Opini
Oleh : Amir Muhiddin

Dosen Ilmu Pemerintahan
Fisip Unismuh

Pengikut teori evolusi Darwin sangat yakin bahwa hanya organisme yang bisa beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang bisa bertahan hidup dan survive, itu artinya mahluk hidup yang tidak bisa beradaptasi akan mengalami kesulitan, resisten, bahkan bisa menjadi punah, disruption atau tercabut dari akarnya.

Manusia adalah salah satu mahluk hidup yang paling tinggi kemampuan adaptifnya, bukan disebabkan karena bentuk tubuhnya, kekuatan tulang belulangnya dan sebagainya, akan tetapi karena manusia memiliki tiga komponen yang terletak di tiga tempat dalam tubuh manusia yaitu di kepala (head), di hati (heart) dan di tangan (hand).

Di kepalanya ada otak yang dipakai untuk berpikir, dihatinya ada rasa yang bisa mengendalikan dan ditangannya ada kekuatan yang bisa digunakan berkarya, berkreasi dan berinovasi.

Berpikir, merasakan dan berkarya, inilah terakumulasi menjadi cipta, rasa dan karsa yang kemudian disebut oleh para ahli sebagai potensi-potensi manusia yang bisa melahirkan kebudayaan.

Potensi-potensi manusia di atas meskipun melekat pada diri setiap manusia, namun hanya bisa berkembang jika ia dilatih, diasah, terutama melalui lembaga pendidikan formal yang terencana dan sistimatis.

Semakin berkualitas pendidikan yang dijalani, maka semakin besar peluang potensi-potensi itu berkembang dan pada gilirannya akan melahirkan kebudayaan yang berkualitas pula.

Salah satu bentuk kebudayaan yang dilahirkan oleh manusia adalah ilmu pengetahuan dan teknologi, yang dipergunakan oleh manusia untuk menjalani kehidupannya, termasuk ketika menghadapi bahaya dan tantangan hidup seperti Wabah covid-19.

Bisakah manusia beradaptasi dan menyesuaikan diri di tengah lingkungan yang terdampak wabah yang telah merenggut kebebasan, kebahagiaan bahkan telah merenggut nyawa sampai ribuan dan jutaan?

Hingga saat ini sudah ada 2,34 Juta Pasien Positif di seluruh dunia, menyebar ke 181 dari sekitar 200 negara dan sudah merenggut 160 ribu jiwa meninggal.

Di Indonesia sebagaimana diumumkan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. Per Tanggal 19 April 2020 total jumlah kasus positif corona sudah mencapai angka 6.575 pasien dan jumlah korban meninggal bertambah 47 pasien sehingga total angka kematian menjadi 582 jiwa, sementara yang berhasil sembuh telah sebanyak 686 orang.

Hingga kini, kasus-kasus positif Covid-19 telah ditemukan di 250 kabupaten/kota yang tersebar di 34 provinsi.

Dan DKI Jakarta adalah peringkat pertama dengan jumlah kasus sebesar 3.032 dinyatakan sembuh 234 dan 287 orang dinyatakan meninggal.

Meski pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan, terakhir dengan melakukan PSBB terhadap beberapa daerah provinsi dan kabupaten kota, namun kelihatannya belum memperlihatkan tanda-tanda keberhasilan.

Sebagian masyarakat kita masih berkeliaran, berkumpul tanpa mengindahkan protokol kesehatan, tanpa mengindahkan physical dan social distancing , bahkan berinteraksi seperti biasa dan nyaris kelihatan tanpa beban.

Tapi tentu saja berbeda dengan beberapa kelompok masyarakat, bukannya tanpa beban, malah sangat berdampak akibat kebijakan pemerintah.

Pekerja di sektor informal dan industri rumahan, adalah salah satu sektor yang paling terpukul dengan kebijakan PSBB, apalagi dengan kelompok masyarakat yang jauh-jauh hari sebelum covid-19 memang sudah menganggur.

Fenomena ini tentu saja menyulitkan hidup dan kehidupan manusia, namun demikian kita tidak bisa berputus asa, harus semangat dan berkeyakinan bahwa badai pasti berlalu.

Para dokter dan tenaga medis berupaya sekuat tenaga di front terdepan melayani dan merawat pasien corona. Demikian juga perguruan tinggi, serta lembaga-lembaga riset terus melalukan penelitian dan eksperimen untuk menemukan vaksin anti virus.

Di sektor pemerintahan, kemanan dan ketertiban, demikian juga gerakan-gerakan civil society, semuanya aktif bahu membahu, mengeluarkan segenap potensi mereka untuk keluar dari kemelut virus corona.

Kemampuan beradaptasi.
Langkah-langkah pencegahan, pengobatan, penyembuhan Covid+19, semua dilakukan karena manusia mempunyai kemampuan beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang dihadapi.

Tentu saja mereka menggunakan potensinya untuk mencari jalan keluar, membuat alat, obat anti virus dan berbagai kebijakan pemerintah yang juga menggunakan potensi-potensi dimaksud di atas.

Ilmu pengetahuan dan teknologi yang lahir dari tiga potensi manusia merupakan sarana utama untuk beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan keadaan, dan tentu saja jika ini yang menimpah binatang dan tumbuhan maka pasti tidak akan mampu, kecuali melalui bantuan dan tangan-tangan manusia.

Kenapa binatang dan tumbuhan tidak bisa ?, karena dua mahluk ini tidak memiliki potensi cipta, rasa dan karsa. Itu sebabnya mengapa disebut oleh banyak ahli bahwa manusia adalah mahluk yang memiliki kemampuan adaptif yang tinggi, ya karena mereka punya akal, punya rasa dan punya kemauan untuk beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan alam dan lingkungannya.

Manusia memiliki tiga bentuk perilaku yaitu perilaku vegetatif seperti tumbuhan, punya perilaku animal seperti hewan dan terakhir adalah perilaku religi yang menjunjung tinggi keberadaan Tuhan dan meyakini bahwa hanya dialah yang menghidupkan dan mematikan manusia.

Oleh sebab itu, manusia religi seperti penduduk Indonesia memilki keyakinan bahwa virus corona ini akan bisa diatasi melalui pendekatan ilmiah berdasar pada potensi cipta, rasa dan karsa, meskipun mereka meyakini pula, bahwa itu semua hanya bisa berhasil jika mendapat rahmat dan ridha dari Allah SWT.

Dengan begitu kemampuan beradaptasi adalah potensi untuk bertahan dan tetap eksis, tetapi sebagai mahluk religi setiap ikhtiar harus dibarengi dengan doa.Mudah-mudahan kita semua tetap sehat dan dalam lindungan Allah SWT.

By admin

Leave a Reply