March 16, 2026
JL. SULTAN ALAUDDIN NO. 259, Kec. Rappocini, Gunung Sari, Kota Makassar, 90221
BERITA UTAMA

Salat Lail dan Sahur Bersama, Sivitas Akademika Unismuh Makassar Hidupkan Malam Ramadhan

UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Menjelang penghujung Ramadhan, sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Makassar memilih menjemput malam dengan ibadah. Melalui kegiatan Salat Lail dan Sahur Bersama Sivitas Akademika Unismuh Makassar, Senin dini hari, 16 Maret 2026, Di Masjid Subulussalam Al Khoory menjadi ruang pertemuan spiritual bagi pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, karyawan, dan mahasiswa untuk memburu keberkahan malam-malam terakhir Ramadhan.

Kegiatan yang dimulai pukul 01.00 Wita itu berlangsung dalam susunan yang tertib dan khusyuk. Rangkaian acara diawali dengan tadarus Al Quran dan salat lail berjamaah, dilanjutkan sahur bersama, kemudian sambutan rektor dan tausiah menjelang fajar, lalu ditutup dengan salat subuh berjamaah.

Forum dini hari itu menghadirkan suasana yang berbeda dari keseharian kampus. Di tengah ritme akademik yang padat, masjid kampus menjadi titik temu yang mempersatukan seluruh unsur universitas dalam ibadah, perenungan, dan kebersamaan. Ramadhan, dalam konteks ini, tidak hanya dijalani sebagai ritual personal, tetapi juga sebagai pengalaman kolektif yang menguatkan ikatan spiritual antarwarga kampus.

Setelah salat lail dan sahur bersama, Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, Dr. Ir. H. Abd Rakhim Nanda, ST, MT, IPU, menyampaikan sambutan singkat sebelum salat subuh dilaksanakan. Dengan gaya yang ringan, ia langsung mengarahkan perhatian jamaah kepada inti kegiatan, yakni mendengarkan tausiah.

“Karena ini adalah sambutan, maka saya menyambutnya dengan baik, untuk waktu yang lebih baik kita persilahkan untuk mendengar tausiah dari Ustads,” ujarnya.

Sambutan yang ringkas itu menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak dimaksudkan sebagai seremoni yang berpanjang-panjang. Menjelang subuh, ketika jamaah telah melewati salat malam dan sahur bersama, forum diarahkan untuk menjadi ruang penguatan makna dan pendalaman pesan-pesan keagamaan.

Tausiah kemudian disampaikan oleh KH Lukman Abd Shamad, Lc, M.Pd, Mudir Ma’had Al Birr Unismuh Makassar. Dalam ceramahnya, ia mengajak jamaah menjadikan malam-malam terakhir Ramadhan sebagai momentum memburu kemenangan sejati, yakni keselamatan dari api neraka dan anugerah surga.

“Malam ini kita bisa hadir bersama di tempat yang mulia dan penuh berkah ini dalam rangka mencari Laylatul Qadr. Mudah-mudahan kita mendapatkan malam ini Laylatul Qadr,” katanya.

Menurut Lukman, setiap orang beriman tentu mendambakan kemenangan. Namun, kemenangan yang sesungguhnya bukanlah kemenangan lahiriah yang diukur dari materi, penghargaan, atau pengakuan sosial. Ia menegaskan, kemenangan hakiki adalah ketika manusia diselamatkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga.

“Kemenangan sejati itu adalah meraih surga. Maka meraih surga itu merupakan puncak kemenangan, yang tentu tidak ada tandingannya dengan kemenangan duniawi,” ujarnya.

Pesan tersebut menjadi inti refleksi malam itu. Di tengah kehidupan yang sering menempatkan capaian duniawi sebagai ukuran utama keberhasilan, jamaah diajak menata kembali orientasi hidup. Ramadhan dipahami sebagai masa latihan rohani untuk menguatkan takwa, menahan diri, dan mengarahkan seluruh ikhtiar kepada tujuan yang lebih abadi.

Lukman juga menekankan bahwa jalan menuju kemenangan sejati menuntut perjuangan. Menahan lapar dan haus, melawan kantuk, berdiri lama dalam salat malam, serta bertahan dalam rasa letih, menurut dia, merupakan bagian dari mujahadah seorang hamba dalam mengejar ridha Allah.

“Kenapa kita siap berdiri lama, tidak tidur, dan lain-lain sebagainya? Karena kita ingin meraih kemenangan yang sejati,” katanya.

Ia menggambarkan surga sebagai tempat kenikmatan yang tidak lagi menyisakan kelelahan, kegelisahan, dan kesedihan. Gambaran itu disampaikan untuk meneguhkan jamaah agar tetap sabar dan istiqamah dalam ibadah, terutama ketika Ramadhan telah memasuki hari-hari terakhir.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa semakin dekat dengan akhir Ramadhan, semakin besar pula tuntutan untuk bersungguh-sungguh. Perpisahan dengan bulan suci bukan alasan untuk mengendur, tetapi momentum untuk memastikan bahwa seseorang keluar dari Ramadhan sebagai pribadi yang lebih bertakwa.

“Kita berharap karena tinggal beberapa hari lagi kita akan berpisah dengan bulan Ramadhan, semoga kita termasuk pemenang sejati,” ujarnya.

Setelah sambutan dan tausiah selesai, jamaah kemudian menunaikan salat subuh berjamaah. Rangkaian itu membentuk alur ibadah yang utuh: dimulai dari salat lail, dihangatkan oleh sahur bersama, diperkaya dengan nasihat menjelang fajar, lalu ditutup dengan salat subuh dalam suasana khusyuk.

Kegiatan Salat Lail dan Sahur Bersama Sivitas Akademika Unismuh Makassar sekaligus menegaskan peran masjid kampus bukan hanya sebagai tempat ibadah formal, tetapi juga sebagai pusat pembinaan spiritual dan penguatan ukhuwah. Di sana, kehidupan akademik bertemu dengan nilai-nilai keislaman, dan kebersamaan antarsivitas diperkuat dalam suasana Ramadhan yang teduh.

Pada akhirnya, yang tertinggal dari kegiatan itu bukan hanya kebersamaan saat sahur atau keheningan menjelang subuh, melainkan pengingat bahwa kemenangan sejati tidak selalu hadir dalam gemerlap dunia. Ia tumbuh dalam ibadah yang tekun, dalam letih yang dijalani dengan ikhlas, dan dalam harapan untuk pulang kepada Allah dengan hati yang lebih bersih.