February 16, 2026
JL. SULTAN ALAUDDIN NO. 259, Kec. Rappocini, Gunung Sari, Kota Makassar, 90221
BERITA UTAMA

Bekerja Paruh Waktu dan Aktif Berorganisasi, Tak Halangi Sapna Salsabila Jadi Lulusan Terbaik Wisuda 87 Unismuh Makassar

UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Senin pagi, 16 Februari 2026, Balai Sidang Muktamar Kampus Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar dipenuhi toga dan senyum lega. Di antara ratusan wajah yang menuntaskan satu bab penting hidupnya, ada satu nama, Sapna Salsabila. Tepuk tangan terdengar lebih panjang ketika ia dinyatakan sebagai lulusan terbaik tingkat universitas pada Wisuda ke-87 Unismuh Makassar.

Sapna datang dari tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Dusun Tanjung Sari, Desa Mekar Sari, Kecamatan Kalaena, Kabupaten Luwu Timur. Ia lahir pada 16 Februari 2004. Bulan kelahiran itu seakan memberi garis bawah pada hari wisudanya, sebuah perayaan yang tidak hanya menandai kelulusan, tetapi juga penebusan peluh keluarga. Dalam 3,5 tahun, Sapna menutup masa kuliahnya dengan IPK 3,99.

“Ada rasa syukur yang besar. Terima kasih kepada Allah SWT, kepada kedua orang tua, para dosen, serta teman-teman seperjuangan,” tutur Sapna, suaranya sempat bergetar ketika mengenang perjalanan panjang yang terasa singkat itu.

Di kampung, keluarganya hidup sederhana. Ayahnya petani. Ibunya mengurus rumah. Di situlah cerita Sapna menjadi lebih dari sekadar angka nyaris sempurna di transkrip akademik. Ia menjadi sarjana pertama dalam keluarganya—sebuah peristiwa yang bagi sebagian keluarga di pelosok, setara dengan membuka pintu baru yang sebelumnya hanya dipandang dari jauh.

“Pencapaian ini bukan semata hasil usaha pribadi, tetapi buah dari doa orang tua, bimbingan dosen, serta dukungan teman-teman,” ujarnya. “Alhamdulillah, saya bisa membanggakan kedua orang tua.”

Merantau, Bekerja, dan Belajar Menjadi Berani

Sapna merantau ke Makassar pada 2022. Bagi anak muda yang tumbuh di lingkungan desa, kota bukan hanya soal gedung tinggi dan jadwal kuliah, tetapi juga soal adaptasi: cara bertahan, cara bergaul, dan cara mengelola rindu.

Pada masa-masa awal perkuliahan di Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unismuh, ia pernah mengambil kerja paruh waktu. Sehari-hari ia membagi energi untuk kuliah, organisasi, dan pekerjaan. Namun ia menjaga satu disiplin: apa pun yang terjadi, kelas tetap prioritas.

“Walaupun kita aktif berorganisasi atau bekerja paruh waktu, kita harus tetap fokus. Karena tujuan awalnya memang menuntut ilmu,” kata Sapna.

Predikat lulusan terbaik, pengakuannya, tidak pernah ada dalam daftar rencana. Ia merasa dirinya dulu pendiam dan cenderung introvert. Perubahan datang pelan-pelan, melalui pengalaman yang memaksanya belajar bicara, berdiskusi, berdebat, juga menerima kritik.

“Awalnya nggak pernah menyangka bisa berada di posisi ini. Saya dulu orangnya pendiam, sangat introvert. Tapi setelah mengikuti berbagai kegiatan dalam kampus, saya mengembangkan diri,” ujarnya.

Organisasi sebagai “Keluarga Tak Sedarah”

Di kampus, Sapna dikenal aktif di organisasi kemahasiswaan. Ia terlibat dalam Pikom IMM FEB Unismuh, HMJ-Manajemen, serta KSPM GI BEI Unismuh. Ia pernah mengemban amanah sebagai Ketua Bidang Riset dan Teknologi di IMM, Sekretaris Bidang Keilmuan di HMJ, dan aktif di Divisi Edukasi dan Analisis pada KSPM.

Bagi Sapna, organisasi bukan sekadar rapat dan program kerja. Di perantauan, itu menjadi tempat ia menemukan dukungan yang tak didapat dari rumah.

“Dengan aktif di organisasi, saya memiliki banyak keluarga, banyak saudara,” katanya. Ia menyebutnya sebagai “keluarga tak sedarah” yang membentuk karakter: belajar bekerja dalam tim, menata emosi, mengatur waktu, dan berani tampil.

Di ruang-ruang diskusi itu, ia mulai menorehkan prestasi. Ia meraih Juara 1 Lomba Esai Gebyar Literasi Mahasiswa se-Sulawesi Selatan, menjadi peserta lomba CODE kategori mahasiswa oleh Universitas Brawijaya, dan mengikuti kompetisi lain—dari cerpen, puisi, hingga Stocklab Festival Pasar Modal. Ia pun rutin mengikuti seminar dan webinar nasional maupun internasional, termasuk program International Community Service bertema pasar modal syariah.

Di bidang akademik, Sapna menulis artikel ilmiah berjudul Market Reaction Differentiation to Share Buyback Announcement in Terms of Market Capitalization, yang direncanakan terbit pada Juni 2026 di Equity: Jurnal Ekonomi. Tema itu selaras dengan minatnya: investasi dan manajemen keuangan.

Proses Lebih Penting daripada Hasil

Sapna tidak romantik dalam bercerita. Ia menyebut ada fase lelah, gagal, dan ingin berhenti—hal-hal yang sering tidak muncul dalam foto kelulusan. Tetapi bagi dia, justru itu yang menyusun inti perjalanan.

“Kesan yang saya rasakan, proses jauh lebih penting daripada hasil. Justru dari tantangan itulah saya belajar tentang disiplin dan konsistensi,” ujarnya.

Kalimat itu pula yang ia wariskan sebagai pesan bagi mahasiswa lain: jangan menunggu sempurna untuk bergerak. Berani mencoba, berani salah, lalu memperbaiki.

“Prestasi bukan hanya milik mereka yang paling pintar, tetapi milik mereka yang paling tekun dalam berproses,” ucap Sapna.

Kini, dengan bekal pengalaman organisasi, kemampuan komunikasi, dan pemahaman investasi, ia menyatakan siap melangkah ke dunia profesional. Namun jika ada satu hal yang paling ingin ia bawa pulang ke kampung, itu bukan sekadar predikat lulusan terbaik. Melainkan keyakinan sederhana: keterbatasan ekonomi tidak pernah otomatis berarti keterbatasan cita-cita.

Pada wisuda yang sama, Unismuh Makassar juga menetapkan Wisudawan Terbaik II dan III tingkat universitas, masing-masing Hasna Tuo (Fakultas Agama Islam) dan Nurmisba (Fakultas Teknik). Ketiganya disebut akan disiapkan beasiswa lanjut studi magister dan setelah menyelesaikan studi, diproyeksikan menjadi dosen di Unismuh Makassar.

Wisudawan Terbaik Tingkat Fakultas


Unismuh juga mengumumkan lulusan terbaik di tingkat fakultas, antara lain: Muhammad Taufik (FISIP), Sapna Salsabila (FEB), Hanna Tuo (FAI), Firdayanti Nurdin (FIKK), Rilian Cahya Mutmainnah (Pertanian), Nurmisba (Teknik), Fissilmitul Wahda (FKIP), dan Muhiddin (Pascasarjana).

Baca juga: Koordinator Kopertais VIII Ajak Lulusan Unismuh Makassar Jadi Sarjana Penakluk

Di akhir acara, panggung wisuda kembali menjadi panggung keluarga: pelukan, foto, dan ucapan syukur. Sapna berdiri di sana bukan sebagai “anak petani” yang kebetulan beruntung, melainkan sebagai anak muda yang menyusun keberhasilannya dengan disiplin, keberanian, dan kesetiaan pada proses.