UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Lomba Business Plan dalam rangkaian Olympiade Ahmad Dahlan (OlympiCAD) VIII menjadi ruang pembelajaran alternatif bagi pelajar SMA untuk mengasah kemampuan presentasi, kerja tim, dan kepercayaan diri. Kegiatan ini diikuti 54 peserta tingkat SMA dari berbagai daerah dan dirancang sebagai kompetisi edukatif berbasis presentasi serta pemecahan masalah. Lomba berlangsung di Universitas Muhammadiyah Makassar, Kamis, 13 Februari 2026.
Sebagai salah satu cabang yang dipertandingkan dalam OlympiCAD VIII, lomba Business Plan mengedepankan pendekatan partisipatif yang menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran aktif. Peserta ditantang menyusun gagasan usaha, mengolah ide secara sistematis, serta mempresentasikannya di hadapan dewan juri.
Salah satu peserta, Yumna Syahira Mulyani, siswa SMAS Muhammadiyah Boarding School Zam-Zam, Jawa Tengah, mengatakan keikutsertaannya dalam lomba ini berangkat dari minat pada bidang presentasi dan interpretasi materi. Ia menilai ajang Business Plan di OlympiCAD VIII memberi ruang untuk mengeksplorasi potensi diri yang sebelumnya tidak ia sadari.
“Sebenarnya saya tidak mengerti kalau misalkan saya memang bisa di public speaking. Ternyata ketika saya coba, alhamdulillah mampu,” kata Yumna.
Menurut Yumna, tantangan utama selama mengikuti lomba terletak pada pendalaman materi dan keberanian menyampaikan gagasan di depan umum. Ia menilai kompetisi dalam OlympiCAD VIII menuntut kesiapan mental sekaligus penguasaan substansi yang lebih serius dibandingkan pembelajaran rutin di kelas. Pengalaman tersebut menjadi salah satu momen paling berkesan baginya selama mengikuti ajang nasional ini.
Yumna menjelaskan bahwa lomba Business Plan dalam OlympiCAD VIII turut mengubah cara belajarnya. Jika sebelumnya belajar dilakukan secara umum dan permukaan, kompetisi ini mendorongnya untuk mempelajari materi secara lebih mendalam dari berbagai sudut pandang. Ia juga menyadari pentingnya melatih kemampuan berbicara di depan publik sebagai bagian dari proses belajar yang utuh.
Selain keterampilan public speaking, nilai lain yang ia peroleh adalah kekompakan tim dan solidaritas antarpeserta. Proses belajar dilakukan secara kolektif, saling memberi masukan, dan berlatih presentasi bersama. “Kita belajar bareng, kita belajar bersama-sama,” ujarnya.
Ia menilai pola pembelajaran dalam lomba OlympiCAD VIII berbeda dengan pembelajaran formal di sekolah. Dalam kompetisi ini, peserta dituntut lebih mandiri, aktif berdiskusi, dan berinisiatif mengembangkan ide. Pendampingan tetap ada, namun siswa diberi ruang luas untuk mengeksplorasi kemampuan masing-masing.
Pengalaman mengikuti lomba Business Plan di OlympiCAD VIII juga dinilai relevan dengan rencana akademik dan kompetisi yang akan ia ikuti ke depan. Sebelumnya, Yumna pernah mengikuti lomba business plan serta poster berbahasa Arab dan Inggris. Menurut dia, ajang ini membantu membangun rasa percaya diri dan kesiapan menghadapi kompetisi serupa di tingkat yang lebih tinggi.
Ia menambahkan, keterlibatan dalam OlympiCAD VIII menumbuhkan motivasi belajar yang lebih kuat. Proses berusaha, berlatih, dan tampil di depan umum menjadi pengalaman berharga yang membentuk sikap pantang menyerah. Ia meyakini hasil yang diperoleh merupakan bagian dari proses ikhtiar yang dijalani secara sungguh-sungguh.
Baca Juga : Jemari Kreatif di OlympicAD VIII Makassar: Menenun Masa Depan Fashion Muslim Melalui ‘Ready to Wear
Penyelenggara OlympiCAD VIII menargetkan lomba Business Plan sebagai sarana pembelajaran kontekstual bagi siswa SMA. Melalui kompetisi ini, peserta didorong mengembangkan kemampuan komunikasi, berpikir kritis, dan kolaborasi—keterampilan yang dibutuhkan dalam pendidikan lanjutan maupun kehidupan sosial.
Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat menjangkau lebih banyak peserta dan sekolah. Dengan melibatkan 54 pelajar SMA pada pelaksanaan kali ini, lomba Business Plan dalam OlympiCAD VIII dinilai menjadi langkah awal memperluas model pembelajaran kompetitif yang edukatif dan berorientasi pada penguatan karakter siswa.

