January 8, 2026
JL. SULTAN ALAUDDIN NO. 259, Kec. Rappocini, Gunung Sari, Kota Makassar, 90221
BERITA UTAMA

Tingkatkan Kapasitas Peneliti, FISIP Unismuh Gelar Sharing Session Hilirisasi Riset

UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar (FISIP Unismuh) menggelar sharing session bertajuk “Hilirisasi Riset Risbang Kemdiktisaintek Tahun 2026” untuk memperkuat kapasitas dosen dan peneliti dalam menyusun proposal hilirisasi. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom, Rabu (7/1/2026), menghadirkan Dr. Arif Rahman Saleh, S.T., M.T. (Universitas Tidar, Magelang) sebagai narasumber.

Puluhan peserta mengikuti kegiatan ini, tidak hanya dari internal FISIP dan Unismuh Makassar, tetapi juga dari sejumlah perguruan tinggi negeri dan swasta di berbagai daerah, antara lain Makassar, Bandung, Samarinda, Kendari, dan Pekanbaru. Kegiatan digelar karena penerimaan proposal untuk sejumlah skema, khususnya Luaran Prototipe dan Hiliriset, masih terbuka melalui aplikasi BIMA dan platform Hiliriset Kemdiktisaintek.

Dekan FISIP Unismuh, Dr. Andi Luhur Prianto, mengatakan sharing session ini menjadi ikhtiar institusi untuk memperluas akses dosen terhadap sumber pembiayaan riset sekaligus meningkatkan kualitas pengusulan. “Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas dosen dan peneliti dalam mengakses sumber-sumber pembiayaan penelitian, khususnya skema hilirisasi yang masih menerima proposal. Kami berharap dari tahun ke tahun ada peningkatan jumlah dan kualitas riset dosen FISIP Unismuh,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Arif menekankan bahwa hilirisasi riset tidak berhenti pada pengembangan konsep. Menurut dia, proposal perlu menunjukkan kesiapan model yang tervalidasi dan relevan dengan kebutuhan pengguna. “Semua model itu harus sudah tervalidasi, baik dari sisi metodologi maupun kesesuaiannya dengan lingkungan. Model yang diusulkan tidak harus berbasis populasi besar, tetapi jelas manfaat dan konteks penerapannya,” kata Arif.

Ia juga menggarisbawahi pentingnya Technology Readiness Level (TKT) sebagai indikator penilaian. Skema hilirisasi, kata dia, mensyaratkan riset telah mencapai tingkat kesiapterapan tertentu agar layak diimplementasikan. “Pembeda paling jelas itu ada di level TKT. Minimal TKT 4, artinya riset sudah siap diuji dalam lingkungan yang lebih nyata dan bukan lagi sekadar konsep,” ujarnya.

Selain kesiapan teknologi, Arif menyebut kemitraan menjadi faktor penting agar hilirisasi berjalan berkelanjutan. Mitra, menurut dia, dapat berasal dari beragam pihak selama memiliki relevansi sebagai pengguna dan legalitas yang jelas. Ia juga mengingatkan peneliti agar tidak terjebak pada aspek “kecanggihan” semata. “Jangan terlalu fokus pada teknologinya. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi itu diterapkan dan memberi nilai bagi pengguna,” kata Arif.

Sesi berlangsung interaktif. Peserta mengajukan pertanyaan mengenai dokumen pendukung, kesesuaian template, mekanisme pengajuan melalui BIMA, hingga peluang memanfaatkan hasil riset terdahulu sebagai dasar usulan hilirisasi. Menanggapi hal itu, Arif menegaskan setiap anggota tim wajib memiliki akun aktif di BIMA dan memenuhi persyaratan eligibilitas sebelum pengajuan. Ia juga mengingatkan bahwa satu judul riset tidak dapat diajukan bersamaan pada skema hilirisasi dan skema penelitian lain.

Arif turut menjelaskan bahwa pendanaan hilirisasi dapat memadukan skema in-cash dan in-kind, yang membuka ruang kolaborasi lebih luas dengan mitra. Kegiatan ini terselenggara atas dukungan LP3M Unismuh Makassar.

FISIP Unismuh yang menaungi Program Studi Ilmu Administrasi Negara, Ilmu Pemerintahan, Ilmu Komunikasi, dan Psikologi, terus memperluas jejaring kolaborasi riset. Setelah pada 2025 membangun jejaring dengan Universitat Bremen, Jerman, FISIP Unismuh menargetkan kemitraan riset dengan University of Zagreb, Kroasia, pada 2026, antara lain untuk tema migrasi dan pembangunan kota berkelanjutan.