September 23, 2026
JL. SULTAN ALAUDDIN NO. 259, Kec. Rappocini, Gunung Sari, Kota Makassar, 90221
Berita Utama

Unismuh Makassar Jajaki Kembali Kolaborasi dengan Australian Volunteers Program

UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menjajaki kembali kerja sama dengan Australian Volunteers Program (AVP), setelah kedua lembaga pernah berkolaborasi dalam penguatan kapasitas akademik sekitar satu dekade lalu.

Penjajakan itu dibahas dalam Australian Volunteers Program Info Session yang digelar secara daring, Kamis, 17 September 2026. Pertemuan tersebut membuka kembali komunikasi kedua pihak sekaligus memetakan bentuk kerja sama yang dinilai relevan dengan kebutuhan Unismuh saat ini.

Dari AVP hadir antara lain Country Program Manager Indonesia Karina Kardansjah, Recruitment Officer Tina Sindukusumo, serta tim Australian Volunteers Program Indonesia.

Unismuh Makassar diwakili Ketua Divisi Kerja Sama, Pusat Studi, dan Inkubasi Bisnis Lembaga Penelitian, Pengembangan, dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) Dr Wildhan Burhanuddin bersama tim.

Pertemuan membahas kemungkinan penempatan tenaga sukarelawan dengan keahlian tertentu untuk mendukung penguatan kapasitas universitas. Bidang yang dipertimbangkan antara lain penelitian dan publikasi internasional, kemampuan bahasa Inggris dan komunikasi profesional, internasionalisasi perguruan tinggi, pengabdian dan pemberdayaan masyarakat, serta kewirausahaan dan inkubasi bisnis.

Hubungan Unismuh dengan Australian Volunteers bukanlah hal baru. Sejak sekitar 2015, sejumlah sukarelawan asal Australia pernah terlibat dalam berbagai kegiatan pengembangan kapasitas di kampus tersebut.

Mereka antara lain Daniel Hookins, Prof Anna Johannes Campbell dari University of Canberra, serta Dr Evan Doran. Kehadiran para sukarelawan kala itu dimanfaatkan untuk berbagi pengetahuan, pendampingan akademik, dan penguatan kapasitas sivitas akademika.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan Unismuh kembali membuka komunikasi dengan AVP. Namun, pola kerja sama yang akan dikembangkan kali ini diarahkan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan institusi yang telah berubah.

Penugasan Lebih Fleksibel

Dalam pertemuan itu, AVP menjelaskan bahwa penugasan sukarelawan dapat dilakukan melalui tiga pola, yakni secara daring (remote volunteering), langsung di negara mitra (in-country volunteering), maupun gabungan keduanya (hybrid volunteering).

Pada skema daring, sukarelawan tetap berada di Australia dan bekerja dengan organisasi mitra melalui platform digital selama satu hingga enam bulan. Adapun pada skema in-country, sukarelawan dapat berada langsung di Indonesia selama sekitar enam bulan.

Skema hibrida memungkinkan kegiatan dilakukan secara daring sekaligus melalui penugasan langsung, dengan durasi keseluruhan hingga 12 bulan.

Fleksibilitas tersebut dinilai memberi ruang bagi Unismuh untuk merancang penugasan sesuai kebutuhan.

Jika sukarelawan nantinya ditempatkan langsung di Makassar, LP3M direncanakan menjadi pusat koordinasi. Meski berkantor di LP3M, cakupan kerja mereka tidak dibatasi pada lembaga tersebut.

Sukarelawan dapat bekerja bersama fakultas, program studi, pusat studi, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, maupun mitra masyarakat sesuai bidang keahlian dan program yang disepakati.

Dengan pola itu, LP3M diharapkan berfungsi sebagai simpul koordinasi sehingga keahlian sukarelawan dapat dimanfaatkan oleh lebih banyak unit di lingkungan universitas.

Menekankan Transfer Pengetahuan

Ketua LP3M Unismuh Makassar Dr Muh Arief Muhsin, M.Pd., menyatakan kerja sama dengan AVP perlu dirancang berdasarkan kebutuhan nyata universitas. Menurut dia, ukuran keberhasilan kolaborasi bukan semata jumlah kegiatan yang terlaksana, melainkan kemampuan program menghasilkan penguatan kapasitas yang berkelanjutan.

“Kami menyambut baik peluang untuk kembali membangun kemitraan dengan Australian Volunteers Program. Bagi kami, yang terpenting adalah bagaimana kolaborasi ini benar-benar berangkat dari kebutuhan Unismuh dan memberikan penguatan kapasitas yang dapat dirasakan oleh dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, maupun masyarakat yang menjadi mitra universitas,” ujarnya.

Arief mengatakan, LP3M dapat menjadi tempat berkantor sekaligus pusat koordinasi bagi sukarelawan. Namun, akses terhadap keahlian yang dimiliki sukarelawan harus dibuka untuk berbagai unit yang membutuhkan.

“Volunteer nantinya dapat berkantor di LP3M, tetapi ruang kolaborasinya tentu tidak hanya di LP3M. Kita ingin keahlian yang dimiliki dapat diakses dan dimanfaatkan oleh fakultas maupun unit-unit terkait sesuai kebutuhan,” katanya.

Menurut Arief, ruang kolaborasi dapat dikembangkan mulai dari peningkatan kualitas penelitian dan publikasi internasional, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, internasionalisasi, inovasi dan kewirausahaan, hingga pemberdayaan masyarakat.

Hal yang lebih penting, kata dia, adalah memastikan terjadi proses alih pengetahuan selama program berlangsung.

“Kita berharap kehadiran volunteer nantinya bukan sekadar menjalankan satu kegiatan. Harus ada proses berbagi pengetahuan, mentoring, dan transfer kapasitas sehingga setelah program selesai, pengetahuan dan pengalaman tersebut tetap dapat dilanjutkan oleh sumber daya manusia di Unismuh,” ujarnya.

Memetakan Kebutuhan

Pertemuan tersebut belum menghasilkan bentuk kerja sama final. Kedua pihak masih akan melanjutkan komunikasi untuk menentukan model kemitraan, bidang prioritas, dan jenis keahlian yang dibutuhkan.

Unismuh selanjutnya akan memetakan kebutuhan institusi dengan melibatkan pimpinan LP3M dan sejumlah unit terkait.

Pemetaan itu diperlukan agar penempatan sukarelawan tidak bersifat umum, tetapi diarahkan pada kebutuhan yang spesifik. Selain bidang prioritas, universitas juga akan mengidentifikasi kelompok penerima manfaat dan kompetensi yang paling dibutuhkan.

Langkah tersebut diharapkan membuat program tidak berhenti pada aktivitas jangka pendek, tetapi menghasilkan transfer pengetahuan dan peningkatan kapasitas yang dapat diteruskan setelah masa penugasan sukarelawan berakhir.

Penjajakan dengan Australian Volunteers Program juga menjadi bagian dari upaya Unismuh Makassar memperluas jejaring internasional. Kerja sama diarahkan tidak hanya pada mobilitas atau pelaksanaan kegiatan bersama, tetapi juga pada penguatan institusi, pengembangan sumber daya manusia, dan dampak yang dapat dirasakan sivitas akademika serta masyarakat mitra.