UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar mengukuhkan 692 wisudawan pada Wisuda ke-87 di Balai Sidang Muktamar Kampus Unismuh, Senin, 16 Februari 2026. Di hadapan para lulusan dan orang tua, Koordinator Kopertais Wilayah VIII Prof Hamdan Juhannis Ph.D. menaruh satu penekanan yang terus ia ulang: jadilah sang penakluk, bukan yang takluk.
“Jadilah sarjana penakluk, bukan sarjana takluk,” kata Hamdan. Ia menjelaskan maknanya secara lugas: sarjana takluk ialah mereka yang setelah wisuda masih menggantungkan hidup pada subsidi keluarga. Sebaliknya, sarjana penakluk adalah mereka yang berani memikul kemandirian, mengolah capaian kuliah menjadi bekal menghadapi realitas, dan menaklukkan tantangan setelah kampus.
Di sela sambutan, Hamdan bahkan mengajak para wisudawan menjawab pertanyaan yang memantik tawa sekaligus renungan: apakah siap “dihentikan subsidinya”. Ia juga “mengetuk” para orang tua di balkon agar berani melepas anak-anak mereka menuju hidup mandiri. “Setelah kalian mendapatkan kesarjanaannya hari ini, maka siap-sedialah untuk dihentikan subsidinya,” ujarnya.
Baca Juga : PWM Sulsel Apresiasi Kemajuan Unismuh Makassar di Wisuda ke-87
Hamdan menekankan, para lulusan kini sudah masuk ke arus kaum terdidik. Karena itu, mereka dituntut bukan hanya mencari pekerjaan, tetapi juga menata kehidupan dengan ilmu, pengalaman, dan keterampilan yang diperoleh selama kuliah. “Taklukkanlah tantangan-tantangan yang ada di depan kalian,” katanya.
Dua bekal: Albatros dan Layang-layang
Untuk menjelaskan bagaimana menjadi “penakluk”, Hamdan menitipkan dua filosofi yang ia sebut sederhana, tetapi relevan bagi era disrupsi.
Pertama, filosofi burung albatros—burung yang sanggup terbang jauh dan tetap waspada. Hamdan menggambarkan albatros dapat “beristirahat” tanpa kehilangan kewaspadaan: sebagian otaknya tetap bekerja untuk mengintai. Pesannya jelas: lulusan tidak boleh “tidur pulas”, sebab perubahan bergerak lebih cepat daripada kesiapan. “Di era disrupsi ini, kita tidur lelap, keesokan harinya dunia sudah berubah,” katanya.
Kedua, filosofi layang-layang. Hamdan menekankan bahwa layang-layang dapat terbang tinggi justru karena ikatan. “Ikatanlah yang membuatnya terbang tinggi. Lepas dari ikatan, artinya jatuh,” ujarnya. Ia meminta para lulusan tidak memutus hubungan dengan almamater dan Persyarikatan Muhammadiyah. Baginya, menjaga ikatan berarti menjaga arah, nilai, dan jejaring yang menopang perjalanan setelah lulus.
Dari layang-layang pula Hamdan menarik pelajaran ketiga: tantangan adalah tenaga pendorong. Layang-layang, katanya, bisa naik karena diterjang angin. Artinya, kesulitan dapat dikonversi menjadi peluang, dan rintangan bisa menjadi daya ungkit untuk terbang lebih tinggi. “Tantanganlah yang menaikkan layang-layang itu ke atas,” tegasnya.
Proses, bukan Sekadar Hasil
Di bagian penutup, Hamdan mengingatkan lulusan agar tidak terjebak pada hasil semata. Ia menekankan pentingnya proses sebagai ujian kehidupan setelah pendidikan formal. Ia menyebut proses sebagai medan yang membentuk karakter, daya tahan, dan ketangguhan. “Proses lebih penting daripada produk,” ujarnya.
Sambutan itu ditutup dengan ajakan yang dibuat seperti yel-yel: ketika ia menyerukan “sarjana penakluk”, para wisudawan diminta menjawab “proses, proses, proses”. Bagi Hamdan, kalimat itu bukan sekadar penutup meriah, melainkan pesan agar lulusan siap menapaki kehidupan nyata: mandiri, tetap terhubung pada nilai dan almamater, serta menjadikan tantangan sebagai jalan naik—bukan alasan menyerah.

