur dan berkelanjutan di tingkat wilayah.
MLC-M ditempatkan bukan sekadar sebagai program dakwah, melainkan sebagai sistem pendampingan yang memadukan aspek keimanan, pendidikan, dan pemberdayaan sosial dalam satu kerangka kelembagaan. Kehadirannya dimaksudkan untuk menjawab kebutuhan pembinaan mualaf yang tidak berhenti pada proses pengislaman, tetapi berlanjut pada pendampingan kehidupan keagamaan dan sosial mereka.
Sebagai pusat pembelajaran, MLC-M dirancang tidak hanya untuk membekali mualaf dengan pemahaman dasar-dasar Islam, tetapi juga untuk mendampingi mereka dalam proses adaptasi sosial dan penguatan kemandirian hidup. Lembaga ini diharapkan menjadi ruang yang aman bagi para mualaf untuk belajar, bertanya, dan bertumbuh dalam suasana yang inklusif dan berkelanjutan.
Secara struktural, MLC-M berada di bawah koordinasi Lembaga Dakwah Komunitas Muhammadiyah dan menjadi bagian integral dari gerakan amar makruf nahi munkar. Di tingkat wilayah, pengelolaannya ditopang oleh manajemen yang telah ditetapkan melalui surat keputusan resmi PWM Sulsel untuk periode 2026-2027.
Dalam struktur kepengurusan wilayah, MLC-M dipimpin oleh Direktur Wilayah Tauhid, S.Ag., M.Pd., dengan Sekretaris Mohammad Heri Saptono, S.Pd., S.Sos., M.Sos., serta didukung jajaran divisi yang menangani pendidikan, pendampingan, keuangan, dan komunikasi.
Ketua LDK PWM Sulsel Prof Dr Nurhidayat M Said menegaskan, pembentukan MLC-M merupakan langkah strategis untuk menjawab kebutuhan pembinaan mualaf yang kian kompleks. Pada saat yang sama, kehadiran lembaga ini juga dipandang penting untuk memastikan keberlanjutan dakwah Muhammadiyah di ruang-ruang komunitas.
Pendekatan pembinaan yang dikembangkan MLC-M tidak berhenti pada proses ikrar syahadat. Setelah seseorang menjadi mualaf, lembaga ini menyediakan tahapan lanjutan berupa pendidikan dasar Islam, pelatihan keterampilan hidup, hingga pendampingan psikologis dan sosial. Dengan pola seperti itu, Muhammadiyah berupaya memastikan agar para mualaf tidak berjalan sendiri dalam proses transformasi spiritualnya.
Selain itu, MLC-M juga mengintegrasikan program pemberdayaan, seperti bantuan sosial, pendampingan ekonomi, hingga pelatihan dakwah lanjutan. Melalui pendekatan tersebut, mualaf tidak hanya dibimbing dalam aspek ibadah, tetapi juga didorong untuk tumbuh sebagai bagian aktif dari masyarakat.
Pengukuhan MLC-M dalam momentum Syawalan memberi makna tersendiri. Acara itu disaksikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof Abdul Mu’ti, Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman, jajaran Pimpinan Muhammadiyah, serta ribuan peserta Syawalan dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Dalam konteks itu, Syawal yang selama ini dipahami sebagai ruang mempererat persaudaraan diperluas maknanya menjadi ruang menghadirkan kepedulian sosial yang lebih nyata.
Kehadiran MLC-M menjadi semacam jembatan antara kesalehan personal dan tanggung jawab sosial umat. Di tengah dinamika masyarakat yang semakin kompleks, lembaga ini menegaskan bahwa dakwah tidak berhenti pada ajakan, tetapi berlanjut pada pendampingan. Tidak hanya mengajak orang memasuki Islam, tetapi juga memastikan mereka dapat bertahan, tumbuh, dan berdaya dalam kehidupan yang baru.

